Ekonomi

Jika Terpilih, Trump Janji Setop Perjanjian Perdagangan Asia yang Sedang Diperjuangkan Biden

51
×

Jika Terpilih, Trump Janji Setop Perjanjian Perdagangan Asia yang Sedang Diperjuangkan Biden

Sebarkan artikel ini



Donald Trump mengatakan pada Sabtu (18/11) bahwa dia akan menghentikan perjanjian perdagangan Pasifik yang sedang diperjuangkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden jika dia berhasil menang dalam Pemilihan Presiden 2024 dan kembali ke Gedung Putih. Trump merupakan kandidat paling kuat untuk nominasi presiden dari Partai Republik.

Berbicara kepada para pendukungnya di Iowa, Trump mengatakan dia menentang perjanjian perdagangan regional yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Biden dengan 13 negara lainnya. Ia berpendapat hal tersebut akan melemahkan manufaktur AS dan memicu hilangnya lapangan kerja.

Perbincangan mengenai bagian perdagangan Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) mandek dalam beberapa hari terakhir setelah beberapa negara, termasuk Vietnam dan Indonesia, menolak untuk berkomitmen pada standar tenaga kerja dan lingkungan yang kuat. IPEF sendiri bertujuan memberikan alternatif kepada wilayah tersebut terhadap pengaruh perdagangan yang semakin meningkat dari China.

Trump mengatakan ia akan “menghancurkan” apa yang ia sebut sebagai “Trans-Pasifik (TPP) Dua” segera setelahnya ia menjabat. Trump menarik diri dari perjanjian perdagangan Kemitraan (TPP yang disepakati dengan banyak negara yang sama setelah menjabat pada Januari 2017.

“Di bawah pemerintahan berikutnya… rencana Biden untuk ‘TPP Dua’ akan terhenti pada hari pertama,” kata Trump pada acara kampanye di Fort Dodge, sekitar 150 km sebelah utara Des Moines.

“Ini lebih buruk dari yang pertama, mengancam dapat menghancurkan petani dan produsen dengan kekejaman global yang dirancang untuk meningkatkan outsourcing ke Asia,” katanya.

Pemerintahan Biden berharap dapat merampungkan bagian-bagian penting dari inisiatif perdagangan IPEF tepat pada waktunya sebelum pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada minggu ini. Mereka berkomitmen untuk melanjutkan negosiasi kesepakatan ambisius tersebut.

Namun, tekanan pada tahun pemilu dan penolakan terhadap komitmen keras dari beberapa negara membuat kesepakatan tersebut sulit tercapai, kata para pakar perdagangan dan kelompok bisnis. [ah/ft]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *