Mengenal Tenun Bentenan, Kain Tradisional Mahakarya Minahasa Abad 7

  • Whatsapp
Mengenal Tenun Bentenan, Kain Tradisional Mahakarya Minahasa Abad 7


Suara-Pembaruan.com – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang memiliki daerah super prioritas Likupang, juga memiliki kekayaan budaya berupa kain tradisional cantik yang dikenal dengan tenun bentenan.

Bacaan Lainnya

Kain ini merupakan kain tradisional masyarakat Minahasa yang telah ada sejak abad ke-7. Nama bentenan sendiri pada dasarnya adalah nama pulau dan teluk yang terletak di Pantai Timur Minahasa Selatan.

Menjadi sebuah mahakarya para penenun Minahasa, kain bentenan ini termasuk kain yang sakral dan langka. Dikatakan sakral karena kain ini hanya digunakan oleh kalangan tertentu pada waktu tertentu.
Dulu, kain pembeda adalah pakaian pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) dalam berbagai upacara adat seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, sampai berperang.

Kain ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, bagian dari upacara pernikahan, juga pembungkus jenasah bagi kalangan tertentu. Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan mengajukan perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus.

Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa kain ini terakhir ditenun di daerah Ratah pada akhir abad 18. Kain bentenan bahkan sempat “menghilang” tidak diproduksi selama lebih dari 200 tahun. Tak mengherankan apabila jumlah kain bentenan antik sampai saat ini tidak sampai sepuluh buah di dunia.Di Museum Nasional tersimpan kain bentenan bermotif patola, yang menurut Yudi Achyadi, seorang kurator tekstil, merupakan kain bentenan satu-satunya di dunia yang bermotif patola.

Pada masanya, kain tenun ini merupakan kain tenun yang dipakai oleh pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) dalam berbagai upacara adat. Tak hanya karena proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama, keistimewaan dari kain tenun ini juga terdapat pada ritual pemanjatan doa sebelum proses tenun dimulai yang semakin menambah sakral kain tersebut.

Selain itu, kain ini juga memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan manusia seperti dalam kelahiran, pernikahan, kematian, dan lambang status sosial dalam kehidupan masyarakat Minahasa.

Sempat menghilang, kain ini kembali eksis dan terus disosialisasikan di tengah masyarakat Minahasa, utamanya Manado dan juga Likupang dengan jenis kain tenun atau print. Kain ini bisa Sobat temukan di beberapa toko maupun sentra suvenir milik para pelaku ekraf di Sulawesi Utara. (jaringan / pena)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *