Diklat Batik Jadi Bukti Antusiasme Kaum Milenial Terhadap Batik

  • Whatsapp
Diklat Batik Jadi Bukti Antusiasme Kaum Milenial Terhadap Batik


Suara-Pembaruan.com – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian RI untuk pertama kalinya menggelar Diklat 3in1 Berbasis Kompetensi Pembuatan Batik Tulis Generasi Milenial di DIY. Kegiatan yang didukung penuh oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY ini juga membuktikan tingginya antusiasme kaum milenial terhadap batik.

Bacaan Lainnya

Acara penutupan Diklat 3in1 Berbasis Kompetensi Pembuatan Batik Tulis Generasi Milenial Angkatan I pada Jumat (21/05) dihadiri oleh Wakil Ketua Dekranasda DIY, GKBRAyA Paku Alam, Sekretaris BPSDMI Kementerian Perindustrian RI, Yedi Sabaryadi, dan Kepala Balai Diklat Industri Yogyakarta, Tevi Kurniawati.

Ditemui usai acara, GKBRAyA Paku Alam mengatakan, diklat yang dikhususkan bagi kaum milenial ini menjadi bukti antusias anak muda DIY terhadap batik masih cukup tinggi. Terbukti dengan banyaknya pelamar untuk menjadi peserta diklat.

“Tadinya pembatik atau yang senang membatik itu selalu berkonotasi hanya orang tua saja. Tapi ternyata kita salah, generasi milenial pun suka membatik, makanya BPSDMI bekerja sama dengan kami melatih mereka supaya generasi milenial bisa lebih kenal batik dan cinta pada batik,” ujar Gusti Putri.

Di depan para peserta diklat, Gusti Putri juga menegaskan agar tidak ada rasa rendah diri, dan terus mau memupuk rasa percaya diri. Dengan ketekunan dan berani berinovasi, Gusti Putri percaya semua peserta diklat bisa meraih kesuksesan.

“Jangan pernah merasa rendah diri. Semua itu selalu mulai dari bawah, tidak ada yang langsung sukses dan besar. Saya juga pembatik, saya juga pernah merasakan batik karya saya tidak laku dijual,” ungkap Gusti Putri.

Sementara itu, Sekretaris BPSDMI Kementerian Perindustrian RI, Yedi Sabaryadi mengatakan, sifat yang dimiliki generasi dulu namun hilang pada generasi saat ini ialah ketekunan. Untuk itu ia berpesan agar para peserta diklat bisa terus memupuk ketekunan.

“Batik itu, semakin detail coraknya, semakin kecil-kecil semakin mahal harganya. Padahal yang begitu itu butuh ketekunan. Karena itu kita perlu tekankan lagi pada generasi milenial ini pentingnya ketekunan,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan diklat sendiri, Yedi mengatakan, BPSDMI Kementerian Perindustrian RI akan terus memfasilitasinya dan akan fokus di DIY dulu. Menurutnya, diklat yang diadakan di DIY ini menjadi embrio atau awal untuk diklat-diklat industri lainnya.

Kepala Balai Diklat Industri Yogyakarta, Tevi Kurniawati mengatakan, diklat ini sebagai wujud peran serta pemerintah dalam usaha untuk menekan angka pengangguran dan meningkatan kompetensi SDM di dunia industri. Total pendaftar untuk diklat ini ada 130 orang, namun setelah dilakukan seleksi sesuai kriteria, hanya 32 orang yang dapat mengikuti diklat.

“Satu dari 32 peserta diklat angkatan ini ialah penyandang disabiltas. Selain diklat batik, kami di Balai Diklat Industri Yogyakarta juga menggelar beberapa diklat industri lainnya, seperti diklat garmen dan operator finishing furnitur,” imbuhnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *