BI Berlakukan Giro RIM/RIM Syariah Berjalan Dibawah 75% 1 Mei 2021

  • Whatsapp
BI Berlakukan Giro RIM/RIM Syariah Berjalan Dibawah 75% 1 Mei 2021


Suara-Pembaruan.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memutuskan untuk memberlakukan kembali secara bertahap disinsentif berupa penerapan kewajiban Giro Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM/RIM Syariah) mulai Mei 2021. Maka pemberlakuan Giro RIM/RIM Syariah akan mulai berjalan untuk bank dengan RIM/RIM Syariah di bawah 75 persen pada 1 Mei 2021.

Bacaan Lainnya

Hal ini dipaparkan oleh Perry Warjiyo dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Kamis, 18 Maret 2021. Pihaknya memastikan kebijakan ini diterapkan lagi untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan kepada dunia usaha.

“Tahun lalu kita tidak berlakukan karena kita mendorong pelonggaran likuiditas. Sekarang likuiditas terjaga, sudah saatnya bank ikut pemerintah, BI, OJK dan KSSK untuk mendorong kredit,” kata Perry.

Dengan adanya ketentuan ini, kata dia, maka pemberlakuan Giro RIM/RIM Syariah akan mulai berjalan untuk bank dengan RIM/RIM Syariah di bawah 75 persen pada 1 Mei 2021. Sementara itu, untuk bank dengan RIM/RIM Syariah di bawah 80 persen, kebijakan ini berlaku pada 1 September 2021 dan bank dengan RIM/RIM Syariah di bawah 84 persen berlaku sejak 1 Januari 2022.

Berdasarkan lampiran BI, disinsentif ini mencakup empat skema yaitu sebesar 0,15, bagi bank dengan rasio kredit bermasalah (NPL/NPF) bruto di bawah 5 persen dan Kewajiban Penyertaan Modal Minimum (KPMM) di atas 19 persen. Kemudian, sebesar 0,10, bagi bank dengan rasio NPL/NPF bruto di bawah 5 persen dan KPMM di atas 14 persen hingga sama dengan 19 persen.

Selanjutnya, sebesar 0,00, bagi bank dengan rasio NPL/NPF bruto di bawah 5 persen dan KPMM di bawah atau sama dengan 14 persen, serta bank dengan rasio NPL/NPF bruto di atas atau sama dengan 5 persen.

“Kebijakan ini tidak diberlakukan bagi bank-bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) di bawah 14 persen maupun NPL bruto di bawah 5 persen,” katanya.

Dalam kesempatan ini, BI juga memutuskan untuk memasukkan wesel ekspor sebagai komponen pembiayaan untuk mendorong kinerja ekspor dan mendukung pemulihan ekonomi dengan penghitungan RIM/RIM Syariah 84 persen-94 persen.

Di sis lain BI mengharapkan bank-bank bisa mempercepat lagi penurunan suku bunga kredit untuk mendorong pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional.

“Penurunan suku bunga kebijakan moneter dan longgarnya likuiditas mendorong suku bunga terus menurun, meski penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong,” katanya. (red/pen)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *