Hotline Redaksi: 0817-21-7070 (WA/Telegram)
Berita

Dirut ANTARA Bekali Imigrasi Strategi Komunikasi di Era Disrupsi

×

Dirut ANTARA Bekali Imigrasi Strategi Komunikasi di Era Disrupsi

Sebarkan artikel ini
Dirut ANTARA Bekali Imigrasi Strategi Komunikasi di Era Disrupsi
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar saat menyampaikan materi strategi komunikasi dalam acara Kopdar Humas Imigrasi 2026 di Cibubur, Rabu (29/4/2026). ANTARA/Fath Putra Mulya

Suara-Pembaruan.comDirut ANTARA Bekali Imigrasi Strategi Komunikasi di Era Disrupsi

Direktur Utama Perum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menekankan pentingnya transformasi komunikasi bagi birokrasi di tengah perubahan global yang kian tak menentu.

Hal itu ia sampaikan saat membekali jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi dalam kegiatan Kopdar Humas Imigrasi 2026 di Cibubur, Jakarta Timur, Rabu, 29 April 2026.

“Pemerintah sedang berada dalam perjuangan untuk meyakinkan kembali masyarakat yang terus berubah. Di situlah pelayanan, komunikasi, dan kemudahan harus bergerak cepat,” kata Benny.

Menurut dia, komunikasi bukan lagi sekadar penyampai informasi, melainkan instrumen strategis untuk membangun kembali kepercayaan publik. Di tengah arus disrupsi, kemampuan lembaga negara membaca situasi dan merespons secara adaptif menjadi penentu ketangguhan institusi.

Benny menilai Imigrasi memiliki posisi simbolik sebagai wajah pelayanan Indonesia. Lembaga ini tidak hanya berinteraksi dengan warga negara, tetapi juga dengan warga negara asing, sehingga citra yang dibangun berkelindan dengan persepsi global terhadap Indonesia.

“Ini bagian dari nation branding yang harus dijaga secara konsisten,” ujarnya.

Dalam paparannya, Benny mengurai pergeseran lanskap global dari era VUCA—volatility, uncertainty, complexity, ambiguity—menuju era BANI: brittle, anxious, nonlinear, incomprehensible. Jika VUCA mencerminkan ketidakpastian yang masih bisa dipetakan, BANI menggambarkan dunia yang lebih rapuh, sarat kecemasan, dan kerap sulit dipahami secara linier.

Menghadapi kondisi tersebut, ia menekankan perlunya strategi komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif. Peran humas, kata dia, berkembang menjadi penafsir realitas yang memberi makna dan arah tindakan organisasi.

“Peran humas menjadi penjelas dan pemberi makna, mentransformasi makna itu menjadi tindakan yang lincah dan tangguh,” kata Benny.

Ia juga menyoroti pergeseran pendekatan humas dari pola birokratis menuju model yang lebih responsif dan empatik. Humas, menurutnya, harus berfungsi sebagai pusat komando narasi, bukan sekadar penyampai klarifikasi.

Kerangka komunikasi yang ia tawarkan mencakup transformasi kultur organisasi, penguatan empati dalam komunikasi publik, pemahaman relasi media, serta pemanfaatan social listening melalui pemantauan media.

Dalam praktiknya, humas dituntut bergerak dari posisi pasif menjadi proaktif: dari menunggu arahan menjadi mampu membaca situasi, dari sekadar menjawab menjadi mengelola ekspektasi, hingga dari klarifikasi menuju pembangunan kepercayaan.

“Humas harus proaktif,” ujarnya menegaskan.

Selain itu, Benny menekankan pentingnya komunikasi kepemimpinan sebagai proses dinamis untuk membangun makna bersama, menumbuhkan kepercayaan, dan menggerakkan organisasi.

Kopdar Humas Imigrasi merupakan agenda tahunan yang digelar fungsi komunikasi publik Direktorat Jenderal Imigrasi. Kegiatan ini dihadiri ratusan kepala kantor imigrasi dan rumah detensi dari seluruh Indonesia, menjadi ruang konsolidasi strategi komunikasi di tengah tekanan perubahan zaman.