Satu Tahun di Belanda, Dubes Mayerfas Banyak Bikin Gebrakan –

  • Whatsapp


Bacaan Lainnya



Post Views:
3

Penulis: Walentina Waluyanti

CEKATAN, ramah, dan rendah hati. Pembawaan ini tidak mengurangi kewibawaannya. Ini kesan pertama penulis saat pertama bertemu Mayerfas, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Jabatan mentereng sebagai Dubes tak menjadi tembok pemisah yang membuat orang kaku saat berbincang dengannya.

Mayerfas gampang membuat suasana perbincangan menjadi cair. Saat mewawancarainya, wawancara berjalan serius tapi santai. Dari wawancara dengan pria kelahiran Padang Panjang Sumatera Barat, 61 tahun lalu ini, ternyata ada beberapa gebrakan yang telah dilakukannya. Apa saja?

Pertemuan Online dengan WNI di Belanda

Acara “Ngobrol Barena Mayerfas”: menampung keluhan warga Indonesia. (Dok. KBRI Den Haag)

Mayerfas mengadakan pertemuan online dengan warga Indonesia di Belanda. Pertemuan ini dia namakan “Ngobras”, singkatan dari “Ngobrol Bersama Mayerfas”. Lewat acara dengan format zoom  meeting ini, warga secara leluasa menyampaikan permasalahannya.

Jika ada yang bermasalah dengan paspor, misalnya, maka bisa langsung menyampaikannya kepada Atase Imigrasi, yang juga hadir dalam di sana. Mayerfas memang mewajibkan semua Atase dan Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) bagian pelayanan wajib hadir untuk mencatat keluhan warga.

Mereka yang punya masalah kehidupan dan membutuhkan layanan konsuler, bisa langsung mengirim email atau melakukan komunikasi lewat Whatsapp dengan staf KBRI Bidang Konsuler. 

Awal bertugas, Mayerfas menggelar webinar tentang masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa WNI di Belanda. Ini pertama kalinya KBRI mengadakan diskusi dengan bahasan topik sensitif. Pesertanya mereka yang menjadi korban KDRT itu sendiri.

Webinar ini begitu menarik banyak peminat, hingga dihadiri lebih dari 200 orang. Melalui webinar ini, warga dan korban KDRT bisa mendapatkan bantuan, sekaligus mencari solusi apa yang sebaiknya dilakukan.

Sebelumnya, banyak warga Indonesia yang sebenarnya ingin membantu temannya yang sedang mengalami kemalangan, tapi tak bisa melakukannya. Pasalnya mereka memiliki keterbatasan pengetahuan tentang aturan hukum di Belanda.

Webinar Keimigrasian dan KDRT warga Indonesia di Belanda. (Dok. KBRI Den Haag)

Selain itu, keterbatasan Bahasa sering menjadi kendala. Kebanyakan korban KDRT ini tidak mau pulang ke Indonesia dengan berbagai alasan. Padahal suami atau pasangannya, yang notabene orang Belanda atau orang yang menetap di Belanda, mengancam akan memulangkan korban ke Indonesia.

Nah, webinar yang diadakan dua seri berturut- turut ini, menjawab berbagai persoalan semacam itu. Webinar KDRT dan masalah keimigrasian di Belanda menghadirkan pengacara khusus untuk masalah keimigrasian dan pengacara khusus untuk masalah rumah tangga. Keduanya adalah pengacara senior asal Belanda yang selama ini sering membantu warga Indonesia di Belanda

Dari pengamatan, terkuak bahwa begitu banyak wanita Indonesia yang menikah dengan pria yang menetap di Belanda, kemudian menjadi korban KDRT. Inilah yang memunculkan ide untuk memberikan advis yuridis kepada warga Indonesia yang mengalami masalah terkait masaah hukum. Mereka bisa menghubungi bagian konsuler di KBRI untuk meminta advis yuridis yang diperlukan.

Selain itu, Mayerfas juga meningkatkan kerja sama yang lebih erat antar-pengusaha Indonesia di Belanda dan Eropa. Selama ini Mayerfas melihat pengusaha Indonesia di Belanda dan di Eropa, banyak yang tidak saling mengenal dan bekerja sendiri-sendiri. Padahal dengan saling mengenal dan bekerja sama memasarkan produk mereka, mereka bisa memiliki peluang yang lebih menguntungkan. Mayerfas mencontohkan, pengusaha-pengusaha Thailand dan Vietnam yang kompak bersatu.

Pertemuan dengan pengusaha Indonesia di Belanda dan Eropa. (Dok. KBRI Den Haag)

Mayerfas melihat jumlah diaspora di Indonesia punya potensi yang menguntungkan buat para pengusaha Indonesia. Jumlah diaspora, yang jika dihitung dengan keturunan Indonesia Belanda beserta pelajar dan mahasiswa, mencapai sekitar 2 juta orang. Jumlah yang amat besar, karena angka ini sama dengan 10 persen dari jumlah penduduk Belanda!

Nah, dengan adanya kekompakan antar-pengusaha Indonesia, Mayerfas mengharapkan pengusaha kecil bisa menjadi besar, dan pengusaha besar menjadi semakin besar. Sedangkan yang bukan pengusaha bisa menjadi pengusaha.

Pada pertemuan antar-pengusaha itu juga dihadirkan para mahasiswa. Sehingga mereka bisa belajar dari pengalaman para pengusaha yang hadir di sini, atau malah bisa menjadi partner usaha nantinya.

Mayerfas juga mengharapkan kerja sama ekonomi ini bisa menghasilkan sesuatu yang nyata. Kalaupun sekarang hasilnya belum kelihatan, paling tidak, sudah ada kemajuan menuju hasil yang konkrit.

Pelayanan KBRI bagi WNI Tidak Hanya di Den Haag

Pelayanan Keimigrasian di acara Pasar Malam. (Dok. KBRI Den Haag)

Mayerfas sudah dua kali membuka pelayanan bagi warga Indonesia di beberapa kota selain Ibu Kota Den Haag. Yaitu pada acara Pasar Malam Indonesia yang digelar di kota Heerlen (2/10) dan di kota Eindhoven (30/10).

Di Pasar Malam itu, warga bisa mendapatkan pelayanan pengurusan dokumen dari staf KBRI. Alasannya simpel saja. “Kasihan warga yang rumahnya jauh dari Den Haag. Mereka terpaksa mengambil cuti untuk mengurus paspor atau dokumen lainnya. Belum lagi biaya transpor yang tidak murah, terlebih kalau punya anak kecil. Jadi kami lah yang datang ke kota yang banyak orang Indonesianya. Mereka bisa datang ke acara Pasar Malam terdekat,” tutur pria kelahiran tanggal 10 Mei 1960 itu.

Di acara itu, warga bisa bersilaturahmi sambil mendapatkan pelayanan keimigrasian. Bukan hanya soal imigrasi, warga juga bisa mengunjungi bagian konsuler dan pendidikan atau pengurusan legalisasi surat.

Layanan ini Mayerfas istilahkan dengan “jemput bola”. KBRI tidak perlu menunggu masyarakat datang untuk mendapatkan pelayanan. Tetapi KBRI sendiri yang mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan.

Selain di Pasar Malam, staf KBRI juga mendatangi kaum lanjut usia (lansia) dan difabel yang membutuhkan pelayanan pengurusan dokumen. Mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke KBRI di Den Haag, tapi staf KBRI sendiri yang akan mendatangi mereka. Jika pengurusan dokumen selesai, dokumen itu akan langsung diantarkan kepada mereka.

Jemput bola dan memberikan respon cepat terhadap permasalahan warga Indonesia di Belanda, bagi Mayerfas adalah bentuk pengabdian terhadap warga.

Blusukan ala Mayerfas

Menyambangi rumah makan khas Indonesia di Belanda. (Dok. KBRI Den Haag)

Sejak menjabat sebagai Duta Besar, Mayerfas rajin melakukan blusukan. Ia seringkali menyambangi rumah makan atau warung Indonesia. Jumlahnya mencapai 300 rumah makan.

Pada saat mengunjungi rumah-rumah makan Indonesia di Belanda, Mayerfas mendengarkan keluhan mereka, yang umumnya sulit mendapatkan koki Indonesia. Ia melihat terbukanya peluang kerja bagi warga Indonesia di Belanda, saat mengunjungi rumah-rumah makan Indonesia ini.

Saat bersepeda di satu kota, saat bertemu dengan warga Indonesia, ia akan berhenti dan bercakap-cakap dengan mereka. Dari percakapan ini, ia bisa mendengarkan keluhan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan warga Indonesia yang ditemuinya.

Saat memanfaatkan waktu luang di luar jam kerja pun, Dubes Mayerfas mengharapkan tetap bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi warga. ***

Editor: Tian Arief

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *