Hotline Redaksi: 0817-21-7070 (WA/Telegram)
Editorial

Jangan Paksa Orang Mengikuti Jam Kita

×

Jangan Paksa Orang Mengikuti Jam Kita

Sebarkan artikel ini
Jangan Paksa Orang Mengikuti Jam Kita

Suara-Pembaruan.com — Jangan Paksa Orang Mengikuti Jam Kita

Ada kalanya kita merasa kesal bekerja dengan orang yang jamnya berbeda dengan jam kita.

Kita datang dengan proyek. Rencana sudah selesai. Target sudah ditetapkan. Anggaran tersedia. Bahkan presentasi sudah dibuat sedemikian rupa, seolah-olah dunia tinggal menekan tombol start.

Tapi tidak terjadi apa-apa.

Email belum dijawab. Keputusan belum turun. Order belum datang. Pertemuan pertama menghasilkan pertemuan kedua, dan pertemuan kedua menghasilkan kalimat yang kurang lebih sama: kita bertemu lagi minggu depan.

Lalu kita melihat jam.

Dan mulai bertanya: mengapa mereka begitu lambat?

Barangkali masalahnya bukan pada mereka.

Barangkali masalahnya pada jam yang kita bawa.

Kita hidup dalam kebudayaan yang semakin mengagungkan kecepatan. Cepat bekerja, cepat mengambil keputusan, cepat merespons, cepat tumbuh, cepat menghasilkan. Bahkan orang yang berpikir terlalu lama kadang dianggap tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan.

Kecepatan telah menjadi semacam ukuran moral.

Yang cepat dianggap baik. Yang lambat dianggap bermasalah.

Padahal waktu manusia tidak sesederhana itu.

Ada masyarakat yang menganggap pekerjaan dimulai ketika agenda sudah jelas. Ada yang menganggap pekerjaan baru dimulai ketika hubungan sudah terbentuk. Ada yang membutuhkan angka dan dokumen. Ada pula yang terlebih dahulu ingin tahu: siapa orang yang duduk di hadapannya?

Bagi kita, percakapan panjang sebelum bisnis mungkin terasa seperti pemborosan.

Bagi mereka, percakapan itulah bisnis.

Mereka sedang mengukur sesuatu yang tidak tercantum dalam proposal: apakah kita dapat dipercaya.

Mereka melihat cara kita mendengarkan. Cara kita memperlakukan orang. Cara kita berbicara tentang mitra yang tidak hadir. Cara kita menghadapi perbedaan pendapat.

Mungkin mereka tidak sedang memperlambat pekerjaan.

Mereka sedang memastikan dengan siapa mereka akan berjalan.

Di situlah persoalan komunikasi lintas budaya menjadi menarik. Kita sering mengira perbedaan ritme sebagai perbedaan kemampuan.

Kita mengatakan: mereka tidak efisien.

Mereka mungkin mengatakan: kita terlalu tergesa-gesa.

Kita merasa mereka tidak profesional.

Mereka mungkin merasa kita tidak cukup menghargai hubungan.

Padahal keduanya bisa saja menginginkan hal yang sama.

Hanya saja, mereka mempunyai jalan yang berbeda untuk sampai ke sana.

Ada sebuah gagasan dalam komunikasi lintas budaya yang sederhana tetapi penting: pacing then leading.

Pacing berarti mengikuti ritme terlebih dahulu.

Bukan menyerah kepada ritme orang lain. Bukan pula membuang seluruh cara kerja yang kita miliki.

Pacing adalah kesediaan untuk masuk sebentar ke dunia orang lain, sebelum meminta mereka masuk ke dunia kita.

Jika kepercayaan harus dibangun lebih dahulu, bangunlah kepercayaan.

Jika mereka perlu mengenal kita, beri mereka kesempatan mengenal.

Jika keputusan harus dibicarakan dengan beberapa orang, jangan segera menyebutnya sebagai birokrasi.

Bisa jadi mereka sedang mencari rasa aman.

Kita sering datang membawa solusi dengan keyakinan bahwa karena solusi kita baik, orang lain akan segera menerimanya.

Tetapi manusia bukan mesin.

Proposal tidak otomatis menghasilkan persetujuan. Data tidak selalu menghasilkan keputusan. Logika tidak selalu menghasilkan kepercayaan.

Di antara semua itu ada manusia.

Dengan ingatan, pengalaman, kecemasan, harga diri, kebiasaan dan kebudayaannya.

Karena itu, memimpin tidak selalu berarti berada di depan.

Kadang-kadang pemimpin yang baik justru bersedia berjalan di samping orang lain terlebih dahulu.

Setelah ritmenya bertemu, barulah ia bisa mengajak.

Bagaimana kalau proses ini kita sederhanakan?

Bagaimana kalau tiga tahap kita jadikan dua?

Bagaimana kalau keputusan yang biasanya membutuhkan dua minggu dapat kita selesaikan dalam tiga hari?

Ajakan semacam itu akan terdengar berbeda ketika datang dari seseorang yang sudah dipercaya.

Argumennya mungkin sama.

Tetapi telinga yang mendengarnya sudah berbeda.

Inilah hal yang sering dilupakan oleh orang yang terlalu percaya pada efisiensi.

Efisiensi bukan hanya soal memangkas waktu.

Ada waktu yang tampaknya hilang, tetapi sesungguhnya sedang dipakai untuk membangun sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan.

Kita bisa menghemat tiga hari dalam sebuah negosiasi, tetapi kehilangan hubungan untuk tiga tahun.

Sebaliknya, kita mungkin menghabiskan tiga minggu untuk saling mengenal, tetapi kemudian bekerja bersama selama sepuluh tahun tanpa banyak persoalan.

Di kantor pun persoalannya serupa.

Seorang atasan ingin semua orang bergerak dengan kecepatannya. Ia lupa bahwa anak buahnya tidak hidup dengan jam yang sama.

Ada orang yang berpikir sambil berbicara. Ada yang harus diam terlebih dahulu baru menemukan jawaban.

Ada orang yang berani mengambil keputusan dengan informasi separuh. Ada yang baru tenang setelah mendengar lima pendapat.

Tidak selalu salah satu lebih baik.

Mereka hanya berbeda.

Masalah sebenarnya dimulai ketika kita menganggap jam kita sebagai satu-satunya jam yang benar.

Padahal dunia tidak pernah mempunyai satu jam.

Ada jam yang digerakkan oleh deadline.

Ada jam yang digerakkan oleh hubungan.

Ada jam yang digerakkan oleh tradisi.

Ada jam yang baru bergerak setelah kepercayaan tumbuh.

Dan kadang-kadang, jam yang terakhir itu justru menghasilkan perjalanan yang paling panjang.

Sebab setelah percaya, banyak hal menjadi sederhana.

Telepon cukup sekali.

Pesan cukup satu kalimat.

Kesepakatan tidak perlu dijelaskan berkali-kali.

Orang sudah tahu siapa kita dan untuk apa kita datang.

Maka, ketika suatu hari kita berhadapan dengan seseorang yang menurut kita terlalu lambat, mungkin kita tidak perlu segera bertanya:

“Kenapa mereka tidak mengikuti cara kita?”

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apa yang mereka perlukan sebelum mereka bersedia bergerak?”

Pertanyaan itu kecil.

Tetapi ia mengubah posisi kita.

Dari orang yang menuntut menjadi orang yang memahami.

Dari orang yang ingin memimpin menjadi orang yang terlebih dahulu belajar membaca keadaan.

Sebab memimpin manusia tidak selalu dimulai dengan menunjukkan arah.

Kadang dimulai dengan berjalan beberapa langkah mengikuti mereka.

Bukan karena kita tidak tahu jalan.

Melainkan karena kita tahu bahwa perjalanan bersama tidak bisa dimulai dengan memaksa orang lain menggunakan jam kita.

Kita samakan dulu waktunya.

Kita dengarkan dulu ritmenya.

Kita berjalan bersama.

Barulah, ketika langkah sudah seirama, kita berkata:

“Sekarang, mari kita berjalan lebih jauh.”

Mungkin itulah arti pacing then leading yang paling sederhana.

Bukan membuat orang mengikuti jam kita.

Melainkan menemukan waktu yang bisa kita bagi bersama.

Sebab dalam kerja sama, yang paling penting barangkali bukan siapa yang paling cepat sampai.

Melainkan apakah ketika sampai di tujuan, kita masih berjalan bersama.