Ekonomi

Perekonomian dan Sistem Keuangan Indonesia Stabil Pada 2023

54
×

Perekonomian dan Sistem Keuangan Indonesia Stabil Pada 2023

Sebarkan artikel ini



Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, penilaian KSSK ini merupakan berita positif di tengah risiko perlambatan ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Jadi seluruh sistem keuangan domestik dan kondisi perekonomian terjaga baik dan mampu mendukung pemulihan serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkap menkeu dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/1).

KSSK sendiri terdiri dari Menkeu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Masih menurut menkeu, perkembangan yang cukup baik ini salah satunya ditopang oleh konsumsi domestik yang diyakini bisa mensubstitusi sentimen negatif dari eksternal, dan juga investasi. Hal tersebut, katanya, terbukti dengan ekonomi Indonesia pada triwulan-III tahun lalu yang masih tumbuh 5,05 persen secara year to date.

“Pada triwulan-IV 2023, tanda-tanda resiliensi dari aktivitas ekonomi domestik tersebut masih berlanjut dan ini dilihat dari indeks PMI yang konsisten di zona ekspansif. Juga kontribusi surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut dan indikator dini yang masih kuat seperti indeks penjualan riil dan juga indikator keyakinan konsumen yang masih relatif stabil dan kuat. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan masih akan bertahan pada kisaran 5 persen. Sementara angka pengangguran menjadi 5,32 persen dan angka kemiskinan mencapai 9,36 persen,” jelasnya.

Faktor Risiko

Lebih jauh, menkeu mengatakan, risiko perlambatan ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global masih akan berlanjut pada tahun 2024. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini sebesar 2,4 persen. Angka tersebut turun dari proyeksi tahun lalu yang mencapai 2,6 persen.

Perekonomian negara-negara besar juga diramalkan masih akan sulit pada tahun ini. Menkeu mencontohkan Amerika Serikat yang meskipun perekonomiannya tumbuh kuat tahun lalu, masih dihadapkan pada tekanan fiskal, khususnya beban pembayaran bunga utang dan rasio utang pemerintahannya.

“Memasuki tahun 2024, berbagai risiko global tersebut masih harus terus kita cermati, yaitu perkembangan dan kecenderungan pelemahan ekonomi dari sejumlah negara-negara utama dunia juga meningkatnya tensi tekanan geopolitik yang makin eskalatif dan fragmentasi global yang akan juga menciptakan peningkatan tekanan fiskal di berbagai negara,” jelas menkeu.

Pemerintah, ujar Sri Mulyani, masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih sesuai dengan asumsi APBN 2024 yakni di kisaran 5,2 persen. Keyakinan tersebut, menurutnya, akan ditopang terutama oleh aktivitas penyelenggaraan pemilu yang diharapkan berdampak positif pada konsumsi masyarakat dan pemerintah, serta berlanjutnya pelaksanaan dan penyelesaian proyek-proyek strategis nasional pada tahun 2024.

Ekonom Salamuddin Daeng mengungkapkan sistem keuangan domestik selama ini cenderung stabil. Hal tersebut, menurutnya, salah satunya dikarenakan sebagian besar investasi masuk ke sektor yang cenderung aman dan stabil, yakni instrumen portofolio surat utang negara.

Meski begitu, ia menegaskan, yang perlu diwaspadai di dalam sistem keuangan domestik adalah dampak kebijakan fiskal negara besar seperti Amerika Serikat.

“Cuma yang perlu diwaspadai bahwa ke depan, kebijakan The Fed (bank sentral AS, red) apakah terus akan mendorong suku bunga, dimana sekarang sudah 5,2 persen jadi itu angka yang tinggi sekali dan itu akan mendorong uang akan pulang kampung ke Amerika sana dan itu harus menjadi kewaspadaan terus menerus,” ungkap Salamuddin.

Menurutnya, jika Indonesia terus menaikkan suku bunga acuan, akan ada konsekuensi tekanan terhadap investasi di dalam negeri. Maka dari itu, katanya, diperlukan keseimbangan antara suku bunga dan sektor riil agar kelak tidak terlalu menimbulkan gangguan terhadap perekonomian.

Terkait pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran lima persen, menurutnya, bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Tingkat pertumbuhan tersebut menurutnya cukup standar yang mana tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, namun juga sulit untuk tumbuh lebih dari lima persen.

Ia mengakui bahwa konsumsi rumah tangga menjadi penopang kuat perekonomian domestik selama ini, dan menurutnya hal tersebut akan berlanjut pada tahun ini. Ia pun menyoroti penyaluran bantuan sosial (bansos) yang menurutnya cukup tepat dilakukan oleh pemerintah untuk lebih mendorong konsumsi masyarakat.

“Di tengah situasi krisis di manapun di seluruh dunia secara teori, itu kalau ekonomi belum pulih ya campur tangan pemerintah yang paling utama. Nah campur tangan pemerintah yang paling tepat ya bansos, karena kalau membangun industri, produktivitas dan lain-lain itu butuh waktu. Tapi kalau yang langsung bisa dengan bantuan pemerintah, karena kalau suku bunga juga tidak bisa mengangkat, menurunkan suku bunga juga tidak mungkin. Maka, ya… paling bisa dilakukan dengan pemerintah turun tangan mengguyur uang ke publik. Itulah yang bisa menopang konsumsi dan strategi itu ampuh menurut saya.” jelasnya.

Pada tahun 2024, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran lima persenan karena masih ditopang oleh konsumsi yang kuat dari perhelatan pemilu yang berlangsung hampir sepanjang tahun ini. Namun, ia tetap memperingatkan agar pemerintah selalu tetap waspada terhadap berbagai sentimen dari dalam dan luar negeri. [gi/ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *