Refleksi dari Kisah Cupu Manik Astagina

  • Whatsapp
Refleksi dari Kisah Cupu Manik Astagina
banner 468x60


Bacaan Lainnya
banner 300250

Jakarta, Bumntrack.co.id – Dewi Indradi yang merupakan istri dari Resi Gotama, sering merasa kesepian karena bersuamikan seorang brahmana tua yang lebih banyak bertapa. Sehingga, akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya. Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia, yang sedemikian rapi, sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama maupun oleh ketiga putranya, yang semakin beranjak dewasa.

Seperti umumnya yang terjadi dalam situasi selingkuh, Batara Surya memberikan pusaka kedewataan berupa Cupu Manik Astagina, kepada kekasihnya. Ketika memberikan Cupu Manik itu, Bhatara Surya mewanti-wanti agar benda itu jangan pernah sekalipun ditunjukkan, apalagi diberikan kepada orang lain, walaupun itu putra atau putrinya sendiri. Kalau pesan itu sampai dilanggar, akan terjadi hal hal yang tak diharapkan, karena Cupu Manik Astagina ini merupakan pusaka kedewataan yang menurut ketentuan dewata, tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah.

Kelebihan Cupu Manik Astagina adalah kemampuannya dalam membuat seseorang yang menggunakannya seolah-olah sedang dibawa berkelana, berkeliling mayapada, menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandang gunung kebiruan, hutan menghijau, sungai berkelok, mega berarakan dan langit biru menyejukkan. Seperti dunia maya yang ditimbulkan oleh internet saat ini.

Namun, suatu hari, ketika Dewi Indradi sedang asyik mengamati keindahan isi cupu tersebut, putri sulungnya (Anjani) memergokinya, dan tentu saja amat ingin mengetahui benda yang amat menarik itu. Terpaksalah Dewi Indradi meminjamkannya, dengan syarat jangan sampai diketahui oleh adik-adiknya.

Namun  akhirnya,  Anjani  tidak  tahan untuk  tidak  memamerkannya  kepada  kedua  adiknya, Guwarsa dan Guwarsi. Akibatnya Cupu Manik Astagina itu menjadi rebutan, sehingga terjadi pertengkaran dan keributan antara ketiga kakak beradik itu. Anjani menangis dan melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosional Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil, menganak emaskan Anjani dengan memberi hadiah yang mereka tidak dapatkan.

Tuduhan kedua putranya ini membuat Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera saja ia memanggil Anjani dan Dewi Indradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Anjani menyerahkan Cupu Manik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwa benda itu diperoleh dan dipinjam dari ibunya.

Sementara, Indradi diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kedewataan tersebut. Dewi Indradi dihadapkan pada buah simalakama. Berterus terang, akan membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya.

Sikap membisu Indradi membuat Resi Gotama marah, yang lalu bersupata (mengutuk) bahwa sikap diam Indradi itu bagaikan sebuah patung batu. Karena pengaruh kesaktiannya, dalam sekejap sang Dewi benar-benar berubah wujud menjadi batu sebesar manusia yang mirip sebuah tugu.

Menghadapi keterlanjuran itu, Sang Resi segera mengangkat tugu batu tersebut dan dilemparkannya sejauh mungkin, dan ternyata jatuh di Taman Argasoka dekat kerajaan Alengka. Kutukan ini akan berakhir kelak bila batu tersebut digunakan untuk membela kebenaran, dengan cara dihantamkan ke kepala seorang raksasa atau angkara murka.

Meskipun kehilangan ibu, ketiga anak Resi Gotama tetap saja memperebutkan Cupu Astagina. Resi Gotama pun membuang benda itu jauh-jauh. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cupu Astagina jatuh di sebuah tanah kosong dan berubah menjadi dua buah telaga bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala.

Guwarsi dan Guwarsa begitu sampai di dekat telaga itu segera menceburkan diri karena mengira cupu yang mereka cari jatuh ke dalamnya. Seketika itu juga wujud keduanya berubah menjadi wanara atau kera. Sementara itu Anjani yang baru tiba merasa kepanasan. Ia pun mencuci muka menggunakan air telaga tersebut. Akibatnya, wajah dan lengannya berubah menjadi wajah dan lengan kera.

Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa menghadap Gotama dengan perasaan sedih. Ketiganya pun diperintahkan untuk bertapa menyucikan diri. Anjani bertapa di Telaga Madirda. Kelak ia bertemu Batara Guru dan memperoleh seorang putra bernama Hanoman. Sementara itu Guwarsi dan Guwarsa yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa, masing-masing bertapa di Hutan Sunyapringga.

Ketiga anak Gotama tersebut berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sesuai petunjuk ayah mereka, Anjani bertapa dengan gaya berendam telanjang seperti seekor katak, Subali menggantung di dahan pohon seperti seekor kelelawar, sedangkan Sugriwa mengangkat sebelah kakinya seperti seekor kijang.

Cerita Cupu Manik Astagina oleh banyak pihak dianggap wujud kearifan timur dalam meramalkan dan menyikapi masa depan. Ketika cerita ini disusun, belum ada dunia digital seperti yang kita kenal sekarang ini. Tetapi, kearifan timur, melalui cerita wayang, telah mampu melakukan prediksi atas perilaku manusia ketika terjadi situasi “keberlimpahan” informasi.

Dengan sanepo (ibarat) di atas, menjadi jelas di sini bahwa “keberlimpahan” dapat membuat  manusia turun  derajatnya  menjadi  “setara kera”.  Memiliki “rasa  cukup”  bagi manusia  ternyata  tidak semudah yang diucapkan. Tidak heran bila para ahli menyatakan bahwa dunia digital telah “merampas sukma”.

Mari kita lihat dampak dunia digital bagi kita semua. Hari-hari terakhir ini, banyak pihak menyatakan telah terjadi demokratisasi Informasi. Setiap orang, berhak membuat dan menyebarkan berita. Kita sekarang mengalami “banjir Informasi”

Rasa ingin tahu, yang dulu dibanggakan oleh ras manusia, belakangan telah bergabung dengan naluri keserakahan, sehingga otak manusia dipenuhi oleh berbagai informasi, yang sayangnya sebagian besar sebetulnya tidak begitu diperlukan oleh yang bersangkutan. Manusia terdorong memerhatikan banyak hal, yang dulu bahkan merupakan wilayah private, tabu -“jangan bilang siapa siapa”.

Impuls sesaat telah membuat otak terus menerus diisi dengan beragam informasi. Banjir perhatian. Banjir Informasi ini, juga menciptakan lebih banyak alternatif solusi bagi manusia dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Pada mulanya, hal ini meningkatkan “rasa mampu” melakukan control terhadap dunia. Padahal kenyataannya, semakin beragam alternatif yang tersedia, menjadikan kita terangsang untuk lebih banyak membuat keputusan.

Hal-hal kecil yang dulu kita terima apa adanya, sekarang memiliki lebih banyak pilihan. Terjadi banjir keputusan.  Disadari atau tidak, hal ini telah menguras energi yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Bayangkan saja, computer Anda dipenuhi oleh banyak data dan berbagai program yang jalan bersamaan, pasti suatu saat akan ngehang juga. Mungkin itu sebabnya, kontemplasi menjadi barang langka akhir akhir ini. Membaca banyak hal, tanpa sempat mengendapkan, tidak akan menghasilkan ke-arif-an.

Kembali kepada cerita Cupu Manik, menarik juga untuk  meneladani upaya ketiga anak Resi Gotama agar mereka dapat menjadi manusia lagi, mereka bertapa.

Dalam perspektif sekarang, di bulan Ramadan ini mari kita tidak sekadar berpuasa, tetapi juga “berpantang gadget” mengendapkan semua informasi dan pengetahuan, melakukan perenungan mendalam tentang makna kehadiran ras manusia di muka bumi ini.

Selamat menjalani puasa

Ditulis Oleh:

Bambang Adi Subagiyo Consultant & Coach at Decision Science Department PPM Manajemen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *