Reaktivasi Perekonomian Melalui Wacana Program Work From Jogja

  • Whatsapp
Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Pesparawi Nasional 2022
banner 468x60


Suara-Pembaruan.com – Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji, menyampaikan bahwa Pemda DIY senantiasa berupaya untuk memulihkan sektor ekonomi, namun juga tidak mengesampingkan permasalahan kesehatan. “Pariwisata dan kesehatan biasanya dua sektor yang selalu bertentangan. Namun di DIY keduanya terus diupayakan. Pemda DIY melalui Dinas Pariwisata DIY berusaha menyeimbangkan meski nggak harus selalu duit,” jelas Aji.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Ia pun mengutarakan bahwa wacana program Work From Jogja yang digadang Dinas Pariwisata DIY adalah sebuah upaya pendongkrak pariwisata DIY. Melalui program ini, siapa pun yang hadir dan bekerja di DIY dapat menikmati insentif yang ditawarkan dalam bentuk produk suvenir, hotel, dan kuliner.

“Misalnya hotel, bukan hanya pemilik saja yang harus kita perhatikan tapi karyawan yang bekerja. Jadi kita himbau work from hotel begitu, sudah sejak tahun lalu sebenarnya. Namun karena muncul lagi wacana Work From Jogja, kita siap untuk berkolaborasi lagi. Saya kira teman-teman dari pegiat pariwisata sudah siap,” tukas mantan Kepala Disdikpora DIY ini.

Hal tersebut disampaikan Aji saat menjadi narasumber Seminar Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Perekonomian DIY, Rabu (09/06) pagi di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta. Turut hadir narasumber lain pada kesempatan tersebut yakni Wakil Kepala Kanwil Bank Indonesia Yogyakarta, Miyono; Direktur Utama BPD DIY, Santosa Rohmad; Asisten Perekonomian Pemerintah Kota Yogyakarta, Kadri Trenggono; dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bantul, Bambang Guritno.

Lanjut Aji, bentuk insentif yang diberikan bisa beragam. “Misalnya insentif yang diberikan nginap di hotel misalnya ada bonus melihat pertunjukkan yang diselenggarakan. Kerjanya kan siang, malam kita berikan insentif misalnya pertunjukan Ramayana atau apa. Bisa juga kita beri voucher makan di Malioboro, misal pecel lele. Tidak dithuthuk tapi justru didiskon,” jelasnya.

Menurutnya, pertumbuhan pariwisata DIY sangat bergantung pada kolaborasi dan kerja sama dari semua pihak. “Sesuai dengan semangat acaranya, gugur-gunung, saatnya kita semua dari berbagai sektor terus gotong royong dengan tujuan meningkatkan sektor perekonomian,” tambahnya. Ia berharap, sinergi yang tercipta ini tak hanya akan mendukung sektor perekonomian saja, melainkan juga sektor pendidikan DIY.

Aji menambahkan bahwa di sisi lain, selama masa pemulihan ekonomi, tidak ada kredit macet pada sektor perbankan. “Ada pula kerjasama antara perbankan dengan UMKM serta sinergi dengan komunitas, agar ekonomi DIY tidak terlalu terpuruk,” tambahnya.

Senada dengan ungkapan Aji, Kepala Kanwil Bank Indonesia Yogyakarta, Miyono, mengungkapkan jika ekonomi di DIY sangat bergantung pada pariwisata dan pendidikan. “Ekonomi DIY itu adalah crowd economy, jadi memang sangat bergantung pada kerumunan,” tukasnya. Menurutnya, reaktivasi pada kedua sektor tersebut akan membawa dampak positif terhadap recovery ekonomi.

Di sisi lain, Miyono juga mengungkapkan bahwa sinergi antara kedua sektor tercipta, persentase pertumbuhan ekonomi dapat meningkat pesat. “Kontribusi sektor pertumbuhan ekonomi DIY diproyeksikan dapat mencapai 64,6%. Pariwisata Langsung sebanyak 10.4%, Pendidikan Langsung sebanyak 8,1%, serta Pendukung Pariwisata dan Pendidikan dapat mencapai 46,1%,” ujar Miyono.

Miyono juga menuturkan, kontribusi wisatawan dan mahasiswa terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat besar. “Untuk wisatawan baik nusantara maupun mancanegara, dapat menyumbang hingga Rp20triliun, jumlah ini adalah 14,1% dari PDRB DIY. Sementara mahasiswa, menyumbang 14,7% dari PDRB DIY, berdasar data tahun 2019,” urainya. Miyono berharap, meskipun pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan pertama mencapai 6,21% dan terbaik se-Jawa, pada triwulan kedua ataupun selanjutnya, pertumbuhan ekonomi DIY dapat mencapai lebih dari 7%.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Rahardja yang ditemui seusai acara, mengatakan sejatinya pariwisata DIY telah siap menerapkan skema Work From Yogyakarta, seperti halnya yang telah diterapkan sejak tahun lalu melalui program staycation. “Banyak magnet yang bisa dimanfaatkan wisatawan ataupun pekerja yang hendak melaksanakan tugas dari Jogja sekaligus berlibur,” tambahnya.

Singgih berharap, tak hanya hotel saja yang dapat digunakan sebagai tempat singgah para wisatawan, namun juga desa wisata. “Apalagi koneksi internet di Jogja saya rasa tidak ada hambatan. Jogja saya kira punya potensi karena bisa ditempuh dengan moda apapun ya. Perlu mendapat perhatian pebisnis, government, kita dorong meeting exhibition yang ada di Jogja. Secara infrastruktur dan konektivitas, kita sangat siap,” tutupnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *