Hotline Redaksi: 0817-21-7070 (WA/Telegram)
Headline

Perhumas PR Meet and Brew di Other Half Cafe, Jumat 24 April 2026

×

Perhumas PR Meet and Brew di Other Half Cafe, Jumat 24 April 2026

Sebarkan artikel ini
Perhumas PR Meet and Brew di Other Half Cafe, Jumat 24 April 2026

Suara-Pembaruan.com — AI Bukan Lagi Alat, PR Meet and Brew Perhumas Tegaskan Peran Baru Humas di Era Kognitif

Percakapan dalam forum PR Meet and Brew yang diinisiasi Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) terasa berbeda dari biasanya.

Bukan semata karena topik Artificial Intelligence (AI) yang mendominasi, melainkan karena cara para praktisi mulai memaknainya: AI bukan lagi sekadar alat, tetapi telah bertransformasi menjadi mitra berpikir.

Digelar di Other Half Cafe pada Jumat sore, forum ini menjelma menjadi ruang refleksi bagi para pelaku komunikasi. Selama dua jam, diskusi berlangsung intens tanpa jeda, mempertemukan praktisi senior dan generasi baru dalam percakapan yang melampaui sekadar tren teknologi.

Dalam forum tersebut, muncul kesadaran baru tentang pergeseran relasi manusia dengan AI. “Anda tidak lagi bertanya pada AI, Anda berdiskusi dengannya,” menjadi benang merah yang mengemuka.

AI kini dipandang sebagai partner brainstorming yang mampu memahami arah pemikiran penggunanya, bukan sekadar mesin penjawab.

Pendiri Evello Big Data Analytics, Dudy Rudianto, memberikan konteks historis atas perubahan ini. Ia mengingat masa ketika teknologi masih terbatas, bahkan sebelum AI berkembang seperti saat ini.

Sejak 2012, ia telah memanfaatkan data digital—termasuk percakapan di YouTube—untuk membaca sentimen publik dan merumuskan strategi komunikasi.

“Dengan data, kita bisa masuk lebih dalam,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis data yang dulu dianggap eksperimental kini justru menjadi fondasi utama dalam praktik komunikasi modern.

Transformasi tersebut tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga cara manusia bekerja. AI perlahan menjadi perpanjangan kapasitas kognitif, mengambil alih detail teknis yang sebelumnya menyita energi, dan membuka ruang bagi manusia untuk fokus pada strategi yang lebih besar.

Dalam konteks ini, muncul paradoks baru: semakin intens interaksi manusia dengan AI, semakin kuat pula kesadaran akan nilai-nilai yang membuat manusia tetap unik—empati, intuisi, dan kreativitas.

Dewan Pakar Perhumas, Yoris Sebastian, melihat hubungan ini sebagai sesuatu yang saling menguatkan. Menurutnya, AI bukan pengganti intuisi, melainkan pengungkitnya.

“Ia mempercepat, tapi arah tetap ditentukan manusia,” kata pendiri OMG Consulting tersebut. Ia menambahkan bahwa di sektor kreatif seperti perfilman, AI dapat berperan sebagai alat bantu tanpa menghilangkan jiwa karya. Risiko terbesar justru datang dari mereka yang enggan beradaptasi.

Diskusi yang dipandu Wakil Ketua Umum Perhumas, Dian Agustine Nuriman, bergerak dari satu kesadaran ke kesadaran lain: profesi humas kini berada di persimpangan antara keterampilan konvensional dan tuntutan baru era digital.

Saat ini, seorang praktisi komunikasi tidak lagi cukup hanya piawai berbicara. Mereka dituntut memahami data, membaca algoritma, serta menangkap pola perilaku digital publik. AI telah menjadi bagian integral dari alur kerja—bukan lagi alat eksternal, melainkan sesuatu yang menyatu dalam proses berpikir.

Bagi sebagian peserta, AI bahkan mulai terasa seperti “chip” mental—sebuah metafora untuk menggambarkan kemampuannya dalam membantu manusia melihat lebih jauh, mengambil keputusan lebih cepat, dan berkarya lebih luas.

PR Meet and Brew pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum diskusi. Ia menjadi penanda perubahan zaman. Di tengah aroma kopi dan percakapan yang mengalir, para praktisi humas sampai pada satu kesimpulan: masa depan profesi ini bukan lagi soal bertahan dari AI, melainkan tentang belajar hidup dan berkembang bersamanya.