“Nikah Di Masjid Duluan, Pestanya Entah Kapan”

  • Whatsapp
banner 468x60


Raedu Basha *
radarmadura.jawapos.com, 1/4/2019

Bacaan Lainnya
banner 300250

Kalau Anda bertanya, siapakah salah seorang gembong sastra Indonesia di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, sehingga pesantren tersebut dikenal sebagai ”lumbung santri penyair”? Jawabannya adalah, tidak lepas dari seorang santri lelaki kelahiran Besuki, Jawa Timur, bernama Aryadi Mellas.

”Aryadi Mellas seumpama nabi bagi sastra dan kesenian di Pondok Pesantren Annuqayah sendiri,” jawab M. Faizi, seorang pengasuh muda Pondok Pesantren Annuqayah yang juga dikenal sebagai penyair, saat saya berkunjung ke rumahnya, 2 September 2015.

Aryadi Mellas adalah santri senior yang sampai saat ini masih menetap selama lebih 20 tahun sebagai santri di Pondok Pesantren Annuqayah dan belum jua berstatus alumnus. Ia pun belum juga berkeluarga. Saya menjumpai Aryadi pada malam hari tak lama setelah M. Faizi memberitahukan keberadaan Aryadi saat ini. Akhirnya kami berjumpa di sebuah ruang kesehatan pesantren. Sehari-hari Aryadi menjadi abdi dalem pengasuh pesantren sejak puluhan tahun lalu.

Ketika saya bertemu Aryadi dia terlihat kurang sehat, batuk-batuk, masa tua sudah menyapa, sakit-sakitan. Tidak seperti lima belas tahun lalu ketika kali pertama saya mengenalnya kendati tak sungguh kenal baik, sosok yang dingin.

Rambutnya kini mulai beruban dan dibiarkan memanjang dengan ditali belakang dan ditutup kopiah putih. Pria berewok itu terus melajang, entah, atau mungkin sudah tak punya lagi hasrat untuk menikah sebagaimana galibnya santri laki-laki. Dia masih nyantri di pesantren seumpama santri sejati. Kulit wajahnya yang mulai keriput dimakan usia, terlihat hitam bekas sujud di dahinya, dengan suara serak-serak khasnya, ia bercerita tentang masa lalunya, pada awal mula ia belajar mengarang sastra secara otodidak.

Diakuinya, menulis sejudul puisi biasa dilakukan selama berbulan-bulan. Santri yang mungkin sudah lewat usia 60 tahun ini mulanya sering memenangkan lomba tingkat sekolah daerah, sampai saat ini dia masih menulis dalam diari-diarinya yang dibiarkan menjadi rahasianya sendiri.

Kenapa ia demikian merahasiakan diarinya? Ada sejarahnya, katanya. Dia mengaku, sejak buku catatan hariannya yang berisi puisi-puisi yang ditulisnya selama bertahun-tahun raib ketika ia tinggal di Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, selulus SMP, akibatnya dia minggat dari Nurul Jadid Paiton karena dia merasa buku tersebut adalah separo hidupnya. Dia ingin move on dan nyantri ke Guluk-Guluk pada 1986. Hanya saja toh walaupun karyanya tetap menjadi rahasia, tetapi karya anak-anak santri generasi-generasinya di pesantren dibaca oleh masyarakat.

Saya mengenal Aryadi sudah sejak lama, sejak saya sendiri nyantri di pesantren tempat Aryadi Mellas juga nyantri. Dia santri generasi tua di Annuqayah, tetapi walaupun saya bermukim di pesantren tersebut dari 2001 sampai 2007, saya merasa segan untuk berkomunikasi lebih intim, tak berlebihan jika sebagian orang mengatakannya sebagai ”santri misterius”.

Hanya setiap kali acara haflatul imtihan yang digelar setiap tahun di Pondok Pesantren Annuqayah, saya sering menonton pertunjukan baca puisinya di hadapan para kiai (dan mungkin hanya Aryadi yang diberi tempat khusus mendeklamasikan sajak-sajaknya di hadapan para kiai) sejak 1988 sampai 2007. Setelah itu ia sepertinya mengundurkan diri untuk tampil dan tidak ada gantinya sampai sekarang, meskipun santri penyair di Pesantren Annuqayah tidak dapat dihitung dengan jari.

Biasanya, setiap kali Aryadi selesai beraksi di panggung selalu mengundang diskusi, baik di kalangan santri dan di kalangan dewan pengasuh. Teriakan histeris melengking, terlebih dengan puisinya yang masyhur di kalangan pesantren berjudul ”Maut”. Pertunjukannya senantiasa menimbulkan gejolak dan efek bagi proses berkarya sastra bagi santri itu sendiri. Pertunjukannya yang bernuansa kritis terhadap kondisi pondok pesantren khususnya di Annuqayah membuatnya mendapatkan tempat untuk bicara tentang—kata Rendra—”derita lingkungan di pondok pesantren yang dimukiminya, Annuqayah.

Misalnya ketika banyak pengurus pesantren meninggalkan tanggung jawab, dia mengadakan panggung drama yang mengingatkan tentang nilai-nilai pengabdian. Juga ketika ada salah seorang kiai muda mencalonkan diri sebagai bupati, dia dengan lantang berpuisi di hadapan kiai menyampaikan kegelisahannya dengan puitis diiringi pesauan biola.

Bagi saya, ketika mengenang seorang Aryadi Mellas, ia seperti puisi itu sendiri dan sebaliknya, puisi adalah Aryadi. Mungkin tidak berlebihan bila saya menyebut pertemuan dengan Aryadi seperti bersua dengan Umbu Landu Paranggi. Kami mengobrol sampai larut malam tanpa minuman, tanpa makanan ringan sekalipun.

Aryadi mengaku dirinya yang membawa ”virus” sastra di Pesantren Annuqayah sejak dia mendapat restu untuk mendirikan sebuah komunitas seni di pesantren yang konon sangat salaf (tradisional), bernama Sanggar Shafa pada 1988, tepat pada pergantian abad kedua karena Pesantren Annuqayah didirikan Kiai Syarqawi pada 1887 M.

Pada mulanya Aryadi cemas, khawatir, dan waswas karena seni dan sastra adalah hal baru di pesantren. Tetapi ketika Sanggar Shafa berdiri, sekitar 200-an santri ikut bergabung. Dari itulah pertemuan rutin mingguan belajar sastra mulai puisi, cerpen, naskah lakon, dan novel berlangsung. Tak lama kemudian anggotanya mulai menggalakkan sastra di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren di Sumenep, mengadakan pementasan, pelatihan, menerbitkan jurnal sastra dan lain semacamnya. Sehingga, sampai hari ini ”virus” kesenian terutama susastra di Sumenep menjadi bom waktu. Setiap terbitan baik majalah, jurnal, portal, surat kabar yang menayangkan halaman sastra maupun dalam perlombaan sastra, juga di panggung-panggung deklamasi, rasa-rasanya sudah tak asing dengan nama-nama sastrawan berlatar belakang pondok pesantren atau berkultur santri dan khususnya berasal dari Madura.

Annuqayah Guluk-Guluk sendiri menjadi barometer sastra pesantren di Indonesia. Alangkah sangat naif rasanya bila melepaskan nama seorang lelaki yang membiarkan hidupnya sebagai santri tua, dialah Aryadi Mellas, sang ”nabi sastra” Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Semoga dia diberikan kesehatan dan terus menjadi ”virus” bagi kegelisahan santri untuk menulis khususnya sastra.

”Saya terkadang merasa berdosa apabila melihat para santri yang berkegiatan di dunia kesenian berkelakuan nakal, suka bolos, dan sering melanggar peraturan kiai. Semoga saya diampuni,” ujar Aryadi sambil menekan dada.

*) Sastrawan, bidang sastra Lesbumi NU Jawa Timur.

Baca juga di Jawa Pos Radar Madura edisi cetak Minggu, 31 Maret 2019



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *