Ekonomi

Konsumen Jepang Dukung Industri Makanan Laut Setelah China Larang Produk dari Fukushima

82
×

Konsumen Jepang Dukung Industri Makanan Laut Setelah China Larang Produk dari Fukushima

Sebarkan artikel ini



Masyarakat nelayan di Fukushima khawatir bisnis mereka mengalami kerugian besar akibat pembuangan air limbah radioaktif yang telah diolah ke laut dari PLTN yang rusak akibat tsunami.

Tetapi pada kenyataannya, mereka melihat hal sebaliknya. Banyak konsumen bergabung dalam dukungan nasional bagi kawasan ini dengan mengonsumsi lebih banyak ikan, terutama setelah China melarang impor makanan laut Jepang.

Kazuto Harada, karyawan toko makanan laut di dekat pelabuhan Onahama di Fukushima, mengatakan ia merasa lega sewaktu berdiri di dekat tangki lobster yang ditangkap dari laut di dekatnya.

Konsumen yang memesan berasal dari berbagai penjuru Jepang. Banyak di antara mereka yang memesan “Joban-mono,” atau ikan dari pesisir Fukushima dan kawasan tetangganya, Ibarak.

Banyak yang memesan makanan favorit daerah setempat seperti ikan bawal dan green eye. Menjelang sore, hampir seluruh hasil tangkapan segar dari daerah itu telah terjual habis.

PLTN Fukushima Daiichi mulai melepaskan air limbah radioaktif yang telah diolah dan diencerkan ke laut pada 24 Agustus lalu.

Sekitar 1,34 juta ton air limbah radioaktif telah terakumulasi di sekitar 1.000 tangki di PLTN itu sejak gempa kuat dan tsunami pada tahun 2011.

Pelepasan itu diperkirakan berlangsung puluhan tahun, dan mendatang tentangan kuat dari berbagai kelompok nelayan dan negara-negara tetangga.

Terlepas dari jaminan keamanan berulang kali, China telah melarang makanan laut dari Jepang segera setelah PLTN itu mulai melepaskan air limbah radioaktifnya ke laut pada Agustus lalu.

Tetapi konsumen Jepang tampaknya bereaksi lebih tentang terhadap pelepasan air semacam itu.

Futoshi Kinoshita, eksekutif Foodison, yang mengoperasikan jaringan penjual ikan Jepang Sakana Bacca, mengatakan semakin banyak pelanggan yang memesan makanan laut Fukushima.

“Setelah larangan China terhadap makanan laut Jepang, kami melihat semakin banyak pelanggan yang tidak hanya membeli ikan Fukushima, tetapi juga makanan laut Jepang secara umum untuk mendukung industri perikanan,” ujarnya.

Ia mengatakan data dari tes terhadap ikan yang menunjukkan keamanan mengonsumsi ikan itu sangat penting untuk meyakinkan para pelanggan. Tetapi data saja tidak cukup, lanjutnya.

TEPCO dan pemerintah Jepang mengatakan pelepasan ke laut itu tidak dapat dihindari karena tangki-tangki penyimpan akan mencapai kapasitas maksimalnya tahun depan dan ruang di PLTN itu diperlukan untuk penonaktifannya, yang juga diperkirakan berlangsung puluhan tahun.

Mereka mengatakan air itu diolah untuk mengurangi materi radioaktif hingga ke level aman, dan kemudian diencerkan dengan air laut ratusan kali lipat untuk membuatnya jauh lebih aman daripada standar internasional. [uh/ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *