Para ilmuwan menciptakan otak kecil untuk mencari pengobatan potensial Alzheimer – Majalah Time.com

  • Whatsapp


Penyakit Alzheimer adalah kondisi neurodegeneratif terkait usia, yang berdampak pada jutaan orang di dunia. Hal ini ditandai dengan penumpukan plak beta amiloid di otak, yang mengganggu koneksi antara neuron dan akhirnya menurunkan otak yang menyebabkan hilangnya fungsi kognitif yang sangat besar. Sekarang para peneliti di University of Queensland mulai menggunakan model otak kecil yang hidup untuk mencari pengobatan potensial.

Bacaan Lainnya

Mempelajari penyakit Alzheimer itu sulit. Jelas, ada banyak sampel otak yang tersedia dari pasien yang setuju untuk menyumbangkan tubuh mereka untuk sains. Namun, mempelajari penyakit pada model hidup cukup rumit dan di situlah model miniatur ini bisa berguna, terutama untuk menguji molekul baru. Para ilmuwan menciptakan organoid ini – model yang sangat mirip dengan otak manusia – dan menggunakannya untuk menemukan mekanisme seluler berbeda yang dapat mempercepat atau mengurangi kerusakan sel otak.

Para ilmuwan menggunakan organoid ini untuk menemukan bahwa kebocoran DNA mempercepat penuaan pada penyakit neurodegeneratif langka Ataxia-Telangiectasia. Dalam eksperimen berikutnya, peneliti menemukan bahwa protein klotho, yang kadang-kadang digambarkan memiliki sifat anti-penuaan, mengurangi kerusakan sel-sel otak yang terkait dengan usia dan demensia hingga 89%. Para ilmuwan mengatakan bahwa peningkatan klotho dalam sel otak manusia berpotensi membantu menghentikan atau setidaknya memperlambat penyakit Alzheimer.

Profesor Ernst Wolvetang, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan: “Kami telah menemukan bahwa organoid otak manusia dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme molekuler yang mendorong proses penuaan otak. Ini membuka jalan untuk menguji banyak molekul yang bisa menjadi obat terapi potensial untuk sejumlah penyakit neurodegeneratif.”

Model otak yang sangat kecil itu memungkinkan penelitian Ataxia-Telangiectasia juga. Anak-anak yang menderita Ataksia-Telangiectasia kekurangan protein yang penting untuk perbaikan DNA dan karena itu menunjukkan tanda-tanda penuaan dini. Saat ini Ataxia-Telangiectasia adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan, tetapi para ilmuwan berharap organoid tersebut dapat membantu mereka menemukan solusi untuk masa depan. Secara umum, pendekatan ini mungkin sangat bermanfaat untuk mempelajari kondisi penuaan dan neurodegeneratif.

Mempelajari tubuh manusia lebih sulit daripada kelihatannya. Ada masalah etika, kesulitan menemukan sampel yang tepat, masalah dengan metodologi, dll. Model hewan sangat penting, terutama dalam pengujian obat, tetapi terkadang itu tidak cukup. Dan itulah mengapa organoid kecil yang menyerupai otak manusia hidup itu sangat penting.

Sumber: Universitas Queensland



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *