Headline

Fobia Kaki Telah Melambatkan Gerakku

202
×

Fobia Kaki Telah Melambatkan Gerakku

Sebarkan artikel ini

Fetish kaki sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kebanyakan orang sudah tahu istilah tersebut menggambarkan gairah seksual yang muncul ketika melihat kaki. Namun, bagaimana kalau sebaliknya? Pernahkah kamu mendengar ada orang yang takut melihat kaki telanjang?

Walau terkesan tidak masuk akal, perasaan itu tidak dibuat-buat. Ketakutan yang timbul saat melihat kaki justru pertanda seseorang memiliki podofobia. Kisah-kisah berikut ini adalah contoh nyatanya.

Alicia Badaoui, 32 tahun, tidak yakin kapan tepatnya ia mulai merasa jijik dengan kaki. Alasannya tidak suka bukan cuma karena kaki kotor bisa mengeluarkan aroma tidak sedap. Perempuan itu mengatakan bentuk dan tekstur kulitnya juga terlihat aneh. Jadi tak heran jika dia selalu mengenakan kaus kaki, dan tidak pernah pakai sepatu bukaan depan.

Sepanjang hidupnya, ia berusaha mati-matian agar pandangan matanya tidak tertuju pada bagian bawah tubuh orang lain. “Saya biasa saja sama kaki sendiri, tapi pasti selalu mual melihat kaki orang lain,” tuturnya.

Masalahnya, tak satu pun orang mengerti perasaan Alicia. Ia sering dianggap lebay gara-gara tidak suka kaki. “Orang pasti akan langsung tertawa saat tahu saya fobia kaki. Mereka mengira saya bercanda,” ujar Alicia. “Tapi begitu mereka tersadar saya tidak ikut tertawa, mereka bakal bilang saya lebay. Mungkin anggapannya, yaelah kaki doang. Tidak ada yang perlu ditakuti.”

Hal paling mengerikan buat Alicia adalah berlibur di pantai. Mau tak mau ia mesti berhadapan dengan berpasang-pasang kaki yang basah dan belepotan pasir. Makanya, Alicia sebisa mungkin fokus mengamati apa yang ada di depannya. Perempuan itu tak berani melirik sana sini. 

Rodolphe Oppenheimer, psikoterapis dan psikoanalis di kota Clichy, Prancis, menjelaskan, podofobia cenderung disebabkan oleh pengalaman kurang baik yang terjadi di masa kecil. Sama seperti kebanyakan fobia, pengidap podofobia bisa sampai gemetaran hebat hingga mengalami serangan panik bila terpapar objek yang mereka takuti.

“Sejak kecil, kita mendengar banyak lelucon tentang kaki. Lelucon-lelucon ini bisa bikin kita jijik sama kaki,” terangnya. “Tapi perlu diperhatikan perbedaannya, mana yang geli biasa dan mana yang fobia beneran. Kalau fobia, rasa takutnya tidak masuk akal.”

Romain Roux, pengidap podofobia lainnya, menduga rasa mual tiap melihat kaki bisa jadi karena ia sering dijahili sang kakak sewaktu mereka masih kanak-kanak. “Kalau diingat lagi, kakak emang suka iseng menjejali kaki ke wajahku dulu. Mungkin karena itu saya jadi fobia kaki,” ucap laki-laki yang berusia 27.

Mengingat podofobia belum dianggap serius, ketakutan berlebihan terhadap kaki dapat berpotensi merusak hubungan asmara pengidapnya. Romain mengungkapkan, sejauh pengalamannya pacaran dengan orang lain, banyak di antara mantannya yang ngotot ingin “mengubah pikirannya”. Malah menurutnya, sampai ada yang minta kakinya dijadikan pengecualian. “Gak peduli kaki itu milik siapa, saya enggak suka semuanya,” lanjutnya.

Sementara untuk urusan liburan, Romain kurang suka pergi ke tempat-tempat wisata yang mengharuskan orang bertelanjang kaki. Maka dari itu, dia lebih suka mengunjungi danau-danau yang sepi dan jarang dikunjungi wisatawan. Kadang-kadang, dia berlibur ke pantai di luar musim liburan.

Podofobia dengan gejala parah bisa sangat merugikan kehidupan para pengidap. Bukan tidak mungkin, mereka jadi ogah ke mana-mana lantaran tidak siap menghadapi kemungkinan melihat orang bertelanjang kaki. Tapi menurut Oppenheimer, ada kalanya pemilik fobia ini kudu melatih diri hingga terbiasa melihat kaki. Cara itu satu-satunya solusi mengatasi podofobia.

“Biasanya, pada terapi perilaku kognitif, kamu diharuskan menghadapi objek yang kamu takuti secara perlahan. Kamu akan melakukannya sampai rasa takutnya berkurang,” ujarnya. “Kamu bisa memulainya dengan melihat foto atau video kaki. Kamu juga bisa coba terapi virtual reality untuk mengatasi fobianya.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE France.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *