Mengintip Fitur Layanan Berbayar Twitter Blue

  • Whatsapp
Mengintip Fitur Layanan Berbayar Twitter Blue


Akhirnya Twitter meluncurkan layanan berbayar Twitter Blue di pasar aplikasi Twitter. Laman Gizmodo dan Phone Arena mengutip cuitan dari peneliti media sosial Jane Manchun Wong yang membagikan tangkapan layar aplikasi Twitter Blue.

Bacaan Lainnya

Photo by Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash

Twitter Blue akan dibandrol seharga US$2,99 (sekitar Rp 42.000) per bulan. Tetapi, aplikasi ini hanya tersedia di App Store. Tidak banyak fitur yang diungkap oleh Wong. Namun, Twitter Blue diharapkan menyertakan fitur yang disebut Koleksi. Fitur ini memungkinkan pengguna dengan cepat menyimpan tweet tertentu untuk memudahkan akses di kemudian hari.

Sementara itu, Wong mengaku jadi pelanggan pertama yang membayar langganan Twitter Blue. Lalu apa saja fitur yang ditawarkan oleh Twitter Blue? Berbeda dengan Twitter versi gratis, Twitter Blue ini memiliki fitur ‘Undo Send’ yang memungkinkan penggunanya untuk menghapus tweet yang sudah dikirim. 

Tak hanya itu, aplikasi ini juga memiliki fitur “save and organize your favorite tweets into Collections” sehingga tweet-tweet bisa gampang ditemukan untuk kemudian hari. Hadirnya tombol Undo juga akan mengindikasikan kepada fitur Edit, di mana pengguna dapat mengoreksi kesalahan pada tweet yang sudah diunggah. 

Selain itu, Wong dalam akun Twitternya membagikan informasi bahwa Twitter akan memiliki Reader Mode yang memungkinkan mengatur format threads supaya mudah dibaca. Pengguna juga bisa memiliki tema warnanya dan ikon aplikasi dengan warna berbeda. 

Melansir dari Tech Crunch, ada fitur lain bernama “Collection” yang memungkinkan pengguna mengelola tweet favorit mereka. Pengembangan baru ini diharapkan bisa menambah pundi-pundi pendapatan Twitter, selain dari iklan yang masih jadi sumber duit utama. Kabarnya Twitter juga kini sedang mengembangkan layanan berlangganan dan akun bisnis.

Belum diketahui kapan layanan media sosial Twitter Blue ini akan tersedia untuk semua pengguna di seluruh dunia. Meski demikian, tampaknya media sosial Twitter akan terlebih dulu menggelar layanan berbayar ini di segelintir pengguna sebagai uji coba. 

Dilansir laman History, Twitter dilahirkan sebagai proyek terpisah dari platform podcasting utama Odeo. Aplikasi ini gratis yang membuat para penggunanya dapat berbagi pembaruan status singkat dengan sekelompok teman dengan mengirim satu pesan teks ke satu nomor (“40404”). Selama beberapa tahun berikutnya, ketika Twttr menjadi Twitter, layanan microblogging yang sederhana ini kemudian sangat populer yang menjadi salah satu platform jejaring sosial terkemuka di dunia.

Sejarah singkat menceritakan salah satu pendiri Twitter Evan Williams pertama kali membuat namanya di dunia teknologi Silicon Valley dengan mendirikan layanan penerbitan buku harian Web Blogger, yang ia jual ke Google pada 2003 dengan harga beberapa juta dolar. Pada 2005, William ikut mendirikan Odeo dengan pengusaha lain, Noah Glass. Namun pada musim gugur itu, layanan utama Odeo menjadi usang ketika Apple meluncurkan iTunes (termasuk platform podcasting bawaan).

Setelah Williams meminta tim yang terdiri dari 14 karyawan untuk melakukan brainstorming, salah satu insinyur perusahaan Jack Dorsey mengusung konsep layanan yang memungkinkan pengguna untuk berbagi pembaruan status pribadi melalui SMS ke sekelompok orang. Pada Maret 2006, tim Dorsey memiliki purwarupa dengan nama Twttr.

Nama itu terinspirasi oleh suara burung dan diadopsi setelah beberapa pilihan lain (termasuk FriendStalker) ditolak. Dorsey (@Jack) mengirim tweet pertama (“baru saja menyiapkan twttr saya”) pada 21 Maret.

Pada saat Twttr diluncurkan ke publik, aplikasi itu masih merupakan proyek sampingan Odeo, sementara penawaran utama perusahaan, platform podcasting, tidak menuju ke mana-mana. Musim gugur itu, menurut sebuah laporan di Business Insider, Williams membeli investor perusahaan, kemudian mengubah nama Odeo menjadi Obvious Corporation.

Dalam waktu enam bulan setelah peluncuran, Twttr telah menjadi Twitter. Setelah layanan go public, para pendirinya memberlakukan batas 140 karakter untuk menulis pesan berdasarkan panjang maksimum pesan teks pada saat itu. Kemudian penulisan pesan diperluas menjadi 280 karakter.

Twitter kemudian sukses. Pada 2013, New York Times melaporkan bahwa perusahaan memiliki lebih dari 2.000 karyawan dan lebih dari 200 juta pengguna aktif. November kala itu, ketika perusahaan go public, tercatat bernilai lebih dari 31 miliar dolar AS.

Meskipun basis pengguna Twitter jauh lebih kecil daripada Facebook (yang memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif per bulan pada 2019), basis pengguna Twitter semakin menjadi sumber berita dan informasi, terutama untuk pengguna yang lebih muda. Keunggulan perusahaan naik dengan pemilihan Presiden Donald Trump pada 2016, yang blak-blakan di Twitter sepanjang kampanyenya dan sering mengicaukan keputusan kebijakan atau pengumuman lainnya selama masa pemerintahannya.

Seperti perusahaan media sosial lainnya, Twitter dan Dorsey, CEO-nya, telah menghadapi tekanan untuk mengawasi konten di situs untuk mencegah intimidasi, pelecehan dan ucapan kebencian, serta melindungi privasi penggunanya dengan lebih baik dalam iklim politik yang tinggi.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *