Ekonomi

Perang Israel-Hamas Berimbas pada Wisata Religi Indonesia

83
×

Perang Israel-Hamas Berimbas pada Wisata Religi Indonesia

Sebarkan artikel ini


Begitu pecah perang antara Israel dan Hamas, kesibukan meningkat luar biasa di banyak biro perjalanan yang menawarkan wisata ke Yerusalem. Mereka menghubungi mitra bisnis, tetapi pada saat yang sama, mereka juga dihubungi para calon wisatawan. Satu dari biro perjalanan itu adalah Cahaya Kaabah. Pemilik agen wisata itu Agus Widodo menjelaskan apa yang ia lakukan.

“Hampir seluruhnya untuk me-reschedule jadwal ke Palestina atau ke Yerusalem atau ke Masjidil Aqsa,” tuturnya.

Sedianya Agus memberangkatkan sekelompok jemaah ke Masjid Aqsa pada November dan Desember. Perang mengubah rencana itu.

Agus mengatakan, “Kami sampaikan kepada jemaah. Ya, untuk keamanan bersama. Dan jemaah juga merasa bahwa sepertinya keadaan di sana tidak aman. Ada konflik. Jemaah dengan keridhoan, setuju menunda atau me-reschedule keberangkatan di bulan Januari sebagaimana saran dari travel agent dan travel agent juga sesuai saran dari kantor kami di Palestina.”

Biro perjalanan lain, Indah Wisata, juga mengambil langkah yang sama, membatalkan perjalanan sekitar 20 orang ke Yerusalem pada November. Pemilik agen, Bungsu Sumawijaya mengatakan perjalanan diundur enam bulan. Mengapa begitu jauh?

“Kita bicara masalah psikologis peserta. Beritanya kan luar biasa. Ada bom, ada orang…rumah sakit dibom. Pokoknya mengerikan sekali. Jadi, orang takut ke sana. Nah, untuk kembali dari takut, mau pergi lagi, itu butuh waktu. Butuh waktu bagi mereka untuk kembali jalan,” kata Bungsu.

Bungsu masih menghubungi berbagai pihak terkait, utamanya maskapai penerbangan dan hotel supaya perusahaan tidak kena denda atau dibebankan biaya pembatalan. Maskapai dan hotel di Yerusalem umumnya mengerti. Ia masih bernegosiasi dengan pihak hotel di Arab Saudi, bagian awal keseluruhan perjalanan mereka. Kalau pemotongan tidak bisa dihindarkan, kata Bungsu, ia akan bekerja sama dengan travel agency lain untuk mengisi kamar-kamar hotel yang sudah ia pesan.

Jemaah “Indah Wisata” berpose di dalam Masjidil Aqsa (foto: courtesy).

Umumnya pihak-pihak terkait pembatalan ini bisa mengerti, kata Agus. Mereka memahami bahwa keamanan dan keselamatan adalah prioritas. Toh, rencana dialihkan. Tidak dibatalkan. Dan agen-agen wisata melakukan saran dari mitra-mitra bisnis yang lebih megetahui situasi di lapangan.

Namun, kata Agus, bagi sebagian agen wisata dan jemaah, lokasi konflik yang sekitar tiga jam perjalanan darat dinilai cukup jauh. Jadi,

“Ada satu dua (biro perjalanan) yang tetap ke Masjidil Aqsa dan pintu melalui Israel pun dibuka sebenarnya. Tidak ditutup,” ungkapnya.

Agus menambahkan, ada kelompok jemaah mitra bisnisnya yang tidak mendapat visa ke Palestina. Agen wisata tersebut kemudian mengalihkan perjalanan ke Maroko, dan jemaah menyetujui.

Travel Agent Central, yang memberi informasi dan nasehat untuk industri wisata, dalam situs webnya mengatakan, imbas perang Israel-Hamas jauh ke luar perbatasan kedua pihak yang terlibat. Biro-biro perjalanan kini menjauh dari Israel bahkan kawasan Timur Tengah. Agen-agen wisata melaporkan kepada Travel Agent Central bahwa klien mereka membatalkan perjalanan ke Yordania, Mesir, Maroko, Oman, Uni Emirat Arab, bahkan ke Spanyol dan Portugal.

Sebagai wakil ketua DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Bungsu Sumawijaya mengatakan organisasinya sedang melakukan pencatatan, berapa dari 621 anggota Amphuri yang terimbas perang.

Baru beberapa yang melaporkan terimbas, kata Bungsu. “Sementara ini kami sedang mendata masukan dari anggota. Langkah berikutnya apa, nanti akan kami tindak lanjuti.”

Sedangkan untuk umrah regular, Bungsu menekankan, itu beda negara.

Jadi, “InsyaaAllah, Alhamdulillah. Aman,” ujarnya.

Di Yerusalem, kantor berita Associated Press melaporkan kota yang hidup dari wisata itu sepi. Toko-toko dan bisnis tutup. Hotel-hotel sibuk, mencatat pembatalan pemesanan. Jumlah kerugian finansial belum jelas namun kemungkinan sangat besar.

Selain mengimbas calon pengunjung, perang memaksa berbagai maskapai membatalkan penerbangan ke Tel Aviv.

Cathay Pacific mulai Minggu, 22 Oktober, menangguhkan penerbangan Hong Kong-Tel Aviv hingga akhir tahun, bergabung dengan sejumlah maskapai yang telah lebih dulu membatalkan penerbangan ke Tel Aviv. Cathay meminta pelanggan agar terus mengecek informasi untuk keberangkatan setelah 31 Desember.

American Airlines, Air France, Lufthansa, Emirates dan Ryanair juga menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv mulai akhir pekan lalu. Sedangkan Delta membatalkan semua penerbangan ke Israel sementara mencari “alternatif aman” ke Tel Aviv.

Sejauh ini, maskapai Israel, El Al, tetap melakukan penerbangan dari dan ke Tel Aviv. Dalam pernyataannya, El Al mengatakan, maskapai beroperasi “sesuai instruksi pasukan keamanan Israel.” [ka/ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *