Puisi-Puisi Imamuddin SA – – SastraMagz.com

  • Whatsapp
banner 468x60


PADA MUSIM YANG MENDUNG

Bacaan Lainnya
banner 300250

musim tanam telah tiba, anakku
ia mengetuk-ngetukkan tangannya di dada ayahmu
tidak keras namun menyesakkan
setiap gerak jarinya merajut kemarau
walau tubuh hujan berkali membikin basah

adakah esok hari kan menghapus mimpiku?
betapa gersang ayahmu membumikan padi
sementara gedung dan rumah semakin rimbun
diguyur ingin

anakku yang meringkuk membidik resahku
beranjak memungut sepi dan memintalnya
lalu membekap dinginku

TIDURLAH AYAH
JEMPUTLAH MIMPIMU DI DADAKU;

anakku, tubuh adalah tanah basah
yang menyembunyikan suburnya
maka pada musim yang mendung
aku akan membenamkan benih di dadamu
biar esok tumbuh padi di kepalamu

Balun, 2019.

MENUNGGU HUJAN

menunggu hujan memang membosankan
dingin yang baik hati selalu menemaniku
deras suaranya mengingatkan aku pada lelah
lelap yang biasa aku kucilkan di sudut waktu

“darahmu sedang beku di kamar
tulangmu sedang menggigil di dapur”
bisik rindu mengumpat dalam saku celanaku

Lamongan, 2019

SEONGGOK BATU YANG TAK UTUH

secarik kertas lusuh menantangku berduel
esok aku akan bercerita di hadapannya
jadi juara dan menyerah piagam gembira
di hati ibu dan ayah

ah sampai batas waktu
sebuah kisah masih tak menyapaku
dan aku ingin belajar bercerita kepadamu

“menjenguk kakek adalah jalanmu
beribu abjad selalu tersimpan
di sakunya untukmu”
katamu

aku singgahi kakekku dengan segengam mimpi
mimpi yang masih pagi
astaga, aku sapa namanya pada seonggok batu
yang tak utuh. tiap abjadnya bercerita
tentang tubuhnya nan dingin ditelan sepi
dan rindu doa dari darahnya yang masih tersisa

“ADALAH DOA, TEMAN SUNYI PERJALANANKU”
tutur kakekku dan batu

Lamongan, 2019

SEPERTI DEBU

seperti debu
darah berhamburan
di jalanmu;
jalan yang licin
karena diguyur hujan;
hujan air mata
yang mengantar tubuhmu
hening

Lamongan, 2019

KENANGAN, RINDU, DAN SEBUAH PERJAMUAN

apa kabar kenangan
semoga kau sehat dan tak menghapus namaku
dalam buku ceritamu. karena kau adalah kenangan
maka akulah rindu yang mengalir dalam rimbun doadoa
di antara waktu. ingin bertemu. karena itu
aku takkan pernah selesai mengundangmu
dalam perjamuan kecil jantungku.

“SALAM KANGEN! MENGHARAP DENGAN HORMAT
KEHADIRAN KENANGAN
BESOK PADA TAHUN, BULAN, TANGGAL, DAN HARI AHAD
DI RUMAH RINDU
CATATAN: HARAP TIDAK MEMBAWA CEMBURU
DAN BATU-BATU!”

selamat datang kenangan
entah berapa panjang usiamu
menumpuk dalam rak usangku berdebu
entah berapa bait cerita yang kau tulis pada tiktak waktu
berlalu. dengan damai, aku persilahkan dirimu
memintal istirah dalam rumahku
setelah hujan mengguyurmu dalam sepi
semoga kau tak masuk angin.

ini perjamuan, kita akan kembali
mencicipi hidangan kemarin
yang pernah kita bikin berdua.
secangkir kopi hitam
yang kita sedu dengan rintik hujan;
hujan perasaan nan runcing yang luruh dari mata kita
di antara mata-mata terjaga
dan kita saling membuat ombak kecil-kecilan
dalam cangkir kebesaran

waktu itu, mendadak matahari cemburu menitipkan antara
sebelum kita benar-benar tenggelam dalam kopi
yang masih hangat dan wangi
lalu kita sama-sama pergi
memburu matahari dengan mata letih.

“SEKARANG MATAKAKI TELAH MENEMUKAN MATAAIR SENDIRI
SETELAH MENGEJAR MATAHARI
TAK KUNJUNG BERHENTI
LALU KITA PERLAHAN MENGHAPUS HUJAN
DAN HANGAT KOPI
TANPA MEMBELAH CANGKIRNYA YANG SEPI.”

selamat menikmati kenangan
mari kita hangatkan kopi yang sempat dingin ini
dan kita cecap pekatnya sebelum matahari mengusik kembali.

sontak aku terpukul. mendadak kau tumpahkan kopi
yang sejak kemarin aku genggam bersama inginku:
sebuah ingin yang menjadi angan
angan yang menjelma angin.

“BIARLAH SECANGKIR KOPI TUMPAH INI HARI
SEBELUM HANGAT, SEBELUM MENGUAP,
SEBELUM AWAN, SEBELUM HUJAN:
HUJAN AIRMATA YANG AKAN MENGERUHKAN MATA
AIR KITA.”

selamat tinggal rindu
perlahan aku telah menghapusmu
karena itu, kita pun telah menjadi kenangan
beku
dalam airmata waktu: sirri tuturmu.

“MAKA AKU PUN MENJADI TANDA SERU
DALAM BUKU CERITAMU”

Balun, Juli 2019


Imamuddin SA, nama aslinya Imam Syaiful Aziz, lahir di Lamongan 13 Maret 1986. Aktif di Kostela, PUstaka puJAngga, FSL, FP2L, dan Literacy Institut Lamongan. Karya-karyanya terpublikasi di: Majalah Gelanggang Unisda, Majalah Intervisi, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, Majalah Indupati, Warta Bromo, dan Radar Bojonegoro. Puisi-puisinya terantologi di: Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Memori Biru, Khianat Waktu, Kristal Bercahaya dari Surga, Gemuruh Ruh, Laki-Laki Tak Bernama, Kamasastra, Tabir Hujan, Sehelai Waktu, Kabar Debu, Tabir Hijau Bumi, Bineal Sastra Jawa Timur 2016, Pengembaraan Burung, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, dan Serenada. Prosa-prosanya terpublikasi di: Mushaf Pengantin, antologi cerpen Bukit Kalam, Hikayat Pagi dan Sebuah Mimpi, Bocah Luar Pagar, Hikayat Daun Jatuh, dan Tadarus Sang Begawan. Pernah dinobatkan sebagai Juara 3 Mengulas Karya Sastra Tingkat Nasional tahun 2010, Harapan 2 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Jawa Timur 2018, dan Juara 2 Lomba Menulis Puisi Se-Kabupaten Lamongan 2019. Nomor telepon 085731999259. Instagram: Imamuddinsa. FB: Imamuddin.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *