Catatan Atas Sahabat Christianto Wibiosono

  • Whatsapp


DIDIK J RACHBINI (Ekonom INDEF, Rektor Universitas Paramadina)

 

Bacaan Lainnya

1. Covid-19 tidak kenal ampun menyerang siapa saja. Yang sehat dan kuat  pada umumnya tahan menghadapi serbuan covid-19 ini. Tetapi yang  kebetulan pertahanan tubuhnya lemah, maka resikonya besar.

Resiko itu  kini ditanggung oleh sahabat senior saya, tokoh Angkatan 66, Christianto Wibisono (CW).

Tokoh senior ini tidak lagi mampu menghadapi pandemi,  yang sekarang menjadi masalah bersama bangsa ini dan bangsa-bagnsa lainnya di dunia. Satu per satu gugur, termasuk sahabat Chritianto
Wibisono.

2. Christianto Wibisono adalah ahli ekonomi politik, yang sangat rajin menulis  buku dan dan cukup kritis menuangkantulisan berbagai artikel di media massa.

Dalam tulisan Sjahrir (Pakar Ekonomi, Kebijakan Ekonomi dan  Ekonomi Politik, 1994) CW diakui termasuk ke dalam 25 pakar ekonomi  papan atas papan atas politik pada masa Orde baru, bersamaan dengan  ekonomi senior, yang juga sudah wafat (Soemitro Djojohadikusumo, Sjahrir,  Sarbini SUmawinata, Suhadi Mangku Suwondo, Hadi Soesastro, Pande Raja  Silalahi, Soeharsono Sagir, Rijanto, Dawam Rahardjo, Hartojo  Wignyowiyoto, Nurimansjah Hasibuan, The Kian Wie, Frans Seda).

Sedangkan pakar ekonomi lainnya yang masih sehat, antara lain Rizal Ramli,  Marie Pangestu, Djisman Simanjuntak, dan lain-lain.

3. Ukuran kepakaran Christianto dan 25 pakar sejawat lainnya dipersempit  sebagai ahli ekonomi yang rajin menulis dan menuangkan pemikiran  khususnya di koran Kompas, termasuk majalah MATRA dan media massa terbesar di tanah air.

Pada waktu  itu tidak ada internet, sirkulasinya mencapai setengan juta dan dibaca oleh jutaan warga di seluruh Indonesia.

Nama CW diakui termasuk ke dalam  klub 25 ekonom tersebut dan berperan sebagai analis bidang bisnis dan
ekonomi politik, meskipun lulus dari Fakultas Ilmu Sosial Politik UI, bukan  fakultas ekonomi.

4. Pada masa Orde Baru ketika bicara politik dibatasi, CW mendirikan think Tank bernama Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI).

Lembaga ini tidak hanya  menyediakan data-data bisnis, tetapin juga aktif menggelar seminar yang  berbobot dengan uraian data-data bisnis yang kuantitatif dan analisa  ekonomi politik tentang lingkungan bisnis Indonesia, yang kompleks dan bahkan terkandung misteri., yang sulit ditebak.

5. Pada masa reformasi atau pasca Orde Baru, CW tetap aktif menuangkan  pemikrannya di berbagai media dan menulis buku.

Pada masa Presiden SBY,  bersama saya CW menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional, wing yang diangkat presiden untuk memberikan saran dan nasehat kebijakan bidang  ekonomi.

Jadi, sepanjang hidupnya CW terus produktif dan tak kenal lelah  mendedikasikan disrinya sebagai cendikiawan, pemikir dan terus menulis  buku.

6. Dalam satu kesempatan, pada tanggal 6 February 2013, saya ajak  presentasi di depan media massa hasil survey saya tentang popularitas  tokoh, yang diperkirakan menjadi presiden pada tahun 2014.

Di dalam  presentasi tersebut saya menyebut Jokowi adalah presiden yang akan  datang berdasarkan hasil survei lembaga baru yang saya dirikan, Pusat Data  Bersatu (PBD). Semua media massa yang ahdir mengutip hasil survey
tersebut.

Karena tiba-tiba ada hasil survey tersebut, saya dan CW banyak  mendiskusikan haln tersebut dan aspek politik lainnya.

7. Bulan yang lalu CW masih terus berkomunikasi dengan saya dan bahkan  mengirim buku tulisannya yang cukup tebal 362 halaman, berjudul “Kencan  Dinasti Menteng”.

Buku ini sangat menarik karena menceritakan penguasa  negeri ini sesungguhnya bergulir dari elit ke elit, yang umumnya para presiden dan menteri tinggal di wilayah trategis dan mahal, yhakni kawasan  menteng.

Ini metafora dan mungkin sindiran juga tentang elitisme politik di  negeri ini, suatu gambaran perlunya pemimpin lebih merakyat.

Sampai beliau wafat, saya tidak pernah mendiskusikan buku ini, kecuali di beberapa  bagian pemikirannya di group WA anggota KEN masa SBY (2009-2014)  dimana kita berdua ada di situ.

 

Klik juga: https://matranews.id/

Baca juga: Riwayat Pers Indonesia

Riwayat Pers Indonesia

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *