Selayang Pandang Sastra Dayak – – temposiana.com

  • Whatsapp
banner 468x60


Setia Budhi, Ph.D *
Radar Sampit, 19 Juli 2020

Bacaan Lainnya
banner 300250

Abstrak

Sastra tulisan oleh penulis Dayak sebenarnya sudah lama ada. Bahkan, beberapa berkelas dunia. Sayangnya, belum ada yang mengumpulkan karya-karya mereka yang terserak dan tercerai-berai dimana-mana, di sepanjang zaman. Hingga kini, memang tidak banyak penulis, pengarang, dan sastrawan, yang lahir dari etinik ini. Akan tetapi, diantara mereka telah mengambil bagian dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia. Katakanlah misalnya nama Fridolin Ukur -salah seorang anggota Angkatan’66, JJ. Kusni – mantan sastrawan eksil selama beberapa tahun, Korrie Layun Rampan – penggagas Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia, kritikus sastra R. Masri Sarep Putra – penulis, pengarang, dan sastrawan profilik sebagai anggota Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia. Peran dan kiprah mereka ini sangat diperhitungkan dalam blantika sastra Indonesia. Meski tertinggal seabad dari sastra Minang, sastra Dayak mulai menunjukkan jati dirinya. Kini kita bisa mulai menikmati syair-syair bernuansa etnik oleh Ding Ngo Syair Lawe’, Pahlawan demi Kekasih (bersama S. Lii Long) terdiri atas 5 volume dan diterbitkan Gadjahmada University Press pada 1984/1985, karya-karya itu masih berserakan di sana-sini dari kawasan Kalimantan dan Borneo. Tahun 2000-an itu, sastra Dayak telah menjemput zamannya. Bukan saja Korrie, tapi Mursani Mangkahui hingga pujangga terkini Budi Miank.

Pendahuluan

Deskripsi singkat ini ingin menarasikan dua hal: pertama, menelusuri perkembangan sastrawan di Kalimantan, kedua, membincangkan sastra Dayak dan dunianya. Beberapa catatan dalam makalah ini bersifat pandangan penulis dengan mengambil beberapa sumber lain sebagai pelengkap.

Pertanyaan kita adalah bagaimana perkembangan sastra Dayak? Dimana ia bermula, dimanakah meletakkan akar tunjang Sastra Dayak? Siapa yang bertanggung-jawab untuk kemajuan sastra Dayak di masa depan?

Sastra Dayak adalah sastra yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang terikat adat-istiadat, bahasa, dan budaya. Ia berwawasan lokal dan tradisional. Pada umumnya, sastra Dayak yang paling penting adalah bersifat verbal atau tutur. Ujaran dari mulut ke mulut yang berdampak pada pemaknaan penerima ujaran tersebut. Banyak versi yang lahir karena fenomena ini.

Perkembangan sastra Dayak terutama dibentuk di pedalaman dan dalam komunitas penutur berbahasa Dayak. Ia berkembang bersamaan dengan upacara-upacara adat seperti Balian, Mamang, Badewa, Basarung, maupun upacara pengobatan dan puja-puji para leluhur. Pada setiap Balian ada mantra, pada Badewa ada mantra Batatabur. Mantra adalah sastra tradisonal yang bahkan lahirnya ribuan tahun pada peradaban manusia di Kalimantan.

Mantra, pantun, teka-teki, cerita binatang, cerita asal-usul, cerita jenaka, dan cerita pelipur lara merupakan golongan cerita yang hidup dan berkembang secara turun-temurun. Cerita ini dapat dianggap sebagai karya sastra taraf permulaan. Dalam banyak jenisnya, mantra dikenali sebagai pengobatan, mula bertanam, adat perkawinan, jampi, dan tawar.

Pada upacara, balian memiliki kekuatan menyembuhkan penyakit, harapan kesembuhan, terhindar dari berbagai kesialan dan terlindungi dari halangan dan rintangan. Penuturan mantra-mantra yang dinarasikan pembalian baik dalam bahasa setempat maupun Sangiang.

Beras kuning
Terbang ke udara
Beras putih-hitam
Terbang ke udara
Sukma pulang ke sukma

Syarat-syarat formal kesastraan (literary concepts) yang lazim digunakan dewasa ini hanya akan merujuk pada bentuk-bentuk sastra modern, yakni karya-karya yang sudah mendapat pengaruh tradisi sastra barat (Eropa dan kemudian Amerika) sejak awal abad ke-20. Mengenai perbedaan konsep “sastra klasik” dan “sastra modern” – juga “sastra Nusantra” dan “sastra Indonesia” ? secara ringkas baca, misalnya uraian Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung, Binacipta, 1991), hlm. 10.

Saya menduga bahwa sastra Dayak terbagi atas dua yaitu sastra Dayak klasik dan sastra Dayak modern-kontemporer. Pembeda keduanya berasal mula dari aspek bahasa yang dipergunakan. Sastra Dayak klasik menggunakan bahasa yang dituturkan melalui upacara-upacara. Saya menyebutnya dengan “Sastra Sangiang”. Sementara sastra Dayak Kontemporer adalah sastra yang disampaikan melalui karya tulis yang diterbitkan baik puisi, cerita pendek, dan novel.

Perkembangan Sastra(wan) di Kalimantan

Berikut saya kutip secara lengkap penjelasan ini dari tulisan penyair Kalimantan Selatan Micky Hidayat (2008). Dalam hal seni-budaya, Kalimantan sebagai salah satu kantong budaya di Indonesia sejak dulu memiliki seniman-seniman kreatif yang menciptakan karya seni-budaya berbagai ragam yang berkualitas ? sebagai produk budaya yang didalamnya terkandung harkat atau kemaslahatan hidup bermasyarakat, adat-isitiadat, ritual-ritual, berbagai pemikiran, perasaan, pandangan hidup maupun nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Beragam karya seni yang hingga kini terus dipelihara atau dilestarikan antara lain: berpuluh jenis seni tari, seni suara, seni lukis, seni ukir, dan seni sastra (syair, pantun, sastra lisan lamut, bakisah, dan madihin). Menyangkut tradisi penulisan sastra Indonesia modern di 4 provinsi Kalimantan, kemunculannya tidaklah bersamaan. Kegiatan penulisan sastra Indonesia di Kalsel dimulai pada 1930-an, Kaltim 1940-an, Kalbar 1950-an, dan Kalteng 1960-an.

Sastra Indonesia di Kalimantan sesungguhnya sudah mulai berkembang sebelum perang dunia kedua, sekitar pertengahan atau akhir 1930-an, atau hampir bersamaan dengan kurun waktu kegiatan penulisan yang dilakukan oleh para sastrawan Angkatan 1930-an (Angkatan Pujangga Baru). Meskipun pada kurun waktu awal penulisan para sastrawan tidak setenar Angkatan Pujangga Baru karena mereka umumnya penulis pada penerbitan (majalah dan koran) lokal, tidak sebagaimana sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang menciptakan kerya-karyanya menjadi karya monumental karena menulis dalam majalah Pujangga Baru ? satu-satunya penerbitan penting yang memuat karya sastra para sastrawan di zamannya. Para sastrawan Kalsel yang memulai kegiatan penulidan karya sastra ini antara lain Merayu Sukma, Anggraini Antemas (Yusni Antemas), M. Yusuf Aziddin, Artum Artha, Ramlan Marlim, Hadyaryah M., Merah Danil Bangsawan, dan lain-lain. Mereka juga telah mempunyai sejumlah buku, baik yang diterbitkan Kalsel atau usaha sendiri, maupun di luar Kalsel.

Namun kegiatan para sastrawan ini cenderung beraktivitas secara sendiri-sendiri atau belum terakomodasi atau terhimpun dalam satu institusi sebagaimana Pujangga Baru. Para sastrawan yang bermodalkan bakat alam inilah diklaim sebagai generasi sastrawan perintis kesustraan Indonesia modern di Kalimantan. Pada umumnya para sastrawan perintis ini pada masa revolusi fisik juga aktif terlibat dalam pergerakan politik untuk mencapai Indonesia merdeka.

Dalam sejarah sastra Indonesia modern terdapat periodesasi yang disebut juga angkatan dalam kesustraan Indonesia. Pada kurun waktu 1942 hingga awal 1950-an, kesustraan Indonesia diisi oleh generasi atau yang dikenal dengan Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Pada kurun waktu ini, bermunculan pula karya para sastrawan Kalsel baik dari mereka yang menulis sebelum tahun 1940-an maupun mereka yang baru memublikasikan karyanya dalam periode ini seperti Arthum Artha yang produktif memublikasikan karya puisi, cerpen, dan romannya di media massa berwibawa di Jakarta seperti majalah Mimbar Indonesia dan Siasat/Gelanggang. Sederet nama lain yang juga intensif menulis dan memublikasikan puisi-puisinya ke majalah Mimbar Indonesia, Waktu, Pantja Warna, dll adalah Maseri Matali, Asyikin Noor Zuhri, Masrin Mastur, dll. Penyair Maseri Matali sendiri sempat disinggung oleh Paus Sastra H.B. Jassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya sebagai salah seorang penyair berbakat dari pedalaman Kalimantan yang bersahut-sahutan dengan generasi seangkatannya (Angkatan 45).

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Tengah tidaklah sesubur di Kalsel, Kaltim, maupun Kalbar. Sastrawan, pengamat, dan peneliti sejarah kesustraan di Kalimantan seperti Korrie Layun Rampan pun merasa agak kesulitan menelusuri jejak-jejak sastra di bumi Tambun Bungai ini. Tidak seperti daerah tetangga dekatnya, Kalsel. Setelah generasi sastrawan Tjilik Riwut, J.F. Nahan, Marsiman Affandie, Badar Sulaiman Usin, JJ. Kusni, dan Joko S. Passandaran, regenerasi sastrawan di daerah ini dari dekade ke dekade berjalan sangat lamban. Sastrawan kalteng yang karyanya mampu berbicara dalam skala nasional antara lain Badar Sulaiman Usin (Haji Achmad Badar bin Sulaiman Usin Buthaib), kelahiran Kabupaten Pulang Pisau, 9 April 1927. Ia adalah sastrawan perintis kesusastraan Indonesia modern di Kalteng dekade akhir 1940-an dan merupakan satu-satunya sastrawan paling produktif melahirkan karya sastra terutama puisi hingga menjelang akhir hayatnya. Buku puisinya yang sempat diterbitkan adalah Rambatan (penerbit Keluarga Besar Garasi, Palangka Raya, 2000). Tentu saja perkembangan sastra yang paling menonjol di Kalimantan Tengah adalah karya-karya Fridolin ukur.

Di samping sajak, ia juga menulis cerpen, esai sastra, cerita rakyat, dan reportase seni-budaya daerah Kalteng, dan dipublikasikan di media masssa cetak Jakarta dan berbagai daerah di tanah air. Cerpennya berjudul Pertemuan dengan Musim meraih Juara Harapan I sayembara mengarang fiksi majalah Sarinah, Jakarta. Sastrawan yang juga pensiunan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah ini dikenal sangat tekun membina para penyair pemula maupun penyair muda Kota Palangka Raya dan gigih dalam mengembangkan sastra di wilayahnya. Ia meninggal dunia di Palangka Raya, 23 Mei 2002. Kemudian Marsiman Affandie dengan sejumlah sajaknya yang dihimpun dalam antologi Perkenalan dalam Sajak, bersama dengan para penyair lain dari seluruh Kalimantan.

JJ. Kusni, sastrawan kelahiran Kabupaten Katingan, yang karena pergolakan politik di Indonesia 1960-an mengharuskannya menjadi sastrawan eksil di mancanegara dan sejak 2003 hingga sekarang tinggal di Paris sebagai dosen serta masih aktif menulis, terutama sajak dan esai sastra di media Indonesia maupun di situs cybersastra.net. Antologi sajaknya yang paling akhir Sansana Anak Naga (penerbit Ombak, Jogyakarta, 2005).

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Timur terjadi di sekitar tahun 1940-an. Karya sastra awal ini terutama dari genre puisi yang dipublikasikan melalui surat kabar Masyarakat Baroe pimpinan Oemar Dachlan yang terbit di Kaltim. Umumnya puisi-puisi para penyair ini bernapaskan romantik revolusi dan perjuangan melawan penjajah. Para penyair mula ini adalah kaum remaja terpelajar yang telah mengenyam pendidikan di zaman kolonial Belanda. Di antara yang paling terkemuka ialah Ahmad Dahlan (nama samarannya D. Adham) yang pernah menjadi anggota DPR/MPR RI. Kemudian Mansyah Usman (mantan Direktur Bank Pembangunan Daerah Kaltim), Oemar Mayyah Effendi, Maswan Dachri, Kadrie Oening (mantan Walikota Samarinda), M. Suhana, Burhan Dahlan, Haji Ami, dan lain-lain. Dekade 1950-an, antara lain A. Sani Rahman, Hamdi Ak, Abd. Alwie, E.M. Adeli, Hiefnie Effendi, Ahmad Noor, Masdari Ahmad, H.M. Ardin Katung.

Dekade 1960-an, banyak sastrawan yang muncul, tetapi dari sebagian besar usia kepenulisan sastrawan generasi ini relatif pendek. Di antara nama yang menonjol dari generasi ini adalah Djumri Obeng, Awang Shabriansyah, Sudin Hadimulya, Hermansyah, dll. Djunri Obeng dan Awang Shabriansyah menulis beragam genre karya sastra seperti cerpen, sajak, novelet, novel, dan naskah drama, dan karya-karya mereka sempat muncul di majalah Sastra pimpinan H.B. Jassin. Langit Hitam yang dimuat di majalah Sastra kemudian dipilih untuk sebuah antologi dwibahasa: Indonesia-Perancis. Novelnya Dunia Belum Kiamat dan novel otobiografis Merah Putih di Langit Sanga-Sanga termasuk novel yang menarik perhatian publik sastra khususnya mengenai latar Kalimantan Timur.

Sedangkan Awang Shabriansyah banyak menulis di majalah Budaya, Sastra, dan Mimbar Indonesia. Sajak-sajak dan cerpennya mencapai bentuk ucap yang matang dan ia beberapa kali mendapat hadiah sastra dalam penulisan sajak dan cerpen. Yang khas dan menarik dari Djumri Obeng dan Awang Shabriansyah, dunia yang ditampilkan keduanya adalah dunia pedalaman yang seluruhnya belum modern di tengah dunia modern kita dewasa ini. Djumri Obeng umumnya menggarap tema-tema mite dan legenda dari masyarakat Dayak pedalaman. Cerpen, sajak, dan drama-dramanya banyak berkisah tentang roh-roh halus, setan, demit, serta situasi dan kondisi masyarakat Dayak pedalaman yang sederhana dan belum tersentuh kemajuan. Sedangkan Awang Shabriansyah banyak menggarap tema dukun dan dunia perdukunan, dunia niaga, kerinduan, nostalgia, dan sebagainya.

Pertumbuhan dana perkembangan sastra di kalimantan Barat, tidaklah sesubur di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1950-an dan 1960-an yang muncul secara nasional hanya Munawar Kalahan, Herry Hanwari, Soesani A., dan Yusakh Ananda. Dan yang paling menonjol dari generasi sastrawan ini hanya Yusakh Ananda (nama aslinya Zubier Muchtar) yang karyanya pernah mendapat pujian H.B. Jassin, dan beerapa cerpen disertakan H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), dan di antaranya dibukukan dalam kumpulan cerpen Demikianlah Pada Mulanya (1980) menunjukkan konsistensinya di dunia sastra. Meskipun sastrawan ini tidaklah terlalu produktif menghasilkan karya, namun dua cerpennya yakni Kampungku yang Sunyi dan Masih Kuingat mampu menarik perhatian dunia dan diterjemahkan ke dalam dua bahasa: Perancis dan Belanda. Menurut Korrie Layun Rampan, karya-karya fiksi sastrawan kelahiran Kabupaten Sambas, Kalbar, 1934 ini, merupakan puncak atau periode awal tumbuh dan berkembangnya kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan Barat. H.B. Jassin dan Ajip Rosidi memberikan penghargaan yang pantas untuk sastrawan yang sampai hari tuanya terus menetap di Kalbar dan tetap setia berkarya. Dan atas dedikasi serta kualitas karya-karyanya itu maka kumpulan cerpennya Demikianlah Pada Mulanya secara khusus dibicarakan Korrie Layun Rampan dalam Cerita Pendek Indonesia, Buku II, seri khusus kritik cerpen.

Pada periode yang sama, Yusakh Ananda didampingi oleh rekannya, seorang penyair kuat dari Kalbar, Munawar Kalahan (kini sudah almarhum). Sajak-sajak penyair yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kalimantan Barat ini juga dinilai berkualitas. Generasi sastrawan baru yang muncul setelah Yusakh Ananda dan kawan-kawan adalah Khairani Harfisari, Sulaiman Pirawan, Sataruddin Ramli, Effendi Asmara Zola, dan lain-lain. Karya-karya mereka dipublikasikan di media massa lokal seperti koran dan radio di Kota Pontianak. Dekadde 1980-an, lewat komunitas “Kelompok Penulis Pontianak” (KOMPAK ? dideklarasikan 1 April 1984) yang dimotori oleh sastrawan muda Odhy’s dan kawan-kawan, generasi baru sastrawan mulai bermunculan, seperti Aant S. Kawisar (sempat menjadi redaktur di majalah sastra Horison), Aryo Amo Morario, Diant MST, Dharmawati TST, Mizar Bazarvio, Odhy’s, Tulus Sumaryadi, Tadjoel Khalwaty AS, Zailani Abdullah, Yudhiswara, Wyaz Ibn Sinentang, Chandra Argadinata, Mizan AR, Suwarto S., Uray Kastarani Has, dan Nie’s Alantas. Oleh perkembangan media massa, baik daerah maupun pusat (Jakarta), bermunculan pula nama-nama Mayzar Seylendra, Aspan Ananda, Pradono, Mulyadi, Syarif Zolkarnaen Shahab, Yoseph Oedilo Oendoen, Harun Das Putra, dll. Karya-karya mereka ini tersebar di harian Akcaya di Pontianak dan di sejumlah media massa di Jakarta seperti Horison, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kompas, Swadesi, Mutiara, Merdeka, Media Indonesia, Republika, Pelita, majalah Kartini, Amanah, Panji Masyarakat, dll.

Dari Fridolin Ukur ke Korrie Layun Rampan ke Masri Sareb Putra

Fridolin Ukur digemari oleh banyak kalangan sebagai penceramah favorit karena pembawaannya yang kocak. Ceramahnya padat dan singkat. Ia cakap bercerita. Hadirin meledak dalam tawa jika ia menceritakan anekdot yang nyerempet politik. Sumbangsih Ukur yang lebih khas adalah tulisannya. Ia banyak menulis di Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Berita Oikumene.

Sebagai satrawan dan penyair, ia juga banyak menulis puisi. Dua buku kumpulan puisinya diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dengan judul Darah dan Peluh dan Wajah Cinta. Pengembaraan batin Ukur nampak mempengaruhi karya tulisannya dan terutama dalam puisinya.

Waktu pun berbisik
Pengalaman yang berserakan
Jejak-jejak yang ditinggalkan
Adalah kelopak-kelopak bunga cinta,
Sebuah bunga rampai
Mekar di tangkai;
Seperti bianglala menganyam mimpi
Meraih, menggapai, memeluk fajar
Sebuah harapan tak pernah pudar!

Aku pun ikut berbisik:
Perjalanan ini, sayang
Bukannya ruang sempit dan lorong sepi!
Kembara ini, kasih
adalah jalan lebar menyemai cinta
Di atas bumi
Di antara sesama

Waktu adalah sebuah kompetisi, puisi Ukur berlari, bukan seorang diri melainkan dengan sang waktu, ia berpacu dengan waktu, ia dan waktu berlari bersama tiap hari, namun sering ia merasa ditinggal oleh waktu. Ia merasa dikhianati oleh waktu. Tetapi yang terpenting bahwa puisi Ukur menarasikan pergulatannya kepada Tuhan.

Apabila waktu mengkhianati aku
Ketika aku disibuki dengan ceramah
Ketika aku berkhotbah tentang
Cakar hitam dan pagi biru,
Ketika gairah kuhabiskan di konferensi
Dan rapat-rapat

Masih ada waktu melempar bayang
Menanya diri dan kesilaman:
Tentang khianat dan bakti
Tentang dosa dan pengampunan suci
Tentang kawan berdoa pengisi sunyi

Sesudah Ukur, saya membaca perkembangan sastra Dayak dengan sangat kuat dan pesat perkembangannya, ini ketika Korrie Layun Rampan kemudian memutuskan “pulang kampung”. Karya Korrie kemudian terus menggema di negeri ini dan kemudian menempatkan sastra Kalimantan Timur naik di panggung kesusastraan Indonesia. Sebagai seorang yang berlatar dari etnis Dayak, penulis secara gamblang mengekspos kehidupan masyarakat Dayak. Ritual upacara dalam masyarakat Dayak dikupas secara tuntas yang mana dalam kepercayaan masyarakat Dayak setiap individu sejak bayi sampai tua bahkan matipun harus menjalani upacara. Selain menelusuri upacara-upacara Suku Dayak, buku Korrie juga mengungkap kehidupan sosial, psikologi dan percintaan anak muda di kalangan masyarakat Dayak. Kebersamaan masyarakat Dayak menjadi sesuatu yang ingin disampaikan Korrie dalam bukunya. Makanya jika membaca buku Korrie, terasa ada kombinasi antara nuansa buadaya dan roman. Akan banyak kata-kata dalam bahasa Dayak dituangkan oleh Korrie pada buku “Upacara”, namun pada akhirnya pembaca akan mampu beradaptasi dan memahami kata dimaksud.

“Kayu Naga” merupakan buku yang berisi kumpulan 10 cerita pendek yang ditulis Korrie, diterbitkan oleh Yayasan Obor tahun 2007. Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini merupakan salah satu wujud pengucapan realisme dengan jiwa warna lokal. Sarat akan tema kemanusiaan yang berjuang di tengah-tengah alam raya. Alam dan lingkungan hidup di pedalaman Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Kutai Barat yang telah dirusak oleh sejumlah perusahaan raksasa di bidang perkayuan dan tambang, dimana tokoh-tokoh dalam cerita ini berjuang menemukan kemaslahatan kehidupan dengan cara yang sederhana, unik, dan mengandung kearifan nenek-moyang. Ternyata persoalan ekologi bukan hanya persoalan masyarakat lokal dan alam lingkungan yang rusak, tetapi lebih utama adalah persoalan manusia secara kesejagatan.

Cerpen ini berbicara secara lugas dan jujur tentang sebuah dunia yang sudah terlalu dalam terabrasi oleh berbagai kepentingan yang mengeksploitasinya untuk tujuan-tujuan tertentu. Nampak hanyalah sebuah dunia yang rusak, terlantar, dan bikin trenyuh. Dalam buku ini, penulis mencoba melampiaskan setumpuk keprihatinnya melalui kritik lewat tulisannya terhadap rusaknya hutan di tanah para leluhurnya. Karya Korrie, konsisten dengan dunia Dayak, suatu konsistensi dan pelajaran yang penting untuk generasi masa kini dan akan datang.

Sesudah Korrie, memasuki tahun 2000, tak ada penyair Dayak yang lebih produktif menulis dapat melampaui Masri Sarep Putra. Ia pada mulanya menjadi wartawan harian Suara Indonesia di Malang, khusus mengisi desk berita kota. Bersama pengarang senior Dwianto Setyawan, tahun 1985-1987, ia mengelola sebuah majalah komuntas terbatas di Kota Batu, Gempar. Bersama Wadas CM, Basuki Soedjatmiko, dan Sr. Vincentia, mengelola Busos (buletin sosial), terbitan sebuah yayasan di Surabaya. Ia pernah menjadi koresponden majalah Hidup untuk Jawa Timur, kemudian redaktur (1990). Ia juga wartawan UCANews.

Sudah aktif menulis sejak 1984, karya tulisnya dipublikasikan di Kompas, Jawa Pos, Surya, Tamasya, Suara Merdeka, Surabaya Post, Wawasan, dan berbagai media lainnya seperti Matabaca dan majalah pendidikan Educareas. Hasil publikasinya berupa artikel, feature, cerpen, dan resensi dikumpulkan dalam clear holder. Kini terkumpul dalam kliping sejak 1984 sebanyak 4004 tulisan.

Hingga Oktober 2016, ia telah menulis dan menerbitkan 74 buku. Bukunya Dayak Djongkang pada 2010 terpilih sebagai salah satu pemenang pada program Insentif Buku Ajar Perguruan Tinggi yang diselenggarakan DP-2M Dikti, Depdikbud. Pada 2014, Masri (bersama Gumelar) menulis dan menerbitkan Ngayau, novel berdasar sejarah suku bangsa Dayak. Pada 2014, ia menulis novel sejarah, Keling Kumang. Novel terbarunya berjudul Obituari Bertha (2016).

Korrie Layun Rampan dan Masri Sarep Putra, dua tunas sastrawan Dayak yang menjulang menjadi pohon tinggi di belantara sastrawan Indonesia. Pastilah banyak harapan terutama karya-karyanya yang memberi semangat tinggi untuk bersastra di kalangan generasi muda Dayak hari ini dan akan datang.

Syair, Bertunas di Pedalaman

Syair identik dengan masyarakat pesisir nampaknya telah terbantahkan. Setidaknya dua Syair Lawe (Dayak Kayan) dan Syair Datu Bahandang Balau (Dayak Bakumpai) telah mengubah peta asal mula dan perkembangan syair selama ini. Lahirnya karya sastra bernuansa etnik seperti Syair Lawe dan Syair Datu Bahandang Balau sepertinya merupakan hak atas zamannya. Kehadiran syair ini menambah lagi kedahsyatan sastra di Kalimantan dan karya itu bahkan tidak lahir di kota-kota, tetapi ia bangkit dari kawasan pedalaman.

Syair Lawe Dayak Kayan, kepercayaan yang diagungkan. Syair ini menggambarkan kehidupan, godaan-godaan, dan kemenangan dari seorang dewa bernama Lawe di dunia atas atau alam sesudah kematian.

“Pindahkanlah bicara
Ke dalam rumah sana,
Rumah empangan tanjung naga,
Rumah yang pindah kemudiannya,
Rumah tanjung naga air kepunyaan Iting Luno.”

“Layangkanlah pandangan
ke serambi muka Pahlawan,
layangkanlah pandangan ke serambi muka Balian,
serambi muka Iting Luno

(Ding Ngo, 1984:17)

Adapun syair Datu Bahandang Balau, mengisahkan tokoh, kehidupan masyarakat, kekuatan, kepercayaan, dan nilai solidaritas Orang Bakumpai di pedalaman Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Datu Bahandang Balau, sebagai tokoh utama syair ini menghadirkan karya sastra yang unik, penyairnya yang tinggal nun jauh di hulu Sungai Barito di Kampung Mangkahui.

Perhatikan syair berikut ini, syair aslinya berbahasa Dayak Bakumpai. Syair ini nampak dipengaruhi Syair Siti Zubaidah.

Suku Dayak Bakumpai yang mula-mula
Mereka adalah Bahandang Balau, tujuh orang bersaudara
Dari Bahandang Balau, turun-temurun sudahlah lama
Melewati lima generasi itulah Bakumpai adanya

Adapun yang menurunkan Suku Dayak bakumpai semuanya
Dari zaman dahulu sampai sekarang dan selanjutnya
Dari Bahandang Balau yang sudah tercampur darahnya
Dengan keluarnya bangsawan dari turunan raja-raja

(Mursani Mangkahui, 2010)
Akhir Kata

Sastra Dayak terus menunjukkan perkembangan yang pesat, unik, dan eksotik. Ia tidak berasal mula dari ruang hampa, tetapi sebuah belantara penuh tantangan untuk terus menggalinya. Sastra Dayak sebagai sebuah identitas, saya berkeyakinan akan menjadi bagian penting bagi perkembangan sastra dunia pada akan datang.

Tetapi, tentu saja hal itu tidak akan berarti apa-apa jikalau perkembangan yang baik ini tidak diikuti dengan pembinaan kepenulisan pada generasi muda Dayak, kurikulum sekolah, komunitas sastra Dayak dan bidang penerbitan.

Bangkitnya tokoh muda seperti Budi Miank adalah contoh yang baik kemunculan sastrawan Dayak di era digital ini, selain juga nama-nama seperti Alian Syahrani, Selamat Bakumpai, Budi Kurniawan, Marko Mahin, dan Darius Dubut serta deretan nama yang pastinya telah menghasilkan karya sastra. Mungkin karya itu telah dipublikasikan di kalangan terbatas ataupun telah dapat dinikmati di toko buku yang berkelas.

* Departemen Sosiologi Fakultas ISIPOL, Pusat Studi Masyarakat Adat, Universitas Lambung Mangkurat. Disampaikan pada Dayak Culture First International Congress, Bengkayang, 3-6 Juni 2017.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *