Opini  

Geliat Industri Parfum Indonesia: Menjadi Buruh di Tanah Sendiri


Di zaman sekarang ini siapa yang tak kenal dengan perusahaan parfum terkenal merk Dior, Channel, Mont Blanc, Yves Laint Laurent, dan masih banyak lagi. Ya, itulah merk parfum-parfum yang sangat terkenal di Indonesia bahkan di penjuru dunia.

Akan tetapi, tanpa peranan Indonesia pasar parfum dunia tidak akan sebesar sekarang ini. Mengapa seperti itu? Mari kita simak penjelasan berikut ini.

Apakah kalian juga menyukai menggunakan parfum atau wewangian lainnya? Tahukah kalian bahwa salah satu bahan baku parfum yang kalian gunakan itu diproduksi di Indonesia?

Ya, bahkan parfum dengan merk Internasional pun juga menggunakan bahan yang satu ini. Bahan baku yang kita maksud adalah minyak atsiri atau yang lebih dikenal dengan sebutan minyak esensial (Minyak esensial).

Salah satunya adalah Minyak Nilam atau yang secara global diketahui dengan nama patchouli oil. Minyak nilam ini sangat berpengaruh dalam industri parfum atau produk parfum, dikarenakan fungsinya yang mengikat aroma.

Maka dari itu, kebutuhan industri parfum dunia atas minyak nilam begitu tinggi hingga mencapai angka 2000 ton pertahun.

Minyak Nilam di Indonesia

Indonesia merupakan negara penghasil minyak nilam terbesar di dunia. Sebanyak 90 persen suplai minyak nilam berasal dari Indonesia. Menurut Menteri Pertanian Indonesia, pasokan minyak nilam di Indonesia berasal dari Sulawesi (80 persen), Sumatera (16 persen), dan Jawa (3 persen).

Mengapa bisa sebesar itu? Karena minyak nilam dari Indonesia adalah minyak nilam terbaik di dunia. Maka dari itu ada banyak sekali brand terkenal yang menciptakan produk premium mereka menggunakan minyak nilam dari Indonesia, salah satunya Dior.

Akan tetapi sangat disayangkan walaupun Indonesia adalah penghasil minyak nilam terbesar di dunia, ada beberapa fakta menyedihkan. Salah satunya jumlah nilai impor produk olahan minyak nilam ini lebih besar dibanding nilai ekspor mentahannya.

Contohnya pada tahun 2015, nilai impor bernilai di kisaran USD 750 juta hingga $1,1 miliar. Sementara nilai ekspor hanya berada di kisaran $637 juta saja, sangat menyedihkan bukan?.

Selisih sebesar itu terjadi karena barang yang diimpor adalah produk jadi yaitu sebotol parfum mahal merk dunia. Sedangkan yang diekspor adalah bahan mentahnya saja.

Indonesia menjual minyak nilam kepada pihak luar negeri dengan harga yang sangat murah tepatnya 1kg minyak nilam berkisar 700-750 ribu rupiah, harga tersebut ditentukan oleh pembeli / broker.

Sedangkan parfum yang kembali ke Indonesia yang mana satu botolnya hitungan mililiter itu bisa dibanderol dengan harga jutaan.

Maka dari itu Indonesia seperti sedang di jajah di tanah sendiri.

Produksi Parfum pada era Bung Karno

Sebenarnya masalah ini sudah dipikirkan oleh Bung Karno sejak dahulu. Ternyata beliau bermimpi Indonesia menjadi produsen minyak wangi terbaik di dunia.

Mimpi tersebut diwujudkan dalam bentuk pembangunan pabrik serai kerja sama antara pemerintah Indonesia-Bulgaria. Pabrik minyak nilam terbesar se-Asia Tenggara yang berlokasi di Tawangmangu pada tahun 1963.

Pabrik citronella mengalami pasang surut, berpindah kepemilikan beberapa kali dan pada akhirnya resmi ditutup pada tahun 2015 lalu. Hingga bangkit kembali di tahun 2018 akan tetapi fungsinya berubah, yakni sebagai pusat tempat edukasi saja.

Dinamika gejolak politik berkembang begitu pesat. Banyak sekali kepentingan ditengah gencarnya perubahan geopolitik dan sosiopolitik. Bung Karno lengser dan mimpi itu belum terwujud hingga saat ini.

Baca Juga: Tumbuh Subur di Indonesia, Yuk Cari Peluang dari Akar Wangi

Yuk, mulai tulis pengalamanmu seputar investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, ataupun entertainment di Suara-Pembaruan.com dengan klik “Mulai Menulis”.

Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!

Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.