Skalie Temukan Separuh Bintang dari Rumah

  • Whatsapp
Skalie Temukan Separuh Bintang dari Rumah


Di tengah pandemi covid-19 yang sedang mewabah ini, di tengah pergerakan masyarakat yang dibatasi, dunia musik tanah air pun seakan mencapai titik nadir. Pertunjukan musik dihentikan dan tak banyak pula karya-karya yang dikeluarkan. Praktis, para penggiat musik mesti memutar otak untuk sekadar bertahan hidup. 

Bacaan Lainnya

Photo: doc. pribadi/ist

Salah satu cara yang paling sering dipakai adalah mengalihkan pertunjukan live ke pertunjukan virtual. Sebagian yang tidak nyaman dengan cara baru ini lebih memilih untuk berkarya di rumah saja. Sama halnya dengan Skalie, lebih dari satu setengah tahun mereka tidak mengadakan pertunjukan dan lebih memilih untuk berkarya di rumah. 

Hasil dari ‘di rumahkannya’ Skalie menemukan dan menciptakan sebuah karya “Separuh Bintang”. Single ini merupakan serpihan kecil dari bongkahan album ketiga Skalie. Separuh Bintang juga memperkenalkan warna baru yang berbeda dari warna-warna musik Skalie di album-album sebelumnya. 

Lagu Separuh Bintang digubah musiknya oleh Anggi Rambe, lirik ditulis oleh Hadi Subrata, dan diproduseri oleh Ridzki Ilham Akbar (Kiki). Aransemen lagu dibangun oleh Kiki yang juga bertindak sebagai music director di lagu ini dan di album ketiga nanti. 

Dia juga mengisi track gitar, bass, keyboard, dan drum sampling. Artwork sampul digital dibuat oleh P. Ramadhan dan foto hasil bidikan Kiki. Lagu Separuh Bintang mengangkat tema tentang ilusi. Manusia adalah makhluk yang gemar berilusi, senang menumpuk angan-angan agar kenyataan yang terhampar di depan, sepahit apapun itu, dapat ditelannya. 

Interpretasi yang salah dari pengindraan kadang memang kita perlukan untuk sekadar mengganti rasa sakit dengan sejuk udara surga. Apalagi di tengah pandemi yang entah sampai kapan akan berakhir ini.

Skalie terbentuk pada tahun 1995 di bagian timur kota Jakarta, Skalie merupakan salah satu pioner dalam revolusi musik ska atau rocksteady dan gerakan rude boys pertama di Indonesia, berasal dari sebuah slogan yang selalu mereka lontarkan pada saat itu “hidup cuma sekali, puaskan diri sebelum mati” mereka lalu mempelesetkan kata “sekali” menjadi “skalie” dan menjadikannya sebagai nama band.

Tahun itu pula skalie mulai aktif bermain di klub-klub dan cafe-cafe yang selalu dijadikan tempat musik-musik indie saat itu juga acara-acara musik di kampus serta sekolah-sekolah dengan mengcover lagu-lagu dari band ska Inggris idola mereka Madness dan The Specials.

Di tahun berikutnya Skalie sudah berhasil mengumpulkan banyak fans yang selalu setia datang di setiap pertunjukan mereka. Di periode tahun 1998-1999 menjadi tahun yang terberat untuk Skalie karena pada periode itu banyak masalah yang muncul di dalam internal band yang di sebabkan oleh ketergantungan drugs yang di alami oleh hampir dari seluruh personil Skalie, akhirnya mereka memutuskan untuk vakum di tahun 2000 justru di saat musik ska sedang menjadi histeria masa. 

Periode kedua di mulai pada tahun 2004 dengan formasi Hadi(vockal), Picko (guitar), Kentang (bass), Yoga (keyboard), dan Rennee a.k.a Botaxz (drum), Skalie hadir kembali tetap image yang sama dan musik yang sama dengan atitiude yang berbeda, mereka memutuskan untuk menjauhi dari “drugs and violence” diri untuk melakukan pertunjuka, mengumpulkan kembali penggemar-penggemar mereka serta membuat lagu dan pada tahun 2006.

Setelah sekian lama Skalie bergerilya di musik indie kini tiba saatnya bagi Skalie untuk menjalani tahap berikutnya, industri musik Indonesia.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *