Bersantai di Deventer, Kota Berusia 1253 Tahun –

  • Whatsapp


Bacaan Lainnya



Post Views:
225

Penulis: Yuke Mayaratih

Kabarbelanda.com, Deventer – Anda penyuka jalan-jalan tapi tak terlalu suka hiruk pikuk kota? Mungkin anda perlu mampir ke kota Deventer, yang terletak di Belanda bagian timur. Selain suasananya tenang, kota berpenduduk sekitar 100 ribu jiwa ini dihiasi dengan gedung-gedung tua bersejarah. Maklum saja, kota ini sudah berusia 1253 tahun.

Suasana kota Deventer begitu tenang, sehingga memberi ruang bagi para wisatawan yang datang ke kota ini. Soalnya, di sekitar pusat kota, masih banyak bangunan dengan gaya arsitektur gohtic (gotik) yang masih berdiri kokoh.

Bangunan kuno tetap dipertahankan bentuk dan warnanya. Perubahan fungsi, seperti kafe atau toko, hanya boleh dilakukan di lantai dasar. (Yuke Mayaratih)

Dalam arsitektur, desain gotik banyak digunakan pada bangunan abad pertengahan. Gaya ini berevolusi dari arsitektur romans dan diteruskan oleh arsitektur renaisans. Salah satu bangunan yang menggunakan desain gotik adalah katedral.

Di Belanda, letak pusat perbelanjaan atau centrum biasanya tak jauh dari stasiun kereta api dan terminal bus. Begitu juga dengan Deventer. Di sini tak banyak terlihat orang berlalu lalang. Kota yang membentang sisi timur Sungai IJssel ini tidak pernah sibuk. Benar-benar kota yang santai.

Lanskap kota Deventer yang anggun dan cantik. (Yuke Mayaratih)

Toko-toko mulai buka pada pukul 10 pagi. Namun gedung perkantoran, supermarket, restoran, dan kedai kopi, mulai menggeliat setelah tengah hari, saat waktu menunjukkan pukul 2 siang waktu setempat.

Beberapa orang tampak melintas dengan sepeda. Sebagian lagi duduk santai sambil menyeruput kopi panas di teras kedai kopi atau restoran. Jika udara tidak terlalu dingin, orang-orang lebih suka duduk-duduk di udara terbuka.

De brink adalah sebutan untuk alun-alun yang dikelilingi restoran dan kedai kopi. Di situ terdapat patung Monumen Wilhelmina Fountain karya J.A. Mulock Hack. Monumen ini diresmikan pada 1898 untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina.

DCM Freddy Panggabean (kedua dari kiri) dan Atase Perdagangan Sabbat Sirait (kiri), saat berkunjung ke kota Deventer. (Yuke Mayaratih)

Masih di sekitar alun-alun, terdapat bangunan bergaya gothic De Waag, yang merupakan ikon kota Deventer. Bangunan yang didirikan pada 1528 ini memiliki tiga lantai, dua tangga di bagian luar bangunan, sebuah jam berukuran besar, dan tiga menara runcing. Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai penimbangan koin emas atau perak yang digunakan untuk alat pembayaran dalam transaksi dagang abad ke-16.

Tak jauh dari De Waag, terdapat gedung bekas pabrik kue yang dikenal dengan Deventer Koek. Resep kue beraroma kayu manis dan jahe ini konon sudah berusia 400 tahun. Sampai saat ini, Deventer Koek masih diproduksi dengan cita rasa yang sama, tapi tentu saja bentuk dan kemasannya dibuat lebih modern.

Kota Tertua di Belanda

Saat cuaca cerah, warga Deventer menghabiskan waktu dengan menikmati sinar matahari di tepi kanal besar atau IJssel. (Yuke Mayaratih)

Deventer adalah salah satu kota tertua di Belanda, selain Maastricht, Nijmegen, Utrecht, Zutphen, Aardenburg, dan kota-kota lainnya. Sekitar tahun 768, seorang misionaris dari Anglo-Saxon bernama Lebunuïnus melintasi sungai IJssel. Kemudian ia membangun gereja kayu pertama di pinggiran sungai. Tak lama kemudian, dibangun permukiman kecil untuk para uskup di sekitar gereja, tahun 895-920.

Sejak saat itu, Deventer semakin ramai dan berkembang menjadi pusat perdagangan. Deventer kemudian disahkan menjadi sebuah kota pada 956, ditandai dengan pembangunan sebuah basilika Romawi tahun 1040.

Dalam perkembangannya, Deventer kemudian tumbuh menjadi hanseatic city (kota perdagangan abad pertengahan) yang kuat. Apalagi sejak bergabung dengan Liga Hanseatic pada 1285.

Tempat favorit anak muda: tepian Sungai IJssel. Duduk-duduk di atas rumput sambil menikmati kanal, bermain dengan anak, atau bahkan asyik berpacaran. (Yuke Mayaratih)

Perkembangan industri dan modernisasi tidak menjadikan Deventer banyak berubah. Karakter abad pertengahan kota hanseatic di kota Deventer tetap terjaga dengan baik. Bangunan dengan arsitektur kuno tidak membuat Deventer kehilangan daya tarik atau membosankan. Justru setiap bangunan di sudut kota yang menyimpan sejarah inilah yang membuat para wisatawan mancanegara penasaran untuk menyambangi kota ini.

Kota Deventer seperti juga kota-kota di sekitarnya yang masuk dalam provinsi Overijsel adalah perpaduan alam dengan kota-kota bersejarah. Paling asyik jika kita menjelajahi kota Deventer dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Sungai IJssel yang melintasi Deventer berperan penting menjadi urat nadi perekonomian selama berabad-abad. Selain membawa kejayaan masa lalu hanseatic provinsi Overijsel, kota ini juga membentuk lanskap hijau dan cagar alam, yang menarik banyak wisatawan setiap tahunnya.

Editor: Tian Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *