Covid-19 dan Meningkatnya Prevalensi Hipertensi

  • Whatsapp
Covid-19 dan Meningkatnya Prevalensi Hipertensi


Banyak orang masih belum menyadari bahaya hipertensi atau penyakit darah tinggi. Hipertensi, yang juga disebut the silent killer, sering terjadi tanpa keluhan dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi.

Bacaan Lainnya

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen. Menurut Yayasan Jantung Indonesia (YJI), hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. 

Kondisi ini tidak hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia tapi juga milenial, yakni generasi yang lahir antara tahun 1981 dan 1996. Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat, stres, dan kemajuan teknologi yang mengurangi aktivitas fisik.

Stres dipicu oleh banyak faktor seperti tuntutan pekerjaan, selain juga pandemi COVID-19. Studi Blue Cross Blue Shield Association menemukan bahwa 92 persen milenial menganggap COVID-19 telah berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka.

Hipertensi patut diwaspadai sebagai komorbid atau penyakit penyerta teratas yang mengikuti penderita COVID-19. Menurut data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per 1 Juni 2021, tiga besar komorbid tertinggi yang ditemukan pada pasien COVID-19 adalah hipertensi (50 persen), Diabetes Melitus (36.6 persen), penyakit jantung (17,4 persen). Jangan lupa, hipertensi adalah kontributor utama pada penyakit jantung, stroke dan penyakit ginjal kronik.

Pentingnya Gaya Hidup Sehat
Mengetahui adanya peningkatan prevalensi hipertensi dan ancaman penyakit COVID-19, pemantauan tekanan darah secara teratur dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk memungkinkan deteksi dini dan pengelolaan penyakit yang lebih baik.

Esti Nurjadin, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia juga menegaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang tidak hanya bisa menyerang mereka yang lanjut usia tetapi juga bisa menyerang generasi muda atau milenial. 

“Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung ini berhubungan erat dengan pola atau gaya hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, rendahnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula garam dan lemak,” ungkapnya seperti dikutip dari keterangan tertulis dari OMRON kepada MALE Indonesia.

“Yang paling utama selain menghindari pola hidup tidak sehat adalah kita juga melalukan pengukuran tekanan darah secara rutin sehingga bisa mencegah atau setidaknya dan mengendalikan hipertensi,” tambah Esti Nurjadin.

Ahli Jantung dan Pemerhati Hipertensi Dr. Badai Bhatara Sp.JP, FIHA, MM menambahkan, hipertensi akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sampai dua kali, risiko gagal jantung satu setengah kali dan stroke dua koma enam kali lipat.

“Kita harus menumbuhkan kesadaran diri untuk melakukan cek kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin, dan mencegah serta mengendalikan hipertensi dengan memodifikasi gaya hidup seperti rajin berolahraga juga membatasi asupan garam,” ujar Dr. Badai yang juga staf di divisi prevensi dan rehabilitasi, departemen kardiologi dan kedokteran vaskular, FK Unpad.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *