Minim Penggunaan Aksara Jawa, Disbud DIY Akan Gelar Kongres Aksara Jawa I Setelah 1922 – Suara-Pembaruan.com

  • Whatsapp
Minim Penggunaan Aksara Jawa, Disbud DIY Akan Gelar Kongres Aksara Jawa I Setelah 1922 - Suara Pemerintah


Suara-Pembaruan.com – Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, Aksara Jawa sejatinya senantiasa dilestarikan.

Bacaan Lainnya

Namun demikian, dewasa ini Aksara Jawa semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan didasari keprihatinan tersebut, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar Kongres Aksara Jawa (KAJ) I pada 22-26 Maret di Hotel Grand Mercure, Sleman, Yogyakarta.

Pelaksanaan KAJ I tampaknya menjadi angin segar karena sejak tahun 1922 belum ada kongres yang membahas penggunaan aksara Jawa hingga tingkat teknis.

KAJ I akan dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, bersama dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara daring pada Senin (22/03) pukul 08.30 WIB. Agenda pembukaan akan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube: Humas Jogja dan Instagram: @humasjogja pada waktu yang sama.

Kongres ini juga diharapkan menjadi penghargaan atas upaya digitalisasi Aksara Jawa yang memungkinkan untuk digunakan melalui platform digital manapun. Poin-poin tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran baru pentingnya penggunaan aksara Jawa dalam konteks komunikasi sosial di era digital.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Sumadi, menuturkan bahwa KAJ I akan diawali dengan Talkshow dengan menghadirkan narasumber KPH Notonegoro (Penggagas Kongres Aksara Jawa I), Prof. Dr. Yudho Giri Sucahyo (Ketua PANDI), dan Badan Standardisasi Nasional, dengan tema “Digitalisasi Aksara Jawa”.

Selanjutnya, tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menghasilkan keputusan strategis terkait semua pembahasan yang dibicarakan dalam kongres. “Di sisi lain, pengakuan negara atas keberadaan aksara Jawa dan aksara-aksara nusantara lainnya.

Dengan demikian aksara Jawa benar-benar dapat diaplikasikan pada ranah digital serta kegiatan masyarakat sehari-hari. Terakhir, diharapkan adanya implementasi secara riil, artinya tidak berhenti pada rekomendasi–rekomendasi yang sulit untuk direalisasikan,” jelas Sumadi.

Sumadi menambahkan, KAJ I akan membahas 4 isu penting yakni transliterasi aksara Jawa-Latin, tata tulis aksara Jawa, digitalisasi Aksara Jawa, dan kebijakan tentang Aksara Jawa.

“Kongres akan melibatkan melibatkan sekitar 1000 lebih peserta dengan rincian peserta luring sejumlah 110 orang, yang terdiri dari wakil akademisi, praktisi, budayawan, birokrat, dan masyarakat umum. Sementara 800 orang peserta lainnya akan dibagi menjadi empat kelompok guna membahas empat isu penting dengan masing-masing peserta 200 orang,” tutupnya.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk berpartisipasi, dapat mendaftarkan diri melalui pranala s.id/join-kaj. Salam budaya!

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *