Indonesia Penghasil Sampah Plastik Laut Terbesar Kedua Didunia, EPPIC Selenggarakan Kompetisi Tingkat ASEAN – Majalah Time.com

  • Whatsapp



Bacaan Lainnya

Proklamator ID – Berdasarkan Data Badan Pusat Statistiik (BPS) 2021 menyebutkan limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun, sedangkan tudi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2018 memperkirakan sekitar 0,26 – 0,59 juta ton plastik ini mengalir ke laut.

Indonesia pun dinobatkan sebagai negara penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jambeck pada tahun 2018.

Kondisi mengkhawatirkan ini berusaha dientaskan oleh Pemerintah Indonesia melalui Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) yang menargetkan penurunan 70 persen total sampah laut Indonesia pada tahun 2025.

Eksekusi RAN PSL dijalankan oleh Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) yang dikomandoi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sehingga, sampah plastik masih menjadi masalah yang sukar dipecahkan.

Para finalis Ending Plastic Pollution Innovation Challenge (EPPIC) bersama pendamping di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Nusa Tenggara Barat (4/11). FILE IST PHOTO

Di tahun 2021 ini, UNDP Indonesia melalui project Sekretariat TKN PSL dan Archipelagic and Island States (AIS) Forum menggelar Ending Plastic Pollution Innovation Challenge (EPPIC), sebuah kompetisi di tingkat ASEAN yang mengajak para inovator untuk berbagi ide cemerlang dalam menangani polusi plastik. Sepuluh (10) finalis terpilih, dari berbagai negara seperti Indonesia, Singapura, dan Vietnam, pada kompetisi ini akan mengikuti sesi Inkubasi yang diadakan dari Oktober hingga Desember 2021.

Salah satu agenda dalam tahap Inkubasi ini adalah kunjungan lapangan selama empat hari (1-4 November 2021) ke Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), di mana finalis dapat mengamati secara langsung situasi pencemaran plastik di wilayah tersebut, dan menguji apakah inovasi mereka dapat menjawab permasalahan polusi plastik di Mandalika.

“Dari target pengurangan 70 persen sampah laut di tahun 2025, kita sudah berhasil mengurangi sebesar 15,3 persen pada tahun 2020. Sebagai bagian dari strategi RAN PSL yaitu mendorong gerakan untuk melibatkan publik dalam melahirkan inovasi penanganan sampah plastik di laut termasuk melalui kerja sama dengan berbagai pihak dalam pelaksanaannya di mana salah satunya dengan mengadakan kompetisi EPPIC. Penyelenggaraan EPPIC diharapkan dapat memberikan ide-ide inovatif yang teruji di lapangan, sehingga dapat direplikasi dan digunakan secara luas di Indonesia nantinya,” ujar Ahmad Bahri, Project Coordinator Sekretariat TKN PSL, UNDP.

Para finalis bersama dengan perwakilan Gubernur Nusa Tenggara Barat, perwakilan UNDP Indonesia, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nusa Tenggara Barat (DLHK NTB), dan pegiat lingkungan setempat (4/11). FILE IST PHOTO

EPPIC menargetkan untuk mengurai masalah sampah pencemaran plastik di wilayah pesisir. Selama kunjungan, finalis akan membuat pemetaan, sketsa bisnis, pengambilan keputusan, peluncuran prototipe, dan pengujian.

Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nusa Tenggara Barat (DLHK NTB), peneliti, organisasi kemasyarakatan, pegiat lingkungan hidup, dan komunitas peduli lingkungan sebagai pemateri sekaligus pendamping.

Mandalika, sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas, dipilih karena potensi peningkatan volume sampah dari pembangunan infrastruktur dan aktivitas wisata yang terus bertumbuh sangat besar. Sejumlah lokasi seperti Pusat Pengolahan Sampah Batunyala, landfill Pengengat, dan Sirkuit Internasional Mandalika telah dikunjungi sebagai sarana studi pengolahan sampah pada fasilitas-fasilitas tersebut.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kunjungan tersebut juga dilengkapi dengan diskusi bersama komunitas lokal seperti Plastik Kembali, Bank Sampah NTB Mandiri, dan Geo Trash Management yang juga akan menambah pengetahuan finalis yang lebih mendalam untuk memahami konteks kedaerahan dalam menyusun perencanaan pengelolaan sampah plastik yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

“Potensi pariwisata di NTB itu sangat besar, terutama di Mandalika. Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. Salah satu caranya adalah mengatasi sampah plastik ini. Maka dari itu kami sangat berterima kasih sekali dengan kompetisi EPPIC. Kami berharap ide-ide para inovator dapat segera kami jalankan,” ujar Baiq Eva Nurcahya Ningsih, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi NTB.

Kompetisi EPPIC diharapkan dapat menelurkan ide-ide yang dapat menguatkan ekonomi sirkular produk plastik di Indonesia. Selain itu, pemenang dari kompetisi diharapkan dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan-kegiatan ini, serta berjejaring dengan penggiat sampah plastik lainnya baik di wilayah Indonesia, maupun ASEAN.

“Kami mengajak semua finalis untuk terus  berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan dan pengurangan sampah plastik di alam. Dengan dukungan dari banyak pihak, utamanya pemerintah, masyarakat, dan organisasi internasional, kami yakin EPPIC dapat membantu menguraikan masalah serta membantu mengurangi sampah di laut secara signifikan,” tutup Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, KLHK.

 

Tentang AIS Forum

Archipelagic and Island States Forum diinisiasi pada tahun 2018 sebagai respon terhadap SDG 14: konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan. AIS Forum secara khusus berfokus pada empat area tematik yaitu: mitigasi perubahan iklim, ekonomi biru, tata kelola maritim, dan sampah plastik di laut. Forum ini turut mengembangkan program yang disebut AIS Blue Startup Hub – sebuah ekosistem virtual untuk bisnis di industry yang berkaitan dengan ekonomi biru dan yang berdampak pada perubahan iklim.

Misi utamanya adalah mengembangkan usaha-usaha di negara kepulauan, dengan menciptakan ekosistem bisnis baru, termasuk memberikan akses kesempatan di tataran global, yang memungkinkan startup dan UMKM menyasar pasar baru dan memperkenalkan talenta-talenta pada komunitas internasional.

 

Tentang TKN PSL

Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dibentuk melalui Perpres No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. TKN PSL menjadi salah satu wujud komitmen dan keseriusan pemerintah Indonesia untuk mengatasi permasalahan sampah laut melalui program dan kebijakan yang melibatkan berbagai sektor.

Advertisement. Scroll to continue reading.

TKN PSL diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, dengan  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Ketua Harian, dan beranggotakan 16 Kementerian/Lembaga yang saling bersinergi untuk mencapai target penurunan sampah laut Indonesia hingga 70% pada tahun 2025.

Tentang UNDP

UNDP adalah organisasi inti PBB yang berjuang untuk mengentaskan kemiskinan, ketimpangan, dan perubahan iklim di dunia. Dengan jaringan ahli yang luas serta mitra dari 170 negara, UNDP membantu negara-negara untuk membangun solusi yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk masyarakat dan bumi.


Kiriman dari Ifan Islami, Tim Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Laut (TKN PSL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *