KemenPPPA: Berikan SKM Sama Dengan Langgar Hak Kesehatan Anak

  • Whatsapp
KemenPPPA: Berikan SKM Sama Dengan Langgar Hak Kesehatan Anak


SuaraPemerintah.id – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengatakan jika pemberian susu kental manis (SKM)  bisa melanggar hak kesehatan anak.

Bacaan Lainnya

Perlu diketahui bahwa kental manis bukanlah produk susu, melainkan gula yang diberikan rasa susu. Sehingga pemberian SKM pada anak, jadi polemik karena berpotensi membuat anak kelebihan gula, dan meningkatkan risiko diabetes pada anak.

“Kita harus jaga betul agar susu kental manis tidak diberikan kepada bayi. Pemenuhan hak anak terlanggar bila susu kental manis terus diberikan sebagai minuman pengganti susu untuk anak, ” ujar Entos Zainal,SP, MPHM, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Pendidikan KemenPPPA, dalam acara diskusi virtual, Jumat (18/6/2021).

Persoalan kental manis ini juga ditanggapi Dr. Wiwin Hendriani, M.Si, perwakilan Psikologi Perkembangan Indonesia (HIMPSI), yang mengatakan meski iklan SKM sudah dihapus, namun tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat memberikan SKM pada anak.

“Maka yang harus dilakukan adalah mengkoreksi dengan informasi yang benar. Iklan yang salah harus diperbaiki dengan iklan yang menampilkan informasi yang benar,” tegas Wiwin.

Fakta lain tentang bahaya kental manis diungkap Ketua Bidang Advokasi KOPMAS Rusmarni Roesli, yang memaparkan temuan KOPMAS terkait permasalahan gizi anak periode 2020 hingga 2021.

Ia menemukan jika keluargalah yang berperan besar menerapkan kebiasaan makan anak termasuk minum kental manis, yang akhirnya terbawa hingga dewasa.

Mirisnya, kata Marni, masyarakat adat Baduy yang dahulu belum mengenal modernisasi, dan hidup dengan kearifan lokal tumbuh sehat, kini justru banyak anak suku Baduy yang mengonsumsi makanan olahan, dengan pengawet.

“Anak-anak Baduy yang biasanya makan singkong, sayur, dan ikan-ikanan, kini terbiasa makan sosis, baso, nugget dan pagi sarapan dengan sereal atau susu kental manis. Bahayanya adalah, orangtua tidak paham bahwa apa yang dimakan anak-anak mereka tidak sesehat menu dari ladang yang dahulu biasa mereka konsumsi,” papar Marni.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *