TUJUAN APRESIASI SASTRA (5) – – SastraMagz.com

  • Whatsapp
banner 468x60


Djoko Saryono *

Bacaan Lainnya
banner 300250

Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia-pengapresiasi dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan aktif antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya perjamuan dan percakapan imajinatif literer antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Oleh karena itu, apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumapaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan literer. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia-percakapan.

Sejalan dengan itu, pada kehadirannya sendiri apresiasi sastra sesungguhnya mempunyai satu tujuan saja, yaitu membangun dunia-perjumpaan yang memungkinkan adanya dunia-perjamuan dan dunia-percakapan sehingga terselenggara perjamuan-perjamuan dan percakapan-percakapan antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Di dalam perjamuan dan percakapan inilah dunia-kewacanaan literer yang mutatis mutandis sastra bisa menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan sesuatu kepada manusia-pengapresiasi. Sebaliknya, manusia-pengapresiasi boleh dan bisa menerima, mencicipi, dan memperoleh sesuatu itu. Sesuatu yang dimaksud di sini setidak-tidaknya dapat berupa empat macam, yaitu (i) pengalaman, (ii) pengetahuan, (iii) kesadaran, dan (iv) hiburan.

Pengalaman

Segala sesuatu yang dapat, boleh, dan mungkin dialami oleh manusia selama hidup di dunia fana ini dapat disebut pengalaman manusia. Pengalaman yang dimaksud di sini bukanlah pengalaman empiris, fisikal, dan kasat mata yang memerlukan tindakan jasmani, melainkan pengalaman nonempiris, nonfisikal atau metafisikal, dan tak kasat mata yang sesungguhnya hanya berkelebatan dalam rohani kita. Misalnya, ketika menonton permainan sepakbola, maka menonton sepakbola ini dapat disebut pengalaman manusia yang empiris, fisikal, dan kasat mata. Akan tetapi, ketika duduk mencangkung merenungkan sesuatu sehingga seakan-akan dalam suatu tempat penuh pergolakan, maka ini dapat disebut pengalaman manusia yang nonempiris, nonfisikal, dan tak kasat mata. Pengalaman terakhir ini merupakan pengalaman dalam kegiatan apresiasi sastra. Jadi, pengalaman dalam apresiasi sastra merupakan pengalaman rohaniah-batiniah manusia, bukan pengalaman jasmaniah. Bermacam-macam pengalaman rohaniah-batiniah manusia dapat dialami oleh pengapresiasi selama dan sesudah apresiasi sastra berlangsung, misalnya pengalaman literer-estetis, sosial-budaya dan sosial politis.

Pengetahuan

Pengetahuan berbeda dengan pengalaman meskipun sesudah melewati proses pengedapan dan pengonseptualan pengalaman bisa menjadi pengetahuan. Pengetahuan lebih konseptual, kognitif (baik tak sadar maupun sadar), dan diskursif dibandingkan dengan pengalaman yang naratif, ekspresif dan subjektif sekali. Dengan kata lain, pengetahuan merupakan hasil tahu manusia, sedang pengalaman merupakan hasil mengalami manusia; di sini terlihat bahwa pengetahuan melalui penyimpulan, sedangkan pengalaman melalui pencerapan.

Di samping menghidangkan pengalaman-pengalaman, apresiasi sastra juga menghidangkan pengetahuan-pengetahuan. Pengetahuan yang terhidang selama apresiasi sastra berlangsung merupakan penangkapan kognitif, konseptual, dan penyimpulan atas fenomena-fenomena karya sastra yang kita apresiasi. Dalam hubungan ini harus dipahami benar bahwa pengetahuan di sini bukanlah pengetahuan ilmiah, empiris-faktual dan sungguh-sungguh terjadi di masyarakat, melainkan pengetahuan yang merupakan tanggapan dunia sastra atas fenomena-fenomena kehidupan, harapan-harapan ideal manusia yang dipersepsi oleh sastrawan, dan citra-citra kehidupan yang kita inginkan atau das sollen kehidupan kita. Bisa saja pengetahuan yang diperoleh dalam apresiasi sastra benar-benar terjadi dalam masyarakat, namun hal ini lazimnya hanya merupakan resepsi dan persepsi individual dan tidak selalu demikian karena karya sastra pertama-tama tidak berurusan dengan kejadian nyata di masyarakat. Walaupun demikian, sastra yang baik senantiasa menyuguhkan pengetahuan yang tak pernah lepas dari masyarakat andai kata kita mampu memecahkan atau menafsirkan simbol-simbol kesastraan dan budaya yang terdapat di dalamnya. Sebagai contoh, andai kata kita mampu memecahkan simbol-simbol dalam Telegram (Putu Wijaya) tentu kita akan mendapatkan pengetahuan bahwa institusi-institusi sosial kita sekarang sedang mencair sebagaimana dilukiskan oleh ketidakmauan kawin Rosa dan Aku dalam cerita tersebut.

Selama dan sesudah apresiasi sastra berlangsung, setelah melakukan pengendapan, permenungan, penyimpulan, dan pengonseptualan apa yang kita apresiasi, kita bisa mendulang bermacam-macam pengetahuan. Nurani, rasa, dan budi kita bisa menjiwai, menghayati, dan menikmati bermacam-macam pengetahuan yang terangsangkan kepada kita. Diselaraskan dengan pengalaman yang bisa diperoleh dari apresiasi sastra, pengetahuan yang bisa diperoleh dari apresiasi sastra setidak-tidaknya berupa (i) pengetahuan literer estetis, (ii) pengetahuan kemanusiaan atau humanistis, (iii) pengetahuan religius-sufistis-profetis, (iv) pengetahuan magis-mitis, (v) pengetahuan filosofis, (vi) pengetahuan psikologis, (vii) pengetahuan sosial budaya, (viii) pengetahuan sosial politis, dan (ix) pengetahuan etis dan moral.

Kesadaran

Di samping menghidangkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan, apresiasi sastra juga menghidangkan dan memberikan kesadaran kepada pengapresiasinya. Radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi diharapkan bisa mengirimkan sinyal-sinyal kesadaran kepada nurani, rasa, dan budi si pengapresiasi. Dengan demikian, pengapresiasi bisa memperoleh kesadaran tentang berbagai hal; tentang keindahan, kekejaman, ketidakmanusiawian, kebermaknaan hidup, hakikat hidup manusia, hakikat hidup bersama, kebobrokan dan kelicikan permainan kekuasaan, ketidakmampuan manusia berkelit dari belenggu tradisi budayanya, dan sebagainya.

Ketika mengapresiasi sastra, nurani, rasa, dan budi kita bisa memperoleh kesadaran betapa estetiknya, indahnya suatu karya sastra yang diapresiasi. Jika membaca kumpulan puisi Deru Campur Debu atau Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar), kita bisa sadar betapa indahnya bahasa puisi-puisi Chairil Anwar, betapa memikatnya pengungkapan perasaan Chairil Anwar. Sewaktu membaca larik-larik /Bukan kematian benar menusuk kalbu/Keridlaanmu menerima segala tiba/Tak kutahu setinggi itu atas debu/dan duka maha tuan bertahta/ dalam Nisan atau larik-larik //Kalau kau mau kuterima kembali/Dengan sepenuh hati//Aku masih masih tetap sendiri//Kutahu kau bukan yang dulu lagi/Bak kembang sari sudah terbagi// Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani// Kalau kau mau kuterima kau kembali/Untukku sendiri tapi//Sedang dengan cermin aku enggan berbagi// dalam Penerimaan kita dapat menyadari betapa indahnya susunan dan metafora kata yang dipakai oleh Chairil dan kental padatnya gagasan yang disampaikannya. Begitu juga sewaktu membaca kutipan Panembahan Reso karya Rendra, kita bisa dipukau oleh keindahan bahasa dan penataan gagasan yang demikian kental dan padat.

Pada waktu mengapresiasi sastra, kita juga bisa memperoleh kesadaran betapa kejamnya dan bengisnya penjajahan dan bentuk-bentuk penindasan lain. Andai kata membaca Lintang Kemukus Dini Hari secara khusuk dan kafah, kita bisa mendapatkan kesadaran betapa bengisnya dan kejamnya permainan-permainan politik dan kekuasaan dalam peristiwa tahun 1965 dan akibat-akibat peristiwa itu. Betapa tidak! Orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan hanya karena mengikuti kegiatan kelompok PKI tanpa kesadaran harus menanggung akibat demikian besar: dikucilkan dari pergaulan dan tidak mendapatkan kemudahan hidup dalam masyarakat. Kita tiba-tiba menjadi sadar betapa kejam luar biasa dampak peristiwa tahun 1965 bagi banyak orang. Andai membaca Bumi Manusia kita disadarkan bahwa penjajahan dan penindasan dengan segala bentuknya selalu membawa ketidakbaikan dan kerusakan pada semua aspek kehidupan. Hukum menjadi berpihak, pendidikan menjadi tidak adil, kehidupan sosial terpolarisasi, curiga dan dendam kesumat merajalela, dan intrik-intrik di belakang layar tak terhindarkan. Demikian juga bila dibaca Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich kita disadarkan bahwa kesewenang-wenangan dan sikap mentang-mentang (adigang adigung adiguna) karena memiliki akses politik dan kekuasaan demikian besar hanya membuahkan penderitaan dan kesengsaraan bagi manusia lain. Selain itu, hak-hak asasi manusia menjadi terabaikan pelaksanaannya dan terlanggar.

Kebobrokan dan kerapuhan institusi sosial dan pribadi-pribadi manusia pun dapat kita sadari adanya pada waktu mengapresiasi sastra. Karya sastra banyak menghidangkan, dalam arti merekam, menanggapi, dan menilai kebobrokan dan kerapuhan. Kalau dibaca Ladang Perminus (Ramadhan KH) secara sungguh-sungguh dan total, kita bisa sadar bahwa institusi-institusi sosial kita dan pribadi-pribadi kita sebenarnya bobrok dan rapuh. Dalam novel ini digambarkan direktur Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara) melakukan korupsi secara besar-besaran demi kepentingan dirinya dan keluarganya dan institusi sosial yang berkepentingan dengan korupsi itu ternyata tidak berdaya sama sekali. Akibatnya, korupsi direktur Perminus terpetieskan atau tenggelam ditelan perubahan zaman. Demikian juga andai kata dibaca puisi Sajak Sebatang Lisong dan Sajak untuk Anak Muda karya W. S. Rendra, kita bisa menjadi sadar bahwa institusi sosial, politik, dan pendidikan bukannya mengembangkan generasi muda supaya siap menghadapi hidup, melainkan malah membelenggunya sehingga mereka menjadi generasi “angkatan gagap”, “terasing dari kehidupan”, dan “penganggur”. Kita disadarkan bahwa generasi muda belum diberi kesempatan untuk maju secara luas dan belum diberi wahana-wahana untuk mengembangkan diri secara mandiri, maksimal, dan beragam.

Hakikat manusia dan hidup manusia bisa juga disadari melalui apresiasi sastra. Sastra yang baik selalu menghidangkan permenungan tentang hakikat manusia dan hidup manusia di dunia. Bilamana diapresiasi puisi-puisi Emha Ainun Najib (misalnya Seribu Masjid, Satu Jumlahnya) dan cerpen-cerpen Danarto (misalnya dalam kumpulan Adam Ma’rifat dan Godlob) kita disadarkan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di bumi dan karena itu hidup manusia harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah semata-mata. Dalam puisi-puisi Emha diisyaratkan bahwa hidup manusia harus bersahaja, digunakan untuk tablig sosial, bersikap sederhana, dan penuh kepasrahan. Dalam cerpen-cerpen Danarto diisyaratkan bahwa hidup manusia harus dicurahkan untuk berusaha bersatu dengan Allah, berusaha manunggal-ing kawula Gusti, mencapai wihdat al wujud. Sementara itu, andaikata diapresiasi novel-novel Iwan Simatupang (Merahnya Merah, Kering, Ziarah, dan Kooong) kita disadarkan bahwa manusia pada hakikatnya bebas atau memiliki kebebasan. Dengan kebebasan itu hidup manusia diabdikan untuk mencari jati diri, kepenuhan makna, dan sebagainya. Pencarian itu bisa berupa pengembaraan, ziarah terus-menerus, dan menggelandang pada berbagai situasi tragis, absurd, irasional, dan kematian tak terpahami. Dalam hidup seperti inilah manusia akan menemukan hakikatnya. Ini berarti bahwa kita disadarkan bahwa tidak ada definisi pra-ada dan pasca-ada manusia; definisi manusia terletak pada hidupnya di dunia.

Sewaktu mengapresiasi sastra, kita sering pula disadarkan bahwa tradisi budaya sering tidak mengakomodasi gerak dan daya hidup manusia, tetapi justru membelenggunya. Sebaliknya, tradisi-tradisi baru sering mencabut manusia dari akar tradisinya sehingga dia mengalami dilematik hidup yang tragis. Pada waktu membaca Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), kita bisa memperoleh kesadaran bahwa tradisi budaya lama (Dukuh Paruk) telah menggilas manusia-manusia (masyarakat Dukuh Paruk khususnya tokoh Srintil) sehingga mereka tak berkembang. Hidup seperti dalam cagar manusia yang tinggal meluncur dan menggelinding mengikuti tradisi yang dibakukan oleh sesepuh (elite budaya). Hidup menjadi rutin dan tinggal menjalani nasib yang dianggap sudah digariskan oleh Allah. Sementara itu, ketika dibaca Belenggu (Armijn Pane), kita disadarkan bahwa tradisi budaya baru sering tidak akomodatif sehingga menimbulkan dilema sosial dan budaya bagi manusia. Sukartono, tokoh utama Belenggu, merupakan perwujudan manusia yang dilanda dilema kekosongan tradisi: ia sudah meninggalkan tradisi budaya lamanya dan menggenggam tradisi budaya baru, namun tradisi budaya baru itu tak bisa diterimanya secara sungguh-sungguh dan total serta tak berterima di masyarakat (sebagaimana disimbolkan dalam diri Sukartini dan Rochayah).

Sering juga kesadaran kita akan cairnya sistem sosial muncul pada waktu mengapresiasi sastra. Pada waktu membaca Telegram (Putu Wijaya), kita mendapati sebuah adegan di mana dua tokoh utamanya (Rosa dan Aku) yang sudah bercintaan demikian lama menolak kawin karena perkawinan hanya membawa rutinitas dan menghilangkan rasa cinta. Ini sesungguhnya menyadarkan kita betapa lembaga perkawinan telah cair maknanya dan nilai-nilai keluarga telah aus dilanda perkembangan-perkembangan baru dan pengalaman-pengalaman berkeluarga yang tidak enak. Demikian juga andai kata dibaca puisi Sutardji Calzoum Bachri (misalnya kumpulan O, Amuk, dan Kapak) kita mendapati begitu kuatnya unsur bunyi sehingga seolah-olah hanya permainan bunyi belaka yang hampa makna. Ini dapat pula ditafsirkan sebagai cermin betapa kehidupan kita hanya tinggal suara-suara saja, makna kehidupan sudah hilang. Dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mungkin kita hanya berbicara saja yang sesungguhnya tidak ada maknanya. Di sini ada siratan makna bahwa kita mulai tidak percaya pada institusi sosial kita karena fungsinya telah macet.

Kesadaran-kesadaran lain sebenarnya selalu terhidang dalam apresiasi sastra. Dalam tulisan ini tidak dipaparkan semua kesadaran yang dimungkinkan dan dihidangkan apresiasi sastra. Dengan beberapa contoh kesadaran tersebut di atas diharapkan kita sudah bisa memahami bahwa apresiasi sastra bisa pula menghidangkan dan memungkinkan timbulnya kesadaran dalam diri kita. Kesadaran apa saja yang terhidang dan dimungkinkan kepada kita sebenarnya terpulang kepada diri kita sendiri. Andai kata radar-radar nurani, rasa, dan budi kita yang melandasi penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan begitu peka dan tajam, niscaya kita bisa mencicipi bermacam-macam kesadaran. Jika tidak, tentu saja tak diperoleh kesadaran. Karena itu, kadar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan menentukan sekali dalam memperoleh berbagai kesadaran.

Hiburan

Apresiasi sastra tidak hanya menghidangkan pengalaman, pengetahuan, dan kesadaran (penyadaran?), tetapi juga hiburan (penghiburan?) karena sastra apa pun (puisi, fiksi, dan sastra-dramatik) yang digubah secara jujur dan sungguh-sungguh selalu menghibur; memancarkan sinyal-sinyal permainan yang menyenangkan dan menghibur. Sebuah dalil lama menyatakan bahwa seseorang yang membaca karya sastra mendapat kegunaan dan kesenangan karena sastra memiliki dulce et utile (kegunaan dan kesenangan). Johan Huizinga dalam Homo Ludens (1990:167) bahkan menegaskan bahwa “Poiesis (puisi) merupakan suatu fungsi permainan. Ia berlangsung dalam suatu ruang permainan mental, dalam suatu dunia yang diciptakan oleh jiwa bagi dirinya sendiri, di mana segala sesuatu menampilkan wajah berbeda dengan wajah dalam “kehidupan biasa”, dan dihubungkan satu sama lain oleh ikatan-ikatan yang lain daripada ikatan-ikatan logika”. Ditambahkan oleh Huizinga, ”Setiap puisi … sekaligus ritus, hiburan dalam pesta, permainan pergaulan, kemahiran seni, ujian atau teka-teki yang harus dipecahkan, ajaran kebijaksanaan, bujukan, penyihiran, ramalan, nubuat, pertandingan”. Jadi, setiap sastra senantiasa menghidangkan hiburan dan kegiatan-kegiatan menggumulinya termasuk di dalamnya apresiasi sastra juga menghidangkan suatu hiburan bagi jiwa kita, batin kita.

Sudah tentu hiburan yang dihidangkan oleh apresiasi sastra berbeda dengan hiburan-hiburan modern yang dikemas dalam bisnis pertunjukan dan teknologi canggih. Pertunjukan sulap, sihir, musik, akrobat, dan sejenisnya memang menghidangkan hiburan. Namun, bukan hiburan seperti ini yang dihidangkan oleh apresiasi sastra. Apresiasi sastra menghidangkan hiburan mentalistis yang bermain-main dalam jiwa kita, batin kita. Kalau membaca Kabut Sutra Ungu (Ike Soepomo) kita merasa terharu, terpikat, terpukau, dan senang sehingga dari bibir terlontar kalimat tertentu, maka sesungguhnya kita telah terhibur. Kita telah menyantap hidangan hiburan sewaktu mengapresiasi Kabut Sutra Ungu. Pada saat membaca kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Sajak (W.S. Rendra), kita merasa senang, lega, dan puas, sesungguhnya kita telah terhibur sewaktu membacanya.

Dalam apresiasi sastra, sesungguhnya terdapat bermacam-macam hiburan. Apa saja macam hiburan dalam apresiasi sastra sebenarnya sulit diidentifikasi karena sifatnya subjektif, sangat bergantung pada kepekaan dan ketajaman nurani, rasa, dan budi pengapresiasinya. Meskipun demikian, kita bisa menduga beberapa gejala yang bisa menjadi hiburan atau menyuguhkan hiburan sewaktu apresiasi sastra berlangsung. Gejala-gejala yang bisa menghidangkan hiburan dalam apresiasi sastra yang dimaksud sebagai berikut. Pertama, kita bisa memperoleh hiburan ketika menghadapi atau menemui suatu fenomena yang parodis dan melecehkan. Sering kita merasa terhibur bila menemui sesuatu yang parodis dan melecehkan pada waktu mengapresiasi sastra. Kedua, sewaktu mengapresiasi sastra, kita bisa memperoleh hiburan karena sastra yang diapresiasi mempunyai kemerduan bunyi yang demikian tinggi atau ikonisitas begitu tinggi sehingga asosiasi kita terarah pada sesuatu yang lucu dan menggelikan. Ketiga, pada waktu mengapresiasi sastra, kita bisa memperoleh hiburan karena dihidangi oleh peristiwa-peristiwa absurd, tak masuk akal atau irasional, dan yang kabur antara kenyataan dan imajinasi. Kadang-kadang dihidangi juga simbolisasi-simbolisasi yang dalam kehidupan sehari-hari terasa aneh, tak mungkin, dan luar biasa. Keempat, sewaktu mengapresiasi sastra, kita bisa memperoleh hiburan karena sastra yang diapresiasi memiliki tema menggelikan, gaya ungkapnya polos sekaligus mbeling (nakal), dan melecehkan norma-norma literer-estetik yang mapan. Kelima, kita tampaknya juga sering seakan-akan memperoleh hiburan sewaktu membaca karya sastra tertentu yang bisa mewakili suasana batin kita atau pikiran-pikiran kita sendiri yang tidak mungkin kita sampaikan sendiri. Kita sering mempunyai suasana batin dan pikiran yang demikian menyesakkan dan tak mungkin diungkapkan sendiri, kemudian mencari saluran lain dan mendapatkannya sewaktu membaca atau mendengarkan pelisanan karya sastra tertentu baik puisi maupun fiksi. Anak-anak muda kita sering jengkel dan kesal dengan keadaan sosial politik negara kita dan mereka mendapatkan saluran kejengkelan dan kekesalan itu pada karya sastra tertentu, misalnya puisi Rendra.

Beberapa hal yang dikemukakan di atas sebenarnya sekadar beberapa pertanda fenomena apresiasi sastra yang bisa menghidangkan hiburan kepada pengapresiasinya; sekadar beberapa tengara keterhiburan kita selaku pengapresiasi. Pada akhirnya, hiburan apa saja yang bisa didulang sewaktu mengapresiasi sastra terpulang kepada kita atau pengapresiasinya: seberapa peka dan tajam nurani, rasa, dan budi kita atau pengapresiasi terhadap fenomena-fenomena hiburan; seberapa besar kadar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan kita atau pengapresiasi atas suatu karya sastra; dan seberapa banyak bekal yang kita miliki atau dimiliki oleh pengapresiasi.

Bersambung 6


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *