Headline

Kisah 19 Pendekar Pena Dari Perguruan Sinar Harapan ke Suara Pembaruan

129
×

Kisah 19 Pendekar Pena Dari Perguruan Sinar Harapan ke Suara Pembaruan

Sebarkan artikel ini
Suara-Pembaruan.com — Kisah 19 Pendekar Pena.┬áDari Perguruan Sinar Harapan– Suara Pembaruan,
“ParaTonaas atau Kesatria Gagah Berani. ..”
Quote:
Kewartawanan memang merupakan profesi. Tapi, wartawan tetap saja cuma buruh.
(Albert Kuhon)
++
Ada kegembiraan pada Selasa petang yg basah, 28 November 2023.
Sahabat kita Dr Ir Albert Kuhon MS SH memberikan buku suntingannya, sambil ngopi bareng. Tajuknya:
“Kami (mantan) Wartawan
Dari Sinar Harapan Sampai Suara Pembaruan.”
Buku ini disiapkan selama dua tahun, walaupun proses pengerjaan baru intens tiga bulan belakangan.
“Ini masih anget. Baru tiga hari ini keluar percetakan,” kata Albert sembari senyum, mengelus buku setebal 346 halaman dan memberikan kepada saya dan Yanto Soegiarto.
Saya baca selintas. Isinya memukau. Ditulis oleh 19 wartawan. Diperkaya dengan lintasan sejarah pers semasa orde lama, orde baru hingga orde reformasi. Tak luput juga dikisahkan konflik internal di perusahaannya.
Pendekar:
19 Wartawan ini merupakan pendekar pena. Dalam bahasa daerah asal Albert Kuhon disebut Tonaas. Maknanya gagah berani. Paling tidak merupakan pendekar gagah berani dari Perguruan Sinar Harapan– Suara Pembaruan.
Liputan Internasional:
Dari buku ini kita antara lain dapat mengikuti pengalaman Albert selaku Kepala Biro Suara Pembaruan di New York. Sebagai pendekar pena, Albert menuturkan pengalamannya secara menarik.
Liputannya membentang dari New York, Washington, Florida, Houston, Boston, Los Angeles, Venezuela, Rio de Janeiro, Peru, Yugoslavia. Juga lembaga-lembaga internasional beserta peristiwa besar yang menggetarkan dunia.
Di antaranya perang teluk dan penyanderaan 490 orang di kediaman Dubes Jepang di Peru, pada perayaan Hari Ulang Tahun Kaisar. Tentu juga interaksinya dengan tokoh-tokoh dunia.
Liputan lain yang menarik adalah tentang Zarima. Dari menemui di penjara Amerika hingga satu pesawat ke Jakarta. Liputan eksklusif itu sempat dimuat di Suara Pembaruan.
Namun kemudian pemimpin redaksi mengumumkan di halaman depan bahwa keterlibatan Zarima dalam kasus ekstasi dianggap tidak ada.
Selanjutnya tulisannya tidak boleh dimuat. Albert marah dan kecewa. Kini liputan itu dapat kita baca dalam bentuk buku.
Itu pula yang mungkin mendasari pemikirannya bahwa wartawan tetap saja cuma buruh.
Albert sewaktu bekerja di harian Kompas sempat pula memelopori pembentukan serikat pekerja.
Akibatnya dia dihukum. Setiap hari harus hadir di kantor, tapi tulisannya tidak pernah dipublikasikan selama dua tahun hingga dia pindah ke Suara Pembaruan.
Selain Albert selaku penyunting atau editor, tulisan dari para pendekar kita tidak bikin spoiler atau bocorannya.
Silahkan dinikmati tulisan dari:
1. Sihol Manullang
2. Upa Labuhari
3. Aries Sudiono
4. Putu Suarthama
5. Noverisman Subing
6. Endah Dwi Sotyati
7. Eny Marsoedi
8. Nismar Rumengan
9. Nanan Kembaren
10. Dewi Gustiana
11. Kooswadi
12. Ahmad Ristanto
13. Erry Yulia Siahaan
14. Rully Satriadi
15. Andrew Sunyoto
16. Kristin Samah
17. Pramono R Pramoedjo
18. Syah Sabur
19. Albert Kuhon.
Membaca buku punya keasyikan sendiri. Dan bagi penulisnya sebagaimana kata wartawan pejuang BM Diah, “Buku adalah mahkota bagi seorang wartawan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *