Internasional

Mewaspadai Peningkatan Kasus Demam Berdarah di Musim Kemarau

139
×

Mewaspadai Peningkatan Kasus Demam Berdarah di Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini


Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan memprihatinkan apa yang terjadi tahun lalu terkait DBD.

Ia mengatakan, sepanjang tahun 2022 terdapat 1.236 kematian akibat demam berdarah di Indonesia dengan 63 persen kematian terjadi pada anak berusia 0-14 tahun.

Kasus kematian terbanyak akibat DBD terjadi di Jawa Barat (305), Jawa Tengah (260), dan Jawa Timur (151). Tingkat kematian kasus atau case fatality rate DBD di Indonesia sebesar 0.86 persen dari total 143.184 kasus demam berdarah di Indonesia pada tahun 2022.

Nyamuk aedes aegypti tampak di bawah mikroskop di fasiitas milik Badan Lingkungan Hidup Singapura, 19 Agustus 2020. (Foto: Reuters)

Daerah dengan tingkat kematian diatas 1 persen berada di Sumatra Selatan, disusul Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Mungkin masa pertolongannya ya, membawanya terlambat, kemudian pertolongan di faskes (fasilitas kesehatan) mungkin juga kita optimalkan pelayanannya,” kata Imran Pambudi dalam jumpa pers Peringatan ASEAN Dengue Day secara daring di kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Senin (12/6).

Kasubdit TB Kemenkes, dr. Imran Pambudi, MPHM.foto screenshot

Kasubdit TB Kemenkes, dr. Imran Pambudi, MPHM.foto screenshot

ASEAN Dengue Day (ADD) atau Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN diperingati setiap 15 Juni oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Peringatan itu bertujuan diantaranya untuk mengingatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan implikasi negatif dengue bagi masyarakat, keluarga dan individu. Di Indonesia, peringatan ADD mengangkat tema Wujudkan Indonesia Bebas Dengue.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga minggu ke 22 tahun 2023, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 35.694 dengan total 270 kematian.

Nyamuk-nyamuk Aedes aegypti yang dikembangbiakkan di insektarium Fakultas Kedokteran UGM. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Nyamuk-nyamuk Aedes aegypti yang dikembangbiakkan di insektarium Fakultas Kedokteran UGM. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Gigitan Nyamuk Berpotensi Meningkat Saat Musim Kemarau

Disaat Indonesia memasuki musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino, muncul kekhawatiran akan meningkatnya kasus demam berdarah. Imran Pambudi menjelaskan berdasarkan laporan kasus DBD sejak tahun 1968, kasus DBD cenderung mengalami kenaikan tinggi saat musim kemarau.

“Kita ternyata ada penelitian bahwa nyamuk itu semakin ganas kalau dia berada di suhu yang panas. Jadi frekuensi dia menggigit itu akan meningkat 3 sampai 5 kali lipat pada saat suhunya itu meningkat di atas 30 derajat,” kata Imran.

Ia mengatakan, berkurangnya curah hujan pada musim kemarau akan menyebabkan tempat-tempat yang terdapat genangan air — seperti ban bekas, kaleng, dan gelas minuman plastik di tempat-tempat pembuangan sampah — tidak terbersihkan oleh air hujan. Tempat-tempat itu, menurutnya, akan menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, penyebab demam berdarah.

“Tahun ini saya kira kita perlu waspada karena kita sekarang masuk ke El Nino, hujannya kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak, sehingga genangan air itu tidak tergantikan, ini yang kita harus mewaspadai, nyamuknya tambah ganas, kemudian breeding place-nya, tempat untuk berkembang nyamuk juga ada,” jelas Imran.

Puncak musim kemarau yang disebabkan El Nino prakirakan terjadi pada Juli, Agustus dan September 2023.

Tanda Bahaya Untuk Segera Ke Rumah Sakit

Ketua Divisi Infeksi dan Pedatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSCM-FKUI, Mulya Rahma Karyanti menjelaskan ada delapan gejala infeksi dengue pada manusia diantaranya demam mendadak yang tinggi selama 2 hingga 7 hari, pusing/sakit kepala, mual kadang muntah, sakit perut, perdarahan berupa bintik-bintik merah, mimisan, gusi berdarah, muntah darah dan buang air besar (BAB) berdarah.

Fogging yang tidak tepat justru berpotensi membuat nyamuk resisten insektisida (foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Fogging yang tidak tepat justru berpotensi membuat nyamuk resisten insektisida (foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Sebagai langkah pertolongan pertama pada saat demam, menurutnya, penderita dapat dikompres dengan air hangat selama 15-30 menit di lipat ketiak atau lipat paha, dan bukan di bagian jidat (kepala). Ia memperingatkan untuk tidak membungkus penderita dengan baju dan selimut berlapis-lapis, serta jangan mengompresnya dengan air dingin atau alkohol. Penderita juga dianjurkan untuk mendapat obat penurun demam dan minum banyak untuk mencegah dehidrasi atau mengganti cairan yang hilang.

Mulya mengatakan, penderita perlu dibawa ke rumah saki, jika pada hari ketiga menderita demam, penderita terlihat lemas dan tidur terus, serta mengalami muntah-muntah, sakit perut hebat, dan perdarahan.

“Tanda bahaya lain adalah gelisah, kulit tangan kaki dingin dan lembab, buang air kecil yang jarang, dan kejang,” ungkap Mulya.

Mulya mengatakan, untuk pencegahan penularan DBD, masyarakat dianjurkan menerapkan3M Plus, yaitu menguras, menutup dan menimbun genangan air 1 minggu sekali, termasuk bak mandi.

Metode 3M Plus bertujuan untuk menghilangkan genangan air yang digunakan nyamuk untuk bertelur dan berkembangbiak. [yl/ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *