Hotline Redaksi: 0817-21-7070 (WA/Telegram)
{ "symbols": [ { "description": "", "proName": "IDX:TLKM" }, { "description": "", "proName": "IDX:BBRI" }, { "description": "", "proName": "IDX:BRIS" }, { "description": "", "proName": "IDX:BBNI" }, { "description": "", "proName": "AMEX:INDO" }, { "description": "", "proName": "IDX:ADRO" }, { "description": "", "proName": "FX_IDC:USDIDR" }, { "description": "", "proName": "IDX:JPFA" }, { "description": "", "proName": "IDX:INCO" }, { "description": "", "proName": "FX_IDC:IDRCAX" } ], "showSymbolLogo": true, "isTransparent": true, "displayMode": "adaptive", "colorTheme": "light", "locale": "id" }
Berita

Peringatan Lima Puluh Tahun Koran Salemba: Warisan Etika di Tengah Riuh Zaman Digital

×

Peringatan Lima Puluh Tahun Koran Salemba: Warisan Etika di Tengah Riuh Zaman Digital

Sebarkan artikel ini
Peringatan Lima Puluh Tahun Koran Salemba: Warisan Etika di Tengah Riuh Zaman Digital
Sambutan pembukaan Antony Z Abidin pada pembukaan peringatan “50 Tahun Salemba”

Suara-Pembaruan.comLima Puluh Tahun Surat Kabar Salemba: Warisan Etika di Tengah Riuh Zaman Digital

Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu 14 Januari 2026, tidak sekadar menjadi ruang peringatan ulang tahun.

Ia berubah menjadi forum refleksi—tentang etika, profesionalisme, dan tanggung jawab intelektual pers kampus di tengah arus informasi yang kian tak terbendung.

Founder dan Pemimpin Umum Suratkabar Kampus UI Salemba, Antony Z Abidin, membuka peringatan setengah abad Salemba dengan sebuah penegasan yang tenang namun tegas.

“Hari ini bukan sekadar perayaan usia. Ini adalah momen refleksi,” ujarnya. Lima puluh tahun, menurut Antony, bukan angka untuk dikenang, melainkan jarak waktu untuk menimbang nilai apa yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salemba, kata Antony, lahir bukan sebagai alat perlawanan atau propaganda. Ia tumbuh sebagai media kampus yang dikelola secara profesional, dengan prinsip sederhana namun berat: kebebasan berpikir harus dijalankan dengan etika, dan setiap tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan. W

artawan kampus, pada masa itu, tak menulis sesuka hati. Mereka menjalani pendidikan pers, verifikasi fakta, pemisahan tegas antara opini dan berita, serta penghormatan terhadap narasumber.

Standar itulah yang membuat Salemba melampaui tembok kampus. Ia dibaca luas, bukan karena sensasi, melainkan karena kepercayaan.

Meski perjalanan sejarah mencatat Salemba pernah dibredel, Antony menegaskan bahwa yang diwariskan bukanlah kisah pembredelan, melainkan standar profesionalisme jurnalistik.

Peringatan ini juga menegaskan posisi Universitas Indonesia sebagai salah satu institusi intelektual tertua dan paling dihormati di Indonesia—kampus yang melahirkan ilmuwan, teknokrat, dan pemimpin bangsa. Tradisi intelektual itu, menurut Antony, selalu berpijak pada etika dan tanggung jawab publik.

Forum ini terasa istimewa dengan kehadiran Emil Salim, pelopor penerbitan surat kabar kampus UI pada 1950-an.

Sosok teknokrat dan negarawan ini dikenang lintas generasi karena konsistensinya menjaga integritas—bahkan ketika tawaran jabatan politik tinggi datang menghampiri.

Hadir pula Yusril Ihza Mahendra, rujukan pemikiran hukum dan ketatanegaraan, serta Chairul Tanjung, figur yang kerap dijadikan contoh tentang profesionalisme, disiplin, dan kepemimpinan berkelanjutan.

Di era digital, ketika setiap orang dapat menjadi “penerbit”, Antony menilai media kampus justru memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Media mahasiswa bukan sekadar ruang latihan menulis, melainkan cermin reputasi institusi akademik. Cara berpikir, cara menulis, dan standar yang diterapkan mencerminkan kualitas intelektual universitas itu sendiri.

Karena itu, tema peringatan ini ditegaskan sebagai refleksi, bukan nostalgia. Buku “50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba” setebal 524 halaman yang diluncurkan hari ini pun tidak dimaksudkan sebagai monumen masa lalu.

Ia disusun sebagai dokumen pembelajaran—mencatat proses, keberhasilan, kesalahan, serta prinsip-prinsip yang relevan bagi generasi mendatang.

“Salemba tidak ingin dikenang sebagai simbol konflik,” kata Antony menutup sambutannya.

“Kami ingin dikenang sebagai penetap standar—bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab, keberanian bersama integritas, dan reputasi dibangun lewat kerja konsisten, bukan sensasi sesaat.”

Dengan semangat itu, rangkaian acara peringatan 50 tahun Suratkabar Kampus UI Salemba resmi dibuka. Sebuah forum intelektual lintas generasi—netral, non-politis—yang mencoba menjaga satu hal agar tetap hidup di tengah riuh zaman digital: etika berpikir dan menulis sebagai fondasi peradaban akademik.