Suara-Pembaruan.com –– Kapolda Kalsel Bersama unsur Forkopimda laksanakan bakti kebersihan
Pagi di Lapangan Kamboja, Sabtu, 7 Februari 2026, tidak sepenuhnya riuh oleh upacara seremonial. Ratusan orang berkumpul dengan satu tujuan yang sederhana: memungut sampah, menyapu jalan, dan menata kembali ruang publik.
Di tengah mereka tampak jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalimantan Selatan—dari aparat keamanan hingga perwakilan pemerintah daerah.
Kegiatan bakti kebersihan ini disebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Rapat Koordinasi Nasional beberapa waktu lalu. Instruksinya singkat dan lugas: negara harus hadir, bahkan dalam urusan yang kerap dianggap sepele seperti kebersihan lingkungan.
Dari Lapangan Kamboja, kegiatan berlanjut menyusuri Jalan Veteran, salah satu ruas utama Kota Banjarmasin. Hadir dalam barisan itu Kapolda Kalimantan Selatan, Danrem 101/Antasari, Kabinda Kalimantan Selatan, Danlanal, Danlanud, pejabat utama Polda, mahasiswa, hingga pelajar. Gubernur Kalimantan Selatan diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
Kapolda Kalimantan Selatan menyebut bakti kebersihan ini sebagai langkah kecil dengan pesan besar. Menyasar lokasi-lokasi strategis, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan kembali bahwa kebersihan bukan sekadar urusan petugas kebersihan atau kampanye musiman.
“Menjaga lingkungan yang bersih dan sehat adalah tanggung jawab bersama. Ini soal disiplin dan kesadaran kolektif,” ujar Kapolda. Ia menambahkan, kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan harus ditanamkan sejak dini—bukan hanya melalui imbauan, tetapi juga teladan.
Di Kalimantan Selatan, kegiatan semacam ini kerap digelar. Namun kehadiran lengkap unsur Forkopimda memberi pesan simbolik: negara tidak selalu hadir lewat pidato dan kebijakan besar, melainkan juga lewat sapu, kantong sampah, dan kerja bersama di ruang publik.
Di ujung kegiatan, Jalan Veteran tampak lebih bersih. Tapi yang ingin ditinggalkan Forkopimda bukan sekadar jalan yang rapi. Yang diharapkan tumbuh adalah kebiasaan—bahwa kota yang bersih tidak lahir dari satu hari bakti, melainkan dari kesadaran yang dipelihara setiap hari.







