PEMUPUKAN SIKAP DAN PERILAKU POSITIF APRESIASI SASTRA (19) – – SastraMagz.com

  • Whatsapp


Djoko Saryono

Bacaan Lainnya

Sebagaimana sudah dikatakan bahwa sikap dan perilaku positif pengapresiasi diperlukan untuk menciptakan, mengembangkan, dan meningkatkan iklim, lingkungan, dan kegiatan apresiasi sastra. Oleh karena itu, sikap dan perilaku negatif pengapresiasi sastra perlu disingkirkan atau dibuang dan kepadanya perlu ditumbuhkan sikap dan perilaku positif. Di samping itu, sikap dan perilaku positif pengapresiasi sastra yang sudah tumbuh dan ada perlu dipupuk terus agar mantap dan kuat. Mantapnya dan kuatnya sikap dan perilaku positif pengapresiasi sastra akan membuat iklim, lingkungan, dan kegiatan apresiasi sastra semakin baik.

Persoalannya, bagaimanakah cara menumbuhkan dan memupuk perilaku positif pengapresiasi sastra ini? Penumbuhan sikap dan perilaku positif dalam diri pengapresiasi sastra yang masih bersikap dan berperilaku negatif dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. Pertama, memberikan pengalaman-pengalaman berkesan, menyenangkan, memikat, dan menyegarkan dalam apresiasi sastra. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mempersilakan membaca karya-karya sastra yang diakui berbobot, menceritakan isi atau keindahan karya-karya sastra yang baik, mengajak menonton penyair-penyair yang baik yang sedang membaca puisi, mengajak mendengarkan pembacaan pembacaan puisi oleh Rendra melalui Youtube, dan memberikan kesempatan bertemu dan berdialog dengan sastrawan yang sekaligus pembaca atau pelisan sastra yang baik.

Sebagai contoh, Rindang Kasih adalah pengapresiasi sastra yang masih bersikap dan berperilaku negatif. Untuk menumbuhkan sikap dan perilaku positifnya dapat dilakukan dengan cara menceritakan kepadanya isi novel Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), dan Raumanen (Marriane Katopo), mengajaknya menonton Taufik Ismail, W.S. Rendra atau Sutardji Clazoum Bachri membacakan puisi-puisinya dalam suatu peristiwa, mengajaknya mendengarkan kaset-kaset pembacaan puisi oleh Rendra dan Sapardi Djoko Damono, dan mengajaknya berdialog dengan Rendra dan Sutardji C.B. Hal ini dilakukan secara bersinambung dan berkali-kali sehingga timbunan dan keanekaan pengalaman menyenangkan, memikat, menyegarkan, dan berkesan ini membekas, mengendap, dan menancap dalam diri pengapresiasi yang masih bersikap dan berperilaku negatif. Ini lambat laun bisa menggusur sikap dan perilaku negatifnya dan menumbuhkan sikap dan perilaku positifnya dalam apresiasi sastra.

Kedua, menanamkan keyakinan, kepercayaan, kesimpatikan, dan kesignifikanan akan manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta pengapresiasi membaca karya sastra tertentu dan kemudian meresapi dan merenungi perolehannya, melisankan karya sastra dan kemudian meresapi dan merasakan perubahan-perubahan apa yang terjadi dalam diri, membandingkan orang-orang yang biasa mengapresiasi sastra dengan yang tidak, dan membandingkan tuturan karya dengan tuturan non-sastra dan kemudian meresapi perbedaan-perbedaan dampaknya dalam diri. Ini perlu dilaksanakan setahap demi setahap, dalam rentang waktu lama, ajek dan teratur. Jika tidak, tentu tak ada hasilnya.

Sebagai contoh, Nabila Kinasih adalah pengapresiasi yang masih bersikap dan berperilaku negatif. Kepadanya bisa ditumbuhkan sikap dan perilaku positif dengan cara membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) dan Mencoba Tidak Menyerah (Yudistira ANM Massardi) dan kemudian meresapi dan merasakan apa yang diperolehnya, melisankan puisi Nyanyian Angsa dan Mencari Bapa (W.S. Rendra) dan kemudian merasakan perubahan apa yang terjadi pada dirinya, dan membandingkan pengalaman orang yang suka membaca sastra seperti Emil Salim dengan yang tidak. Jika dikerjakan secara teratur, ajek, setahap demi setahap, dan berentang waktu lama, niscaya keyakinan, kepercayaan, dan kesignifikanan manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi tertanam dalam diri Nabila Kinasih.

Ketiga, memberikan iklim, suasana, situasi, dan lingkungan apresiasi sastra yang baik dan positif, dalam arti menyenangkan, menggairahkan, memikat, dan bisa membuat ketagihan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyingkirkan atau mengeliminasi karyakarya yang tidak baik, pelisanan-pelisanan sastra yang tak baik, sarasehan-sarasehan sastra yang tidak menyenangkan, dan orang-orang yang tidak bersikap dan bersimpati pada apresiasi sastra. Selanjutnya menghadirkan atau mempergelarkan karya-karya sastra yang baik, pelisanan-pelisanan sastra yang menarik dan memikat, sarasehan-sarasehan sastra yang bermakna, dan kelompok orang yang bersikap dan bersimpati pada apresiasi sastra.

Sebagai contoh, Hening Kusuma Hati adalah pengapresiasi sastra yang bersikap dan berperilaku negatif. Sikap dan perilaku negatifnya ini dapat dieliminasi atau dikurangi dan kemudian ditumbuhkan sikap dan perilaku positifnya dengan cara menyingkirkan hal-hal tak baik di atas dan selanjutnya menghadirkan hal-hal baik di atas di sekitar dirinya dan hidupnya sehingga dia merasakan iklim, suasana, situasi, dan lingkungan sekitarnya enak untuk melakukan apresiasi sastra. Hal ini dilakukan secara bersinambung dan bertahap sehingga lambat laun terbentuk suatu iklim dan lingkungan apresiasi sastra yang kondusif.

Keempat, menunjukkan dan memberikan teladan atau contoh-contoh manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Hal ini dapat dikerjakan dengan cara menginformasikan hiburan dan renungan yang terdapat dalam karya sastra yang telah diperoleh berbagai pengapresiasi, mempertemukan dengan orang yang telah memperoleh manfaat dan nilai guna karya sastra dan membaca karya sastra, menunjukkan manfaat dan nilai guna karya sastra bagi kehidupan sehari-hari, dan menjelaskan segi-segi positif bila membaca karya sastra, melisankan karya sastra, dan menonton lomba baca sastra.

Sebagai contoh, Intan Baiduri adalah pengapresiasi yang masih bersikap dan berperilaku negatif. Sikap dan perilaku negatifnya ini dapat dieliminasi dan kemudian ditumbuhkan sikap dan perilaku positifnya dengan cara memberikan informasi nilai guna spiritual-religius kalau membaca prosa liris Sayap-sayap Patah dan Sang Nabi (Khalil Gibran), mempertemukannya dengan Herlinawati yang telah merasakan manfaat melisankan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, menunjukkan nilai guna cerpen-cerpen Danarto bagi pembacanya, dan menjelaskan manfaat spiritual, religius, dan rohaniah kalau membaca Lautan Jilbab dan Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Emha Ainun Najib). Hal ini tentu saja harus dikerjakan secara teratur, ajek dan bermakna agar terlihat hasilnya. Jika dikerjakan hanya sekali saja tentulah tidak ada hasilnya.

Kelima, mengondisikan dan memberikan perlakuan tertentu yang dapat atau memungkinkan menggiring dan mengarahkan pengapresiasi sastra untuk mendekati karya sastra, membaca karya sastra, melisankan karya sastra, menyimak pelisanan karya sastra, dan mengikuti lomba baca sastra. Pengondisian dan pemberian perlakuan ini dapat dikerjakan dengan cara memberi tugas untuk membaca karya sastra atau melisankan karya sastra, memberikan tugas untuk membuat ulasan tentang kegiatan pelisanan sastra, dan mengajak melihat pameran-pameran sastra. Harus diakui, hal ini sulit dikenakan pada pengapresiasi sastra pada umumnya. Hal ini terutama dapat diterapkan oleh guru bahasa atau sastra yang mengajarkan apresiasi sastra kepada peserta didiknya.

Misalnya, Dara Jingga Wulandari adalah guru bahasa Indonesia yang harus mengajarkan apresiasi sastra kepada murid-muridnya yang belum menyukai sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Untuk menumbuhkan kesukaan dan kecintaan kepada sastra dan kegiatan apresiasi sastra, dia dapat menyuruh muridnya membaca Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), memberikan tugas mengulas puisi yang dipamerkan di suatu pameran sastra, mengajak muridnya mendatangi pameran sastra, dan menyuruh muridnya membaca puisi-puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan J.E. Tatengkeng di muka kelas atau di taman sekolah. Ini perlu dilakukan berkali-kali, ajek, dan dalam jangka waktu cukup la ma agar pengondisian dan perlakuan benar-benar berhasil.

Kelima cara penumbuhan tersebut tidak harus digunakan secara serentak. Yang digunakan bisa salah satu atau dua di antara keempat cara tersebut. Cara yang mana yang digunakan perlu dipilih berdasarkan taraf kenegatifan sikap dan perilaku pengapresiasi sastra dan karakteristik pribadi pengapresiasi sastra. Ketepatan pemilihan cara akan menentukan keberhasilan penumbuhan sikap dan perilaku positif dalam apresiasi sastra di samping keajekan, keteraturan, dan kebermaknaan cara penumbuhan.

Bersambung 20

*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *