Suara-Pembaruan.com –– Stephanus Slamet Budi Raharjo Menyelami Sosok Prabowo Subianto
Suasana siang itu terasa santai. Tidak ada kesan kaku sebagaimana lazimnya pertemuan dengan tokoh berlatar militer.
Di sebuah ruang pertemuan yang sederhana, Stephanus Slamet Budi Raharjo, CEO Majalah Eksekutif sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Matra, berbincang panjang dengan Prabowo Subianto.
Pria yang akrab disapa “08” itu datang mengenakan setelan safari krem dengan kopiah hitam. Lengan bajunya dilipat, gaya yang sudah lama menjadi ciri khasnya.
Penampilannya sederhana, bahkan cenderung bersahaja.
Percakapan pun mengalir tanpa jarak. Berbeda dengan stereotip yang kerap melekat pada dirinya sebagai sosok militer yang keras, Prabowo justru tampil hangat. Ia banyak tersenyum, bahkan sesekali melempar candaan.
Berikut petikan wawancara bergaya tanya jawab.
“Saya Keluar dari Tentara dengan Segala Predikat dan Cerita”
Bagaimana Anda melihat diri Anda setelah tidak lagi aktif di militer?
Prabowo:
Saya keluar dari tentara dengan segala predikat dan cerita. Tapi hidup terus berjalan. Saya ingin membuktikan bahwa seorang mantan tentara juga bisa mendengar kritik, berdialog, dan bekerja bersama masyarakat.
Apakah stigma militeristik masih sering Anda rasakan?
Prabowo:
Ya, tentu saja ada. Tapi saya kira itu wajar. Orang melihat latar belakang saya sebagai tentara. Padahal, pengalaman itu justru mengajarkan saya pentingnya disiplin, pengabdian, dan tanggung jawab.
Saya tidak ingin menjadi pemimpin yang otoriter. Negara ini demokratis, dan saya percaya kritik adalah bagian dari proses.
“Maybe Yes, Maybe No”
Salah satu momen paling menarik dalam perbincangan itu muncul ketika S.S. Budi Raharjo menyinggung kehidupan pribadi Prabowo—pertanyaan yang sering dianggap sensitif bagi banyak politisi.
Banyak yang bertanya, apakah Anda akan menikah lagi?
Prabowo tersenyum lebar sebelum menjawab.
Prabowo:
May.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada bercanda.
Prabowo:
“Yah, maybe yes, maybe no.”
Jawaban singkat itu langsung memancing tawa di ruangan. Campuran bahasa Indonesia dan Inggris itu terasa seperti permainan kata—setengah serius, setengah gurauan.
Momen tersebut memperlihatkan sisi lain Prabowo: seorang tokoh yang mampu menjawab pertanyaan pribadi dengan elegan, tanpa kehilangan humor.
Kenangan Pernikahan dengan Titiek Soeharto
Prabowo pernah menikah dengan Titiek Soeharto pada 8 Mei 1983. Dari pernikahan itu lahir seorang putra, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai Didit Prabowo, desainer yang kini berkarier di kancah internasional.
Selama 12 tahun pernikahan mereka, pasangan ini kerap berpindah tempat tinggal mengikuti penugasan Prabowo sebagai perwira TNI. Namun dinamika politik menjelang runtuhnya pemerintahan Orde Baru turut memengaruhi kehidupan pribadi mereka.
Pada Mei 1998, keduanya resmi berpisah.
Setelah itu, Prabowo sempat tinggal di luar negeri, termasuk di Yordania, sebelum kembali ke Indonesia dan menekuni dunia usaha bersama adiknya, pengusaha Hashim Djojohadikusumo.
Dari Tentara ke Aktivis Pangan
Sejak kembali ke Indonesia pada awal 2000-an, Prabowo aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan ekonomi rakyat.
Ia terlibat dalam organisasi seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan berbagai program pemberdayaan petani serta pedagang pasar tradisional.
Visinya mengenai kemandirian pangan sering ia sampaikan dalam berbagai forum.
Meski sempat menjadi bahan ejekan sebagian kalangan, gagasan tersebut justru menjadi salah satu tema yang konsisten ia perjuangkan.
Citra Kepemimpinan
Dalam berbagai kunjungan ke daerah, Prabowo sering terlihat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ia tidak segan memeluk warga yang menyambutnya.
Penampilannya yang khas—setelan safari krem dan kopiah—sering mengingatkan publik pada gaya pemimpin masa awal kemerdekaan.
Di sejumlah daerah, masyarakat bahkan memberi julukan beragam: “Soekarno kecil,” “titisan Gajah Mada,” hingga “Macan Asia.”
Namun bagi Prabowo sendiri, semua itu hanyalah bagian dari persepsi publik.
Prabowo:
Saya hanya ingin bekerja untuk rakyat. Kalau ada harapan yang besar, itu berarti tanggung jawabnya juga besar.
Sosok yang Lebih Humanis
Wawancara dengan Stephanus Slamet Budi Raharjo membuka sisi lain dari Prabowo Subianto. Di balik latar belakang militernya yang keras, terdapat pribadi yang hangat, humoris, dan terbuka terhadap dialog.
Ia tidak menunjukkan kemarahan ketika ditanya soal kehidupan pribadi, bahkan menjawabnya dengan candaan.
Percakapan yang berlangsung santai itu memperlihatkan sosok yang jauh dari kesan menakutkan sebagaimana sering dibayangkan sebagian orang.
Prabowo, dalam wawancara itu, tampil bukan sekadar sebagai politisi—melainkan sebagai individu yang memahami bahwa kepemimpinan juga membutuhkan empati dan kemampuan mendengarkan.







