Internasional

Semangat Muslim di Washington DC Berkurban Tetap Tinggi di Tengah Inflasi

131
×

Semangat Muslim di Washington DC Berkurban Tetap Tinggi di Tengah Inflasi

Sebarkan artikel ini


Umat Islam di Washington, DC dan sekitarnya merayakan Iduladha. Mereka salat di masjid-masjid atau lapangan yang disewa.

Di Imaam Center, masjid diaspora Indonesia di Silver Spring, Maryland, panitia menggelar tiga kali salat untuk menampung semua jemaah. Presiden Indonesian Muslim Association in America (IMAAM) Arif Mustofa mengatakan, “Ditargetkan setiap shift (salat) antara 500 dan 600 (jemaah).”

Jemaah Imaam Center beragam. Bukan hanya dari Indonesia tetapi juga dari berbagai negara di dunia.

Nduie Jallow adalah Muslim asal Gambia. Ia mengajak seluruh anggota keluarganya, suami dan lima anak, salat di Imaam Center. “Alhamdulillah. Maa syaa Allah. Kami bersyukur pada Allah dan berharap tahun depan bisa merayakan Iduladha lagi.”

Jemaah asal Gambia, Nduie Jallow (kanan) dan anaknya, salat Iduladha di Masjid Imaam Center. (foto: VOA/Karlina)

Pandemi, menurut Jallow, membuat banyak orang terbebani, terutama secara finansial. Apalagi kini Amerika dilanda inflasi tinggi dan tidak mau turun ke tingkat yang diharapkan. Jallow mengaku terimbas pandemi dan kesulitan ekonomi. Namun, ia tetap membeli hewan kurban, domba, dan menyerahkan urusan pendistribusiannya untuk masyarakat lokal. “Tak ada yang berat untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah,” katanya.

“(Harganya) sangat tinggi bagi orang yang harus berkurban. Tetapi, Allah selalu membantu kita,” kata Jallow.

Jemaah lain, Marfuah Yasir, harus cuti kerja demi merayakan Iduladha dan salat berjamaah.

Marfuah Yasir harus cuti untuk salat Iduladha (dok: pribadi)

Marfuah Yasir harus cuti untuk salat Iduladha (dok: pribadi)

“Di sini tidak mudah ya ternyata. Jauh-jauh hari kita harus izin dengan bos karena tidak semua di sini boleh untuk izin menjalankan salat kayak gini karena waktunya adalah waktu jam kerja, waktu weekday. Jadi, tidak semudah seperti biasanya,” tukasnya.

Merujuk ke pesan yang disampaikan khatib dalam salat yang ia ikuti, soal keikhlasan dan pengorbanan, Marfuah mengatakan, imbas inflasi dan situasi ekonomi seharusnya tidak menghalangi orang berkurban. Ia menyerahkan sapi kurban di daerah asalnya, Ponorogo.

“Kalau kita menghitungnya inflasi tinggi, whatever, kita mah belum ikhlas,” tambah Marfuah.

Tahun ini, IMAAM menyerahkan 75 kambing kurban untuk dikelola di Indonesia. Selain itu, kata Arif, 20 hewan kurban akan disembelih sendiri oleh mereka yang berkurban.

“Yang unik sekarang ya ini. Kami memberi kesempatan kepada warga IMAAM ber-experience,” jelas Arif.

Presiden Imaam Center Arif Mustofa: "Semangat berkurban tetap tinggi walau inflasi tinggi."(foto: VOA/Karlina)

Presiden Imaam Center Arif Mustofa: “Semangat berkurban tetap tinggi walau inflasi tinggi.”(foto: VOA/Karlina)

Penyembelihan kurban akan dilakukan sehari setelah pelaksanaan salat Eid, langsung di peternakan yang kelak menjadi mitra usaha IMAAM. Lokasi itu juga dipilih sebagai tempat piknik komunitas Indonesia untuk merayakan Iduladha dan menikmati bagian kurban mereka. Inflasi dan beban ekonomi, menurut Arif, sangat memengaruhi kehidupan jemaah tetapi terkait kurban,

“Mungkin semangatnya untuk melakukan hewan kurban, ini jadi sunah muakad. Tapi alhamdulillah semangat tidak luntur walaupun inflasi tinggi, kekhawatiran tinggi,” imbuhnya.

Selain membagikan daging kurban ke masyarakat di sekitar Washington DC, jemaah Imaam Center juga mengirim kurban ke Palestina. [ka/ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *