Merger Indosat Hutchison: Simak Lagi Sejarah Konsolidasi Operator Selular di Indonesia

  • Whatsapp


Selular.ID – Selasa, 4 Januari 2022 menjadi tonggak baru bagi Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Persis pada tanggal tersebut, operator baru hasil merger itu mulai beroperasi.

Bacaan Lainnya

Munculnya IOH memerlukan jalan yang cukup berliku. Pasalnya, setelah aksi merger dan akuisisi yang dilakukan XL Axiata terhadap Axis pada 2012, konsolidasi belum lagi terjadi.

Seperti diketahui upaya konsolidasi kerap digaungkan. Persisnya pada era Menkominfo sebelumnya, yaitu Rudiantara. Namun baru bisa terealisasi pada awal tahun ini.

Sejak pertama kali menjabat sebagai Menkominfo pada Oktober 2014, pria yang akrab dipanggil Chie RA itu, gencarnya mendorong upaya konsolidasi antar operator. Tujuannya agar industri telekomunikasi menjadi lebih efisien dan menguntungkan secara bisnis.

Di mata Chief RA, merger dirasa sangat mendesak demi kesehatan industri telekomunikasi yang tengah bertransisi dari basic service (SMS dan voice) ke layanan data dan digital.

“Saya mendorong agar dari tujuh operator dapat terkonsolidasi menjadi 3-4 operator saja agar lebih efisien dan menguntungkan. Tujuh ini kan terlalu banyak,” katanya di Jakarta, Senin (13 April 2015).

Chief menyebutkan bahwa jumlah operator yang terlalu banyak membuat alokasi menjadi frekuensi terbatas, sehingga berdampak pada kualitas layanan kepada pelanggan. Ketujuh operator yang saat itu beroperasi adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchinson Tri, Telkom, Smartfren, dan Esia.

Surplus operator juga membuat ruang pertumbuhan menjadi sempit. Operator bahkan pernah terjebak pada perang tarif. Puncaknya terjadi pada 2018, di mana industri selular untuk pertama kalinya tumbuh minus sebesar 6,4%.

Rudiantara menyebutkan bahwa konsolidasi menjadi keniscayaan, karena sesuai nature-nya, bisnis telekomunikasi tidak memerlukan banyak pemain, sehingga potensi ruang bertumbuh tetap terbuka.

Di sisi lain, economic of scale sangat diperlukan karena bisnis ini memerlukan investasi besar, terutama di sisi kapital.

“Pemerintah mendorong operator telekomunikasi berkonsolidasi, karena membutuhkan skala ekonomi yang lebih besar. Dengan economic of scale yang meningkat, perusahaan telekomunikasi akan memiliki bargaining power yang lebih kuat kepada mitra vendor,” pungkas Chief RA.

Upaya Rudiantara tak sia-sia. Meski tak terwujud di masa jabatannya, merger operator selular pada akhirnya kembali terjadi pada awal 2022. Memberi harapan agar industri selular kembali sehat. Sehingga dapat kembali menguntungkan perusahaan.

Di sisi lain pelanggan juga berpeluang memperoleh kualitas layanan yang lebih baik. Khususnya layanan internet yang saat ini telah menjadi kebutuhan utama sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jika kita menengok ke belakang, konsolidasi antar operator di Indonesia sesungguhnya bukan barang baru. Umumnya dipicu oleh perubahan teknologi, persaingan pasar, serta perubahan regulasi yang diterapkan pemerintah selaku regulator.

Sejarah mencatat, sepanjang hampir dua dekade terakhir, terdapat konsolidasi besar yang melibatkan sejumlah operator telekomunikasi, sehingga mempengaruhi peta persaingan industri. Berikut catatannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *