Capai Aset 78 Miliar, BPR Central Pitoby Optimis Berkembang di Tengah Tantangan Pandemi dan Digitalisasi – Suara-Pembaruan.com

  • Whatsapp
Capai Aset 78 Miliar, BPR Central Pitoby Optimis Berkembang di Tengah Tantangan Pandemi dan Digitalisasi - Suara Pemerintah


SuaraPemerintah.ID – Mulai beroperasi sejak 10 Januari 2005, Bank Central Pitoby menjadi salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang terus mengalami pertumbuhan di tengah berbagai tantangan. Berkedudukan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bank Central Pitoby termasuk tiga BPR terbesar dari 12 BPR yang ada di NTT.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama Bank Central Pitoby Hendrika Thionardi, S.E., mengungkapkan bahwa Bank Central Pitoby mengalami pertumbuhan 10 persen hingga 12 persen tiap tahun. Bank Central Pitoby telah mencatatkan aset hingga Rp 78 miliar hingga saat ini.

“Setiap tahun Bank Central Pitoby bertumbuh 10 hingga 12 persen per tahun. Memang di tiga tahun terakhir mengalami penurunan dengan pertumbuhan sekitar 7,25 persen. Tapi kami optimis ke depan bisa terjadi kenaikan pertumbuhan. Bukan hanya dari segi aset tapi juga dari segi produk dan pelayanan. Pertumbuhan ini diharapkan bisa seimbang sehingga pencapaian rasio kesehatan bank bisa tercapai,” ungkap Rika, saat wawancara virtual pada Senin (19/4) lalu.

Seperti halnya perbankan umum, BPR Central Pitoby tidak banyak berbeda dalam memberikan produk dan layanan seperti produk simpanan, deposito, dan yang paling utama adalah pembiayaan kredit. Kredit yang diberikan untuk membantu pembiayaan modal kerja, investasi, dan kebutuhan konsumtif masyarakat. Perbedaannya adalah dari segi fasilitas dan intesitas pelayanan yang diberikan.

Dari segi nasabah, BPR Central Pitoby lebih banyak melayani nasabah dari kelompok UMKM dari sektor perdagangan, developer konstruksi, dan sebagian di sektor pertanian.

“Nasabah sebagian besar adalah UMKM. Nasabah kredit paling banyak untuk pembiayaan modal kerja. Hingga 31 Maret, kami telah mencatat total kredit ada sekitar Rp 55 miliar dari aset Rp 78 miliar. Total simpanan di Bank Central Pitoby saat ini ada sekitar Rp 44 miliar,” tambah Rika.

Rika juga mengungkapkan di tengah munculnya tantangan pandemi COVID-19, Bank Central Pitoby mampu survive meskipun ada dampak penurunan. Dampak penurunan tersebut terjadi di awal pandemi karena masyarakat yang masih trauma dan berimbas pada penurunan aktifitas perekonomian.

“Recovery perekonomian di Kupang, NTT, termasuk cepat saat pandemi. Ini karena NTT sendiri tidak terlalu fokus di sektor pariwisata yang paling besar mengalami dampak pandemi. Di Kupang sektor ekonomi terbesar di perdagangan dan jasa lainnya, seperti konstruksi. Ditambah progam pemulihan ekonomi dari pemerintah dan dukungan OJK, nasabah kami bisa beradaptasi dan survive,” jelas Rika.

Selain itu, selama pandemi, Bank Central Pitoby telah melakukan berbagai usaha untuk membantu nasabah agar tetap bisa survive. Misalnya saja program edukasi yang dilakukan secara konsisten kepada masyarakat di Kupang agar bisa menjalankan aktifitas perekonomian dengan tetap menjalakan protokol kesehatan.

“Saat program rekstrukturisasi dikeluarkan pemerintah, Bank Central Pitoby juga melakukan hal tersebut. Hanya saja kami tidak melakukan penundaan pembayaran, melainkan menambah jangka waktu kredit sehingga memperkecil jumlah angsuran nasabah. Dengan begitu angsuran lebih ringan tanpa berlarut menunda pembayaran,” tambah Rika.

Tetap Optimis Menghadapi Persaingan dan Tantangan Digitalisasi

Rika mengatakan Bank Central Pitoby juga tetap optimis di tengah tantangan digitalisasi dan makin ketatnya persaingan dari kompetitor. Sebagai BPR, meski muncul banyak kompetitor dengan layanan yang sama, tapi Bank Central Pitoby terus menciptakan diversifikasi produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Munculnya persaingan seperti layanan fintech, bank umum, koperasi dengan teknologi dan layanan yang lebih cepat dan mudah merupakan tantangan persaingan yang ketat untuk BPR. Tapi semua ada kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Bank Central Pitoby selalu memunculkan difersivikasi produk dan peningkatan pelayanan bagi nasabah. Itu kelebihan yang harus kita tingkatkan,” ujar Rika.

Selain itu, Rika juga sangat mementingkan peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Bank Central Pitoby. Rika tengah menggenjot SDM yang berkualitas dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bank Central Pitoby harus menjadi BPR yang up to date terhadap informasi sehingga mampu bersaing dengan kompetitor yang memiliki kualitas dan teknologi yang lebih canggih.

Bank Central Pitoby saat ini sudah memiliki lebih dari 250 nasabah yang loyal menggunakan berbagai produk dan layanan BPR, terutama layanan kredit modal kerja. Dengan peningkatan produk, layanan, SDM, dan teknologi yang lebih canggih, Bank Central Pitoby akan terus ekspansi hingga bisa menyentuh masyarakat di wilayah pelosok, khususnya di Kupang, NTT.

“Harapan kami BPR bisa makin berkembang dan dimanfaatkan masyarakat seluas-luasnya. Sehingga banyak masyarakat yang terbantu secara pembiayaan dan perekonomian daerah pun semakin meningkat. BPR harus dikenalkan dan masyarakat harus tahu adanya BPR, jangan sampai masyarakat terjebak rentenir yang akan menyusahkan,” harap Rika.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *